Pada hari terakhir sesi kedua INC-5.2, yang berakhir pada Jumat, 15 Agustus 2025, negosiasi Perjanjian Global untuk Mengakhiri Pencemaran Plastik menuju titik kritis. Pleno penutupan yang dijadwalkan pada Kamis ditunda selama 16 jam.
Kamis malam pukul 23:30 (waktu Jenewa), Ketua INC Luis Vayas Valdivieso membuka pleno singkat dengan pernyataan bahwa “pekerjaan masih berlanjut”, kemudian menunda keesokan harinya tanpa kepastian waktu sidang berikutnya.
Lebih lanjut, draft terbaru dirilis pada Jumat dini hari pukul 01:57, yang memungkinkan dilanjutkannya perundingan. Namun, draft ini dinilai lemah, tidak mencakup akar krisis plastik seperti kontrol produksi plastik primer atau regulasi bahan kimia berbahaya secara memadai
Proses INC dimulai setelah Resolusi UNEA 5/14 pada Maret 2022, dan sejak itu telah melalui lima sesi negosiasi, termasuk sesi pertama di Busan (INC-5.1, Desember 2024) dan lanjutannya di Jenewa (INC-5.2, Agustus 2025)
Dalam sesi Busan, perundingan buntu karena penolakan negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi dan Rusia terhadap pembatasan produksi plastik
Sebelum INC-5.2, banyak pihak menyerukan langkah tegas: lebih dari 100 negara mendukung batasan produksi plastik, sementara beberapa aktor industri dan negara menentangnya
Selama INC-5.2, pandangan masih terbelah: draft yang dianggap “tidak memadai” terutama karena fokus hanya pada manajemen sampah, tanpa membatasi produksi plastik dan bahan kimia berbahaya
Draft terbaru memasukkan beberapa elemen seperti: Mandat untuk mengatur seluruh siklus hidup plastik sesuai UNEA 5/14, Kembalinya rujukan pada chemicals of concern di Artikel 4, Pengakuan terhadap hak masyarakat adat hingga Penambahan mekanisme pembiayaan dan ketentuan voting di COP.
Namun, dalam hal substansi: Tidak ada pembatasan produksi plastik primer, Artikel tentang dampak lingkungan tidak mengikat, Banyak pasal masih bersifat sukarela, bergantung pada pilihan kata “shall” atau “should” serta klausul pengecualian seperti “as appropriate” atau “taking into account national capacities.”
Lampiran juga mengandung batasan penguatan instrumen di masa depan, misalnya Pasal 23.3a. Delegasi hanya memiliki waktu kurang dari 24 jam untuk menyetujui teks yang masih mengandung 120 tanda kurung dan 14 halaman perbedaan pendapat
Dampak & Tanggapan Masyarakat Sipil
Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation menyatakan produksi primer dan bahan kimia plastik telah melebihi batas daya dukung planet. Draft ini tidak cukup kuat untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan.
Sedangkan AZWI melalui Nindhita Proboretno menyebut, banyak pasal kritis tak diakomodasi. Namun, mereka menyambut bahwa isu “solusi semu” seperti pemanfaatan plastik untuk energi tidak muncul lagi.
Dietplastik Indonesia, Rahyang Nusantara menyoroti kegagalan memasukkan sistem reuse/refill mengikat. Padahal praktik ini bisa mengurangi sampah plastik sekaligus menciptakan lapangan kerja.
AZWI menekankan penundaan mencerminkan kegagalan kepemimpinan dan kurangnya komitmen terhadap langkah ambisius. Tanpa itu, perjanjian hanya akan memperpanjang dampak krisis plastik bagi generasi mendatang.
Produksi plastik baru global mencapai lebih dari 400 juta ton per tahun, dan bisa meningkat 70% hingga 2040 tanpa intervensi kebijakan
Total produksi plastik primer dari 1950 hingga 2022 adalah 11 miliar ton — meningkat dari 2 juta ton per tahun menjadi 504 juta ton per tahun. Plastik berasal dari bahan bakar fosil dan menyumbang signifikan terhadap emisi karbon serta mencemari lingkungan, manusia, dan kesehatan secara luas melalui mikroplastik dan bahan kimia berbahaya (seperti PFAS)
Kebuntuan di hari terakhir negosiasi INC-5.2 memperlihatkan kegagalan global menghadapi akar krisis plastik—produksi tak terkendali dan bahan kimia berbahaya—karena tekanan geopolitik dan industri.
Tanpa mekanisme yang mengikat, ambisius, dan bersifat preventif (bukan hanya daur ulang), perjanjian ini berisiko menjadi isapan jempol, justru memperlemah perlindungan terhadap generasi mendatang. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post