Tomohon, Barta1.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) resmi meluncurkan Program Desa Siaga Bencana di Kelurahan Kinilow dan Kinilow Satu, Kota Tomohon, Rabu (22/4/2026).
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan dalam memitigasi risiko bencana alam di wilayah yang berada dalam zona rawan erupsi gunung api. Program ini sekaligus memastikan masyarakat memiliki kesiapsiagaan tinggi dalam mengamankan aset ketenagalistrikan saat situasi darurat terjadi.
Penetapan lokasi di kaki Gunung Lokon ini merujuk pada rekomendasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara serta selaras dengan mandat Undang-undang RI No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
PLN mengintegrasikan program ini dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 mengenai kota yang berkelanjutan dan poin 13 terkait penanganan perubahan iklim. Selain penguatan fisik, program ini menjadi instrumen vital dalam menjaga stabilitas pasokan energi di kawasan terdampak.
General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, menegaskan peran PLN telah bertransformasi tidak sekadar sebagai penyedia aliran listrik, tetapi juga sebagai garda depan keselamatan publik.
“Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng besar dengan ratusan gunung api aktif, termasuk di Sulawesi Utara. Melalui Program Desa Siaga Bencana ini, PLN berkomitmen memperkuat ketahanan masyarakat sekitar wilayah operasional agar lebih tangguh dan sigap menghadapi potensi risiko bencana,” ujar Usman.
Lebih lanjut Usman menjelaskan, edukasi mengenai keselamatan ketenagalistrikan menjadi materi krusial dalam pelatihan ini untuk menghindari bahaya sengatan listrik saat evakuasi. PLN UID Suluttenggo yang mengelola distribusi energi di tiga provinsi tersebut menyadari bahwa infrastruktur kelistrikan sangat rentan saat bencana alam melanda.
“Kami berharap kolaborasi dengan BPBD dan Basarnas ini dapat meminimalisir risiko kerugian ekonomi, kerusakan jaringan distribusi, maupun dampak sosial yang lebih luas,” tambah dia.
Rangkaian program pelatihan ini dirancang secara komprehensif, mencakup edukasi penyebab bencana hingga pemetaan jalur evakuasi yang presisi. Tak hanya teori, PLN juga membangun infrastruktur fisik pendukung seperti plang titik kumpul dan rambu penunjuk arah permanen di titik-titik strategis Kelurahan Kinilow.
Fokus utama adalah menciptakan sistem manajemen bencana yang terintegrasi antara warga lokal dengan protokol keselamatan kerja PLN. Tim Reaksi Cepat (TRC) PLN UID Suluttenggo bertindak sebagai motor penggerak utama dalam simulasi lapangan guna memberikan keterampilan teknis yang aplikatif.
Perwakilan Tim TRC, Noven Koropit, menjelaskan warga dibekali kemampuan Medical First Responder (pertolongan medis pertama) serta manajemen krisis yang terukur.
“Di Kinilow, kami memastikan setiap warga memahami prosedur evakuasi mandiri dan tidak panik saat sirine peringatan dini berbunyi,” jelas Noven.
Noven menambahkan simulasi yang digelar melibatkan skenario penyelamatan darurat yang melibatkan aset-aset vital di pemukiman.
“Kami memasang rambu bukan sekadar formalitas, tetapi sebagai navigasi hidup dan mati. Simulasi ini adalah kunci agar masyarakat mampu melakukan evakuasi terstruktur tanpa mengabaikan aspek keselamatan dari potensi bahaya kabel listrik yang mungkin terputus saat terjadi guncangan atau erupsi,” tegasnya di sela-sela simulasi.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Tomohon, TNI/Polri, serta Balai Pemantauan Gunung Api, dengan melibatkan sedikitnya 50 perwakilan masyarakat sebagai kader siaga.
Melalui inisiatif ini, Kelurahan Kinilow dan Kinilow Satu kini resmi menjadi garda terdepan desa mitigasi bencana di Kota Tomohon. Sinergi ini diharapkan mampu mewujudkan ekosistem lingkungan yang aman sekaligus menjamin keberlanjutan operasional energi di wilayah Sulawesi Utara. (**)
Editor: Ady Putong
Barta1.Com


Discussion about this post