Karya: Iverdixon Tinungki
PEMAIN:
PANGAES: Kaki tangan perusahaan tambang pasir besi.
PETROKA: Sahabat Pangaes. Kaki tangan perusahaan tambang pasir besi.
KASILA: Penduduk pulau. Istri John Pargo.
DRETA: Penduduk pulau. Istri Akala.
AKALA: Petani yang sakit-sakitan.
JOHN PARGO: Nelayan, Suami Kasila.
BUMBEKA: Tetua Kampung.
PEMUDA 1: Orang Suruhan Pangaes.
ORANG-ORANG: Para pendukung perusahaan tambang pasir besi.
Drama ini berlangsung di sebuah beranda dan halaman rumah sederhana seorang nelayan di pesisir pantai. Beranda yang terbuat dari tiang-tiang kayu dan bambu. Pembatasnya hanya bentangan bambu yang diikat ke tiang tanpa dinding di bagian bawah. Beberapa peralatan nelayan tergantung di setiap tiang. Kursi kayu dan bangku yang dibuat dari papan serta sebuah meja kayu juga mengisi ruangan itu. Sebuah pintu tampak di tengah dinding yang membatasi beranda dengan rumah bagian dalam. Di samping beranda ada halaman dengan latar belakang semak dan pepohonan hutan. Di halaman ada tempat duduk dari beberapa potongan batang kayu.
BAGIAN SATU:
Di suatu malam. Suasana sunyi yang hanya diisi suara deburan ombak, bunyi jengkrik, dan sesekali terdengar teriakan burung malam tiba-tiba berubah jadi gempar. Beberapa orang yang membawa senter dan obor mendatangi rumah Kasila dan John Pargo. Dari halaman, mereka meneriaki John Pargo untuk keluar dari rumah. Mereka marah karena Kasila dan John Pargo berkeras tak menjual tanahnya kepada perusahaan tambang Pasir Besi.
ORANG-ORANG:
(Ramai penuh emosi)
John Pargo keluar kau…
John Pargo keluar kau…
John Pargo keluar kau.
PANGAES:
Kalau kau tak keluar kami akan membakar rumahmu!
PETROKA:
Jika kau berkeras, kami akan membunuh kalian!
Suasana kian panas dan gaduh oleh suara-suara ancaman.
Kasila, istri John Pargo, beberapa saat kemudian keluar dari rumah dalam keadaan ketakutan menemui orang-orang itu di halaman.
PANGAES:
Kasila, mana John Pargo?
Mana suamimu?
Kasila kian ketakutan dan tak berani memandang orang-orang itu. Ia gugup dan tak bisa menahan berat tubuhnya yang limbung. Ia berusaha duduk dengan gemetar di sebuah batang kayu.
PETROKA:
Kalau kau menyembunyikan suamimu,
kami akan membunuhmu juga.
PANGAES:
Kami akan membakar rumahmu!
Mana John Pargo…?
Mana suamimu?
PETROKA:
Jawab..!
Kuperingatakan, kau dan John Pargo harus segera menyerahkan tanah–tanah kalian ke perusahaan tambang.
Jangan lagi berkeras Kasila.
Katakan pada suamimu, aku Petroka, siap menghadapinya kalau perlu.
PANGAES:
Katakan, kesabaran kami sudah habis!
Dan kami akan mengusir kalian dari pulau ini dengan paksa.
PETROKA:
Kalau perlu, akan kami lakukan dengan kekerasan, Kasila!
Kasila tiba-tiba menemukan keberaniannya. Ia mengangkat tangannya dengan tenang. Orang-orang terdiam. Mereka menanti apa yang akan dikatakan Kasila. Ia bangkit dengan tenang dan berdiri tegap mendekati Petroko. Semua memandangnya dengan takjub. Ia mengambil tangan Petroka yang memegang pedang, lalu mendekatkan pedang Petroka ke lehernya lalu berkata dengan tenang dan menakjubkan.
KASILA:
(Tanpa emosi)
Iris leherku… iris leherku, Petroka.
Bila uang yang kalian terima seharga nyawaku…iris leherku.
Melihat ekspresi Kasila yang dingin dan misterius, Petroka menarik tangannya dan mundur agak menjauh. Kasila menatap semua orang dengan perasaan yang dingin. Tak ada lagi ketakutan di matanya. Suasana mencekam. Tiba-tiba Kasila berteriak keras penuh emosi.
