BARTA1.COM– Pagi masih diselimuti kabut subuh, namun sisa-sisa amukan semalam terasa begitu nyata. Badai puting beliung dahsyat telah menyapu daratan Pulau Tagulandang, menghancurkan perkebunan dan rumah-rumah di wilayah Selatan dan Tenggara.
Makahiking, seorang petani tua dari Desa Tulusan, melangkah gontai menuju kebunnya, hatinya cemas membayangkan kerusakan yang pasti terjadi.
Kerusakan parah memang menyambutnya; batang-batang pohon patah, tanamannya porak-poranda. Namun, di bawah sebuah pohon besar yang tumbang, matanya terpaku pada sesuatu yang tak terduga.
Terbungkus rapat oleh dedaunan yang berserakan, tergeletak sesosok tubuh gadis remaja. Kulitnya putih bersih, parasnya elok, memancarkan kecantikan yang luar biasa di tengah puing-puing bencana.
Makahiking terdiam, diliputi keraguan. Benaknya dipenuhi bisikan takhayul; mungkinkah gadis ini adalah jelmaan makhluk halus, penghuni hutan yang muncul karena badai?
Ia takut untuk mendekat, ragu antara menolong atau menjauh. Suara hati dan ketakutan bergumul di dadanya.
Tiba-tiba, terdengar suara lemah, nyaris tak terdengar, diselingi isakan tangis yang memelas. Gadis itu membuka matanya yang indah dan menatap Makahiking dengan sorot memohon. Inilah kalimat pertama yang ia ucapkan, menjelaskan asal-usulnya yang misterius:
“Ia ko wawine, natuntung bou Pulisang, nawawa su anging mangkilaeng,” bisik sang putri. Artinya, “Saya seorang wanita, datang dari Pulisang, terbawa angin badai semalam.”
Walau belum menyebutkan namanya, kata-kata itu seketika menghilangkan keraguan Makahiking. Gadis itu adalah korban badai, sama seperti dirinya.
Makahiking segera membawa gadis itu pulang dan merawatnya bersama sang istri.
Kisah penemuan ajaib ini menyebar cepat ke seluruh Tulusan. Setelah bermusyawarah dengan penduduk setempat, Makahiking dan istrinya sepakat mengangkat gadis itu sebagai anak mereka.
Mereka menamai gadis cantik itu Lohoraung, sebuah nama yang sarat makna. Lohoraung atau “Maraloho su Raung” berarti ‘ditemukan di antara dedaunan pohon’. Nama itu menjadi penanda takdirnya, sebuah permulaan baru bagi kehidupan sang putri misterius.
Waktu berlalu, dan kecerdasan serta wibawa Putri Lohoraung semakin tampak. Para Wahaning Wanua—tokoh-tokoh pemberani dan pejuang negeri—seperti Walandungo, Wansiani, dan Lahawuateng, mulai menyadari potensi besar dalam diri sang putri.
Dalam sebuah musyawarah besar, para pejuang tersebut mengambil prakarsa strategis. Mereka bersepakat untuk mendirikan wilayah Mandolokang sebagai sebuah kerajaan mandiri demi persatuan dan kesejahteraan rakyat.
Secara aklamasi, Putri Lohoraung diangkat menjadi Ratu. Penobatannya terjadi pada tahun 1570, menandai dimulainya era baru bagi Tagulandang dan wilayah sekitarnya. Lohoraung, sang gadis yang ditemukan di bawah daun, kini memimpin negeri.
Selama masa pemerintahannya yang berlangsung selama 39 tahun, Ratu Lohoraung didampingi oleh Walandungo, seorang Panglima Perang yang cakap dan sangat setia.
Walandungo memiliki jasa besar dalam menyatukan dan mempertahankan kedaulatan kerajaan.
Di bawah kepemimpinan Ratu Lohoraung dan Panglima Walandungo, wilayah kerajaan meliputi pulau-pulau penting: Tagulandang, Biaro, Talise, Bangka, dan Lembe.
Ratu Lohoraung menjadi simbol persatuan dan kekuatan.
Setelah masa baktinya yang panjang dan penuh jasa, Ratu Lohoraung wafat. Ia dimakamkan di Desa Tulusan, tempat ia pertama kali ditemukan oleh Makahiking.
Tulusan, yang pada masa itu berfungsi sebagai ibukota kerajaan, menjadi peristirahatan terakhir bagi Sang Ratu yang bangkit dari pusaran badai. (*)
Editor:
Iverdixon Tinungki
(Sumber: Ch. O. Bingku, seorang Penilik Kebudayaan bertugas di Tagulandang pada tahun 1976 hingga 2001.)


Discussion about this post