Manado, Barta1.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Pelatihan Community Organizer 2026 yang berlangsung di Vila Robert, Rabu hingga Jumat (15–17 April 2026). Kegiatan ini diikuti oleh 18 peserta yang merupakan perwakilan dari lembaga anggota WALHI Sulut, organisasi, komunitas, serta jaringan masyarakat.

Selama pelatihan, para peserta dibekali beragam pengetahuan penting, mulai dari penguatan kelembagaan, isu sumber daya alam, hingga dinamika sosial yang berkembang di masyarakat.

Materi-materi tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas peserta dalam mengorganisir Komunitas secara efektif di lapangan.
Salah satu peserta, Sasa Petahiang dari Aliansi Perempuan Indonesia Sulut, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan banyak wawasan baru, khususnya dalam penguatan basis di lapangan.
“Ini menjadi pemantik bagi kami untuk menyusun dan menerapkan berbagai strategi di lapangan. Apalagi dalam proses ini, kami juga saling berbagi pengalaman terkait isu-isu yang ada di Sulut,” ujarnya.
Ia juga menyoroti rencana reklamasi di wilayah Manado bagian utara sebagai salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian serius. Menurutnya, sejumlah pembelajaran dari pelatihan ini akan segera dipraktikkan bersama rekan-rekannya di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kepala Divisi Penguatan Kelembagaan Eksekutif Nasional WALHI, Umbu Wulang Tanaamah Paranggi, menilai bahwa antusiasme peserta selama tiga hari pelatihan sangat tinggi.
“Sebagai fasilitator, saya melihat komitmen dan semangat belajar yang kuat dari para peserta dalam mengikuti seluruh proses pembelajaran bersama ini,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dedikasi peserta yang terus aktif selama pelatihan, serta berharap ilmu yang diperoleh dapat berkontribusi bagi perjuangan keadilan ekologis di Sulut, termasuk perlindungan lingkungan, masyarakat adat, serta kelompok rentan dan marginal.
Direktur Eksekutif WALHI Sulut, Riedel Pitoy, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program penguatan kelembagaan yang diinisiasi oleh WALHI. Program tersebut menyasar berbagai kalangan, termasuk aktivis, mahasiswa, serta organisasi masyarakat.
Menurutnya, pelatihan ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, meningkatkan kapasitas peserta dalam mengorganisir gerakan. Kedua, menjadi bagian dari proses kaderisasi, mengingat gerakan advokasi di Sulut saat ini menghadapi tantangan regenerasi.
“Banyak senior yang masih terus berjuang, sementara kesadaran generasi muda untuk terlibat masih perlu ditingkatkan,” jelasnya.
Riedel menambahkan, peserta mendapatkan berbagai materi penting seperti dasar-dasar pengorganisasian, pemetaan sumber daya alam di Sulut, analisis sosial-politik, pemetaan sosial, hingga strategi advokasi berbasis komunitas.
Selain itu, peserta juga diperkenalkan kembali pada sejarah dan peran WALHI dalam advokasi lingkungan.
Pasca pelatihan, para peserta diharapkan dapat membentuk wadah di bawah naungan WALHI Sulut sebagai ruang kolaborasi, diskusi, dan penguatan gerakan. Mereka juga diharapkan menjadi agen perubahan di komunitas masing-masing.
“Saya berharap teman-teman yang hadir hari ini dapat menjadi motor penggerak di lapangan, sekaligus menjadi kader WALHI Sulut ke depan,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post