KASILA:
Bakar rumahku. Bakar!
(terdiam sejenak, dan suaranya kembali dingin tanpa emosi tapi mencekam)
Bila kasih sudah mati,… bakar rumahku.
(tiba-tiba melengking penuh emosi)
Bila tak ada lagi perasaan kasih dalam hati kalian…
bakar rumah dan sekalian bunuh aku!
Karena hanya dengan jalan itu kalian baru bisa mengatup suaraku.
(kembali dingin dan sinis)
Sekuatnya kekuasaan menutupi kebenaran yang kusuarakan,
suatu saat sejarah akan membukanya menjadi terang benderang.
Saat itu, kau dan penguasa dibalikmu akan tampak jelas sebagai
wujud mahkluk yang sungguh teramat hina.
Semua terdiam. Sesaat kemudian, Kasila berjalan kembali menuju pintu rumahnya. Semua orang memandang dengan takjub. Di depan pintu Kasila kembali memandang orang-orang lalu berkata:
KASILA:
Suamiku sedang melaut!
(Masuk ke rumah. Exit)
Orang-orang saling pandang.
PETROKA:
Keberanian perempuan itu sudah mencapai titik gila.
PANGAES:
Ayo kita kembali.
PETROKA:
(Meneriaki Kasila)
Kasila! Awas kau!
Suatu saat kami akan menghabisimu!
Tiba-tiba pintu rumah Kasila terbuka lagi. Kasila berdiri di ambang pintu itu.
KASILA:
(Sinis)
Aku selalu menunggumu, Petroka.
Selalu menunggumu!
Semua orang meninggalkan tempat itu. Kasila kembali masuk. Exit.
Tak berapa lama kemudian muncul suami istri, Akala dan Dreta, dalam keadaan takut. Mereka langsung masuk ke beranda dan memanggil Kasila.
DRETA:
Kasila…Kasila… ini Dreta!
Akala duduk di bangku, batuk-batuk dan menahan dadanya yang sakit.
Kasila muncul dari ambang pintu, dan langsung menemui kedua suami istri itu.
DRETA:
Apakah mereka ke sini?
Apa yang mereka perlakukan padamu Kasila?
KASILA:
Biasa, burung-burung bangkai itu datang menebar ketakutan.
DRETA:
Aku terpaksa mengajak Akala pergi dari rumah setelah mengetahui
mereka akan mendatangi rumahku.
KASILA:
(mengajak Dreta duduk, setelah itu)
Harusnya kalian jangan lari, tapi hadapi mereka.
Karena bila kita terus lari, maka mereka merasa di atas angin.
DRETA:
Kau tahu, Kasila, suamiku sedang sakit sejak kejadian rusuh lalu.
Apa yang bisa kami lakukan?
AKALA:
(Batuk sesaat)
Aku tidak mau lari…Tapi Dreta memaksa.
Aku tidak takut menghadapi mereka meski dengan tubuhku yang terasa lemah.
Lebih baik aku mati dari pada jadi orang terusir dari pulau ini.
DRETA:
Rusukmu patah, tubuhmu lemah,
bagaimana kau bisa menghadapi mereka?
Jangan selalu menyalahkanku!
AKALA:
Melawan tidak selalu harus dengan kemampuan adu fisik.
Melawan adalah sikap.
Sikap kita melawan setiap ketidak adilan itulah yang paling penting.
Tanganku tak mampu, tubuhku tak mampu, tapi hatiku, jiwaku,
perasaanku masih perkasa untuk melawan.
KASILA:
Aku tak meragukan itu, Akala. Aku tak meragukannya.
Tenanglah! Apa yang dilakukan istrimu,
semata-mata karena ia mengasihimu.
Jangan menyalahkan Dreta.
AKALA:
Ia sudah goyah, Kasila. Ia sudah mulai luntur.
Ia membujukku untuk melepas tanah kami ke perusahaan tambang asing itu.
DRETA:
Aku melakukan itu karena sudah tidak tahan, Akala.
Setiap hari kita diintimidasi, diawasi, di mata-matai.
Kau selalu saja menyalahkanku!
Dreta beranjak ke tempat duduk di halaman dan menangis di sana.
DRETA:
Apa artinya tanah-tanah itu, bila kita kehilangan nyawa.
AKALA:
(Terbatuk-batuk dan marah)
Lebih baik kita kehilangan nyawa dari pada kehilangan harga diri.
