Manado, Barta1.com–Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Manado terus mendorong angka partisipasi masyarakat di guliran Pemilu legislatif dan presiden. Salah satu sasaran yang terus dibina adalah pemilih pemula.
Malah untuk segmen pemula, Ferley Kaparang SH selaku ketua KPU Manado berharap anak-anak muda bisa menjadi ujung tombak dalam Pemilu edisi 2029 nanti.
“Saya minta pemilih pemula jangan apatis, justru mereka yang jadi ujung tombak untuk mengajak yang lain datang ke TPS menyalurkan hak suara,” tutur Ferley.
Dia menyampaikan ini dalam kegiatan “Sosialisasi Pendidikan Pemilih” di Hotel NDC Manado, Senin (22/12/2025). Ferley duduk berdampingan dengan Ramly Pateda dan Hasrul Anom, komisioner KPU Manado lainnya.
Ajakan untuk pemilih pemula yang dicetuskan Ferley didasari pengalaman di Pemilu sebelumnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kehadiran masyarakat ke TPS.
“Dinamika yang mempengaruhi kehadiran pemilih ini berbeda antara Manado dengan kabupaten dan kota lainnya, khusus Manado faktornya sangat dinamis walau tentu saja kita sudah memahami polanya,” kata Ferley.
Pemilih pemula diharapkan membawa dampak positif pada masyarakat. Apalagi mereka dinilai Ferley punya komunitas sehingga makin mempermudah jangkauan edukasi yang bersifat partisipatif.
Karena itu KPU sebagai lembaga penyelenggara berkewajiban mencetak pemilih pemula yang berkualitas, cerdas dan bisa memilihan mana informasi yang bisa diserap dan mana yang masuk kategori hoaks.
“Karena dari pengalaman juga ada banyak informasi beredar dan bisa mempengaruhi pemilih segmen lanjut usia, ini kita harapkan bisa diluruskan pemilih pemula yang lebih melek teknologi,” ujar Ferley.
Ketua Divisi Partisipasi Masyarakat Ramly Pateda mengakui, tingkat partisipasi pemilih dalam 13 kali edisi Pemilu presiden dan legislatif cenderung fluktuatif. Sedangkan pada 2024 Kota Manado di angka 75 persen.
Terkait ini, Komisioner KPU Sulawesi Utara Awaludin Umbola meminta KPU Manado terus mencari formula untuk meningkatkan partisipasi pemilih khususnya Pilkada yang anjlok hingga 65 persen.
“Libatkan berbagai pihak untuk membaca apa saja faktor yang mempengaruhi ini, kita perlu samakan persepsi untuk membuat angka partisipasi meningkat,” kata Umbola yang dihadirkan sebagai narasumber dalam kegiatan edukatif ini.
Hasrul Anom menambahkan, dalam sosialisasi sebelumnya, masyarakat sempat memberi masukan pada KPU soal antrian di TPS yang lama sehingga mempengaruhi kehadiran pemilih yang punya kesibukan.
“Kita sudah antisipasi dengan membagi kluster per jam dalam undangan dengan jumlah pemilih tertentu sehingga tidak terjadi antrian panjang di TPS,” jelas Anom. (**)
Peliput: Ady Putong


Discussion about this post