(Terbatuk-batuk lagi)
Ini bukan sekadar persoalan tanah yang ingin dikuasai tambang pasir besi itu Dreta.
Ini persoalan hak-hak kita sebagai warga Negara.
Negara yang harusnya melindungi kita.
Bukan membuat kita jadi orang-orang terusir dari tanah kita.
Ini persoalan kemanusiaan.
Nilai kemanusiaan yang ditindas oleh kekuasaan.
Apakah pasir besi lebih berharga dibanding kehidupan orang-orang pulau ini.
(terbatuk lagi)
Ini tidak sederhana Dreta.
Tidak sederhana.
KASILA:
Sudahlah … jangan bertengkar lagi.
Masuklah kalian berdua.
Dreta, Akala, perlu minum air hangat.
Masuklah.
Mereka masuk ke dalam rumah.
Lampu Padam.
Waktu berganti.
BAGIAN DUA
Sore hari. Di tempat duduk halaman rumahnya, John Pargo baru usai memperbaiki kulit penampang tagonggongnya (Tagonggong: Tambur tradisional suku Sangihe). Sesaat ia mencoba menabuh tagonggong, sambil menyenandung sebuah lyric sasambo (Sasambo: Jenis syair sastra suku Sangihe yang disenandungkan). Akala duduk di dekatnya. Kasila tampak membawakan kopi untuk kedua lelaki itu, meletakkannya di sebuah meja potongan batang kayu, kemudian kembali masuk ke rumah. Beberapa saat kemudian John Pargo berhenti lalu mengajak Akala minum.
AKALA:
Sudah sejak lahir kita di pantai ini.
Kita seperti dua lelaki penjaga pulau.
Anak kita berdua sekolah dan bekerja di kota,
tapi kita berdua tetap memilih tinggal di sini.
Terasa belum lama.
Tagonggong warisan ayahmu juga masih tampak bagus.
Suaranya masih merdu mengiringi suara satwa berkesiur.
Tapi perusahaan tambang pasir besi itu datang merusak semuanya.
JOHN PARGO:
(Setelah menyesap kopinya)
Bukan cuma alam yang akan rusak,
juga tradisi dan budaya pesisir kita akan lenyap.
Keturunan kita dihari kemudian tak lagi bisa mencium bau hutan lindung
dan mangrove yang segar di tanah airnya sendiri.
Juga debur ombak dan laut yang meniupkan uap asin
dan bisikan-bisikan ikan yang meneguhkan hati.
Hal-hal indah itu kini seakan dipaksa berhenti.
Kekuasaan selalu punya racun ditegukkan ke rakyat.
Rakyat selalu menjadi mahkluk rombeng terlunta-lunta di atas bumi.
Sesaat kemudian muncul Bumbeka, lelaki yang dituakan di kampung itu.
BUMBEKA:
Pargo!
John Pargo dan Akala menengok ke arah suara.
JOHN PARGO:
Mari ,Tua Bumbeka. Duduklah!
Bumbeka kemudian duduk di dekat John Pargo.
BUMBEKA:
Syukur kau di rumah Pargo.
Akala ternyata kau juga di sini.
AKALA:
Aku tidur di sini semalam, bersama Dreta, Tua Bumbeka.
JOHN PARGO:
Tetua kalau sudah datang begini pasti ada maksud penting.
BBUMBEKA:
Aku sangat khawatir semalam Pargo.
Aku mendengar orang-orang mendatangi rumah Akala dan rumahmu.
Untung tidak terjadi sesuatu.
JOHN PARGO:
Hemm…Pangaes dan Petroka…manusia-manusia pengecut.
Mereka tahu aku tidak ada di rumah,
jadi mereka berani datang mengintimidasi istriku.
Tua Bumbeka, suatu ketika aku akan mematahkan batang leher kedua kolotidi (cacing) itu.
BUMBEKA:
Pargo…Pangaes dan Petroka itu keluargamu.
Mereka sangat mendukung perusahaan tambang pasir besi itu.
Mereka bisa melakukan sesuatu yang baruk padamu dan Akala,
apalagi penguasa ada di belakang mereka.
JOHN PARGO:
Manusia-manusia yang sudah mati akal sehatnya.
Semua tanah mereka sudah dilepas ke perusahaan tambang.
Mereka menyatakan siap pergi dari pulau ini.
Kalau mereka mau pergi silakan pergi,
tapi jangan paksa aku atau Akala menyerahkan tanah-tanah kami.
BUMBEKA:
(Dengan berat hati)
Terpaksa aku menjual tanah-tanahku ke perusahaan tambang itu.
Aku sudah tua, tak tahan menghadapi intimidasi.
AKALA:
Harusnya kau bertahan, Tua Bumbeka.
BUMBEKA:
Harusnya, Akala.
JOHN PARGO:
Jadi Tua Bumbeka akan ke mana setelah tanah-tanah itu lepas?
BUMBEKA:
Entahlah, Pargo…
Yang pasti saya harus meninggalkan pulau ini.
Ini sangat menyakitkan, tapi apa yang bisa saya lakukan.
Saya menyesal, tapi sudah terlambat.
Pada usia setua ini saya harus pergi dari pulau kelahiran saya ini entah ke mana.
Tempat mati pun saya tidak tahu.
Harusnya pemerintah tidak memasukkan perusahaan tambang itu ke pulau ini, Pargo.
JOHN PARGO:
Kesalahan juga ada pada diri kita.
Mengapa kita melepas tanah-tanah kita ke perusahaan tambang itu.
BUMBEKA:
Tapi pemerintah memberi izin kepada perusahaan tambang itu.
AKALA:
Izin itulah yang telah menjadi penyebab malapetaka.
Pemerintah menginginkan kita terusir.
Pemerintah menginginkan kita mati.
Kita mati dan hanya mereka, dan keluarga mereka yang hidup.
JOHN PARGO:
Aku tidak tahu apa alasan pemerintah memberi izin.
Tapi coba Tua Bumbeka bayangkan, luas pulau ini hanya 4.800 hektar,
sementara perusahaan itu diberi izin menambang di atas lahan seluas 2.000 hektar.
Itu artinya, mendekati setengah pulau ini akan di tambang
dan kemudian tenggelam menjadi lautan.
Habitat ikan akan hancur. Lingkungan porak-poranda.
Pemerintah benar-benar tidak memikirkan nasib 2.649 jiwa
yang menghuni pulau ini.
Nasib kita seperti binatang yang sesuka hati diusir dari pulau kita.
BUMBEKA:
Yang bisa saya lakukan hanya berdoa meminta pertolongan Tuhan.
JOHN PARGO:
Benar Tua Bumbeka, engkau harus berdoa…
aku juga berdoa kiranya ada pertolongan Tuhan bagi kita.
Dan aku bersyukur karena hingga kini Tuhan memberikanku kekuatan melawan.
Kerena pulau ini adalah anugerah Tuhan bagi kita dan bagi bangsa kita.
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Itu bunyi pasal 33 dalam undang-undang dasar Negara kita.
Karena para pendiri bangsa sadar betul nilai karunia Tuhan itu
harus dipergunakan untuk kemakmuran rakyat,
bukan untuk kepentingan penguasa saja.
Bila kita dipaksa pergi dari atas tanah-tanah kita itu
berarti penguasa telah gagal menjalankan amanat undang-undang.
Dan juga gagal menafsir makna karunia Tuhan.
BUMBEKA:
Tapi rakyat tak pernah menang melawan penguasa Pargo.
AKALA:
(tiba-tiba marah)
Siapa bilang, Tua,
siapa bilang rakyat tidak pernah menang pada penguasa.
Bahkan tanpa perlawanan pun sebuah kekuasaan bisa hancur
bila dikenakan dengan kesombangan, keangkuhan, dan ketidakadilan.
(terbatuk-batuk)
Kekuasaan adalah jubah api, Tua Bumbeka.
BUMBEKA:
(Agak geram)
Mulutmu itu bisa membuat engkau terbunuh!
AKALA:
Aku berharap kau bisa terus bersama kami, Tua Bumbeka.
Tapi kau menyerah.
Uban-uban di kepalamu akan menangis karena sikapmu itu.
Bahkan burung-burung di pulau ini akan menutupkan matanya bila melihatmu.
BUMBEKA:
(Marah)
Kau telah menghinaku Akala.
Kau telah menghinaku.
Aku tidak bisa terima ini.
Setua ini baru kau yang berani menghinaku.
AKALA:
Tak perlu merasa terhina, Tua.
Karena orang-orang yang mudah menyerah
adalah memang orang-orang yang hina.
BUMBEKA:
(Sangat Marah)
Akala….kau sudah sangat keterlaluan.
JOHN PARGO:
Tenanglah…tenanglah.
Akala dan Tua Bumbeka menjadi tenang.
JOHN PARGO:
Aku tidak melawan penguasa, Tua Bumbeka.
Aku hanya menjalankan amanat Tuhan untuk mengemukakan kebenaran.
Akala juga begitu, kendati kebenaran sesulit mencari sebatang jarum
yang jatuh di jazirah semak yang luas.
Kita semua boleh tersaput dan tenggelam oleh tangan-tangan bengis kekuasaan.
Tapi semangat memperjuangan kebenaran tak boleh dibiar mati.
BUMBEKA:
Harusnya semua penduduk pulau ini berpikir seperti itu.
AKALA:
(Sinis)
Begitu seharusnya!
BUMBEKA:
Akala… kau mulai lagi.
AKALA:
Dari dua belas murid Yesus saja, ada Yudas yang tergila-gila
oleh uang dan kekuasaan, ada Petrus yang menyangkali Yesus
karena takut pada ancaman kematian,
ada Tomas sang peragu dan hanya percaya pada kenyataan yang terlihat
oleh mata dan teraba oleh tangan.
Sudahlah, Tua Bumbeka,
aku tahu kau akan pamit untuk pergi dari pulau ini.
Selamat jalan.
BUMBEKA:
(Sinis)
Terima kasih, Akala.
Tapi kuingatkan kau, orang yang mencelupkan roti sepinggan dengan Yesus,
justru dia yang paling berbahaya.
Tua Bumbeka merasa tertekan dan berlalu dari sana. Sesaat kemudian, John Pargo kembali mengambil tagonggongnya dan menyenandungkan sebuah lagu.
Lampu Padam.
Waktu berganti.
BAGIAN TIGA
Sore hari. Kasila sedang menapis beras di beranda. Tak berapa lama muncul John Pargo yang baru pulang dari kebun. Meletakkan bawaannya di samping beranda.
KASILA:
Bagaimana keadaan kebun?
JOHN PARGO:
Tanaman-tanaman mulai layu.
Bagian bukit yang di atas sudah mereka gali.
Kita kehilangan hutan penyangga air.
KASILA:
Benar-benar malapetaka.
(Merenung dan sedih)
John Pargo masuk ke dalam rumah, lalu kembali keluar dengan mok air minum dan meneguknya. Ia tampak mikirkan sesuatu.
JOHN PARGO:
Seluruh warga kampung sebelah
sudah menyerah dan mulai pergi.
KASILA:
Setelah Tua Bumbeka menyerah, di sini tinggal kita,
Akala dan keluarganya serta beberapa rumah di ujung sana.
Saya dengar, mereka juga sudah bersedia menjual tanah mereka.
JOHN PARGO:
Aku mampir di rumah Akala tadi.
Ia tampak sungguh menyedihkan.
Ia terbaring sakit di rosban.
Dreta ternyata sudah menerima uang dari pihak perusahaan tambang itu
dan pergi meninggalkannya.
KASILA:
Sungguh kasihan Akala.
Apa yang bisa dilakukannya dengan tubuh yang sakit itu.
JOHN PARGO:
Aku sudah menyarankannya untuk pergi menyusul istrinya.
Tapi ia tetap berkeras bertahan di rumahnya.
Besok rumahnya akan digusur.
KASILA:
Moga Tuhan menolong dan menguatkan hatinya.
Kasila masuk ke dalam rumah membawa beras yang baru ditapisnya. John Pargo mengaso di tempat duduk halaman. Tak berapa lama Kasila muncul lagi dengan beberapa pakaian basah kemudian menggantungya di tali jemuran yang membetang di sisi belakang halaman itu.
JOHN PARGO:
Aku heran.
Orang-orang yang tanah dan rumahnya tidak masuk dalam areal tambang
justru ikut mengintimidasi warga yang justru sedang berjuang
menyelamatkan pulau ini.
KASILA:
Uang telah membeli semuanya.
Jangan warga, penguasa pun bisa goyah di hadapan uang.
JOHN PARGO:
Tapi tidak semua warga kita yang pergi karena takluk pada uang.
Mereka pergi karena ingin cari selamat.
Mereka lupa dimana hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan.
KASILA:
Logika semacam itu hanya ada di otak orang sepertimu.
Tak berapa lama masuk kembali Tua Bumbeka dengan kepala yang berdarah dan tampak kesakitan. John Pargo dengan cepat menyambut Tua Bumbeka dan membawanya ke tempat duduk.
JOHN PARGO:
Siapa yang melakukan ini, Siapa Tua?
Tua Bumbeka yang kesakitan tidak bisa menjawab. Kasila tampak berusaha menolong.Tak berapa lama, dua orang pemuda menyeret seorang lelaki yang berhasil mereka tangkap karena memukul Tua Bumbeka.
PEMUDA 1:
Pargo … orang ini yang memukul Tua Bumbeka.
Menatap orang yang tertangkap itu dengan penuh kebencian.
JOHN PARGO:
(ke Kasila)
Bawa Tua ke dalam rumah.
Kasila menuntun Tua Bumbeka ke dalam rumah. John Pargo berjalan cepat menuju lelaki yang ternyata Petroka itu, lalu menjambak kerah bajunya dengan penuh amarah.
JOHN PARGO:
Kau… kau, Petroka. Bajingan kau.
Kau berani memukul orang setua itu.
Kau benar-benar pengecut.
Kalau kau laki-laki ayo lawan aku.
John Pargo kemudian mendorong Petroka hingga terjerembab, lalu mengajaknya berkelahi.
JOHN PARGO:
Ayo berdiri. Lawan aku.
Berdiri … lawan aku Petroka.
Petroka ketakutan dan tidak mau berdiri. John Pargo mendekatinya dan kembali menjambak kerah bajunya. Petroka kelihatan kian ketakutan. John Pargo mencabut sebilah pisau dari balik bajunya dan mengancam Petroka.
JOHN PARGO:
Petroka kau tahu aku bisa membenamkan pisau ini ke jantungmu bila aku mau.
Sekarang katakan apa alasanmu memukul Tua Bumbeka?
Katakan!
PETROKA:
Dia tidak menyerahkan komisi penjualan tanahnya padaku.
Dia berbohong padaku.
JOHN PARGO:
Jadi kau juga menarik komisi dari warga yang menjual tanahnya?
PETROKA:
Aku bertindak sebagai perantara mereka
dengan pihak perusahaan tambang.
Jadi aku wajib dapat komisi.
JOHN PARGO:
Kau benar-benar kolotidi (cacing)Petroka.
(menguncang-guncang Petroka)
Benar-benar kolotidi.
Sampai hati kau merampok dari warga yang sudah terusir itu.
(Memerintah dua pemuda)
Ikat dia, setelah itu kita bawa ke aparat desa untuk mengurusnya.
Dua pemuda itu mengikat Petroka. John Pargo masuk ke dalam rumah, tak berapa lama keluar lagi lalu mereka pergi membawa Petroka.
Lampu Padam.
Waktu berganti.
BAGIAN EMPAT
Sudah dini hari. Suasana sunyi yang hanya diisi suara deburan ombak dan bunyi jengkrik. Kemudian terdengar suara ayam berkokok petanda dini hari. Tak berapa lama muncul Akala terlihat mendekati beranda. Ia begitu panik dan gelisah.
AKALA:
Kasila…Kasila…aku Akala!
Sesaat kemudian pintu terbuka dan Kasila keluar.
AKALA:
Cilaka, Kasila…cilaka.
Mereka membawa Pargo dengan perahu.
KASILA:
Membawa pargo?
AKALA:
Iya, Kasila!
KASILA:
Siapa mereka?
AKALA:
Aku kurang jelas, terlalu gelap untuk bisa mengenali mereka.
Tapi yang pasti di sana ada Pangaes dan Petroka.
KASILA:
Bukankah Pargo dan dua pemuda itu membawa Petroka ke aparat desa?
Mengapa kini Pargo yang justru mereka bawa pergi?
AKALA:
Itulah.
Kita butuh penjelasan.
Mana Tua Bumbeka?
Kata orang ia ke sini bersama Petroka?
Ia yang bisa menjelaskan semua ini.
KASILA:
Ia sedang istirahat di dalam.
Ia dipukuli hingga kepalanya luka.
Dan dua pemuda itu membawa Petroka ke sini
karena telah memukuli Tua Bumbeka.
AKALA:
Tidak seperti itu.
Pasti tidak seperti itu penjelasannya Kasila.
Itu sebuah rencana menjebak Pargo.
Akala dengan geram masuk ke rumah Kasila. Sementara Kasila tampak bingung dengan sikap Akala. Tak berapa lama, Akala meskipun dalam keadaan sakit berusaha menyeret Tua Bumbeka keluar.
AKALA:
Kau harus menjelaskan semuanya, Tua.
Katakan pada Kasila apa sesungguhnya yang terjadi.
Akala menyeret Tua Bumbeka ke sebuah batang kayu dan mendudukkannya di sana.
AKALA:
Katakan yang sebenarnya Tua.
Ini menyangkut nyawa seseorang.
KASILA:
Sesungguhnya ada apa, Tua?
Tua Bumbeka tampak begitu gelisah dan merasa bersalah. Ia seperti tak mampu mengatakan sesuatu.
AKALA:
Katakan yang sebenarnya, Tua.
TUA BUMBEKA:
Aku amat menyesal, Kasila.
Amat menyesal.
Mereka memaksaku untuk melakoni sandiwara ini.
AKALA:
Jadi kau berpura-pura dipukuli,
lalu dua pemuda itu datang pura-pura menangkap Petroka.
Dan setelah Pargo pergi bersama-sama membawa Petroka,
lalu mereka menangkapnya?
TUA BUMBEKA:
Rencana mereka seperti itu Akala.
Tapi aku tidak pura-pura dipukuli.
Mereka benar-benar memukuliku, Akala.
Kasila tampak terpukul dan sulit bicara. Ia duduk di halaman dan berusaha menahan emosinya.
AKALA:
Dengar itu, Kasila…
Dengar itu!
Tua Bangka ini ikut terlibat dalam permainan kotor mereka.
TUA BUMBEKA:
Aku dipaksa, Akala. Aku dipaksa.
Kalau tidak mereka akan membunuhku.
AKALA:
Kau menghindar dari kematian,
dan menyerahkan kematian itu pada Pargo.
TUA BUMBEKA:
Tidak seperti itu Akala.
Kasila tampak mulai menemukan kata-katanya.
KASILA:
(Sinis dan dingin)
Lalu seperti apa, Tua Bumbeka?
(tiba-tiba melengking penuh emosi)
Lalu seperti apa, Tua Bumbeka!
Tua Bumbeka terkejut dan kecut dengan kemarahan Kasila. Ia berusaha mendekati Kasila memohon ampun.
TUA BUMBEKA:
Kasila, maafkan aku.
Aku tidak bermaksud …
KASILA:
(Penuh emosi)
Aku tidak bermaksud apa?
Pergilah kau dari sini!
Tak ada lagi rasa hormat tersisa untukmu.
Tua Bumbeka mundur agak menjauh dari Kasila. Ia menatap Akala dengan segan.
AKALA:
(dingin tapi sangat sinis)
Orang yang mencelupkan roti sepinggan dengan Yesus
tak selalu ia sosok Yudas.
Tidak selalu Tua Bumbeka.
Pergilah …
(menatap Tua Bumbeka tajam dan berseru keras)
Pergilah… sebab aku juga bisa membunuhmu kalau aku mau.
Tua Bumbeka akhirnya pergi dengan perasaan gelisah dan malu.
Akala dan Kasila terdiam sejenak mengikuti pikiran masing-masing. Sesaat kemudian baru Akala mengusulkan sesuatu.
AKALA:
Kau harus melaporkan ini pada aparat, Kasila.
KASILA:
Tidak ada gunanya.
Hukum pasti tidak berpihak pada kita.
AKALA:
Tapi aku bisa jadi saksi, Kasila.
KASILA:
Bila kau lakukan itu,
kau akan masuk daftar orang yang harus dihilangkan.
AKALA:
Jadi apa rencanamu setelah ini?
KASILA:
Meneguk cawan seperti Yesus.
Karena kadang kebenaran tidak menang di hadapan hukum.
Tapi kebenaran senantiasa menang di hadapan sejarah.
AKALA:
(Tampak menelan kepahitan)
Sungguh menyedihkan.
Benar-benar menyedihkan.
(sesaat kemudian)
Aku pergi.
Selamat tinggal.
KASILA:
Selamat tinggal Akala.
Selamat tinggal.
Suasana jadi muram. Bunyi ombak. Suara jengkrik. Lampu padam.
Tamat
(Dilarang dipentaskan tanpa seizin pengarang. Iverdixon Tinungki 085343976992)


Discussion about this post