Manado, Barta1.com – Suasana di Pantai Karangria, Manado, belum lama ini terasa syahdu saat puisi berjudul “Surat Cinta Nelayan Terluka” karya Fredy Adrian dibacakan oleh Natazia Petahiang dalam acara Jambore Jurnalistik Lingkungan II.
Puisi ini, menurut Natazia atau yang akrab disapa Sasa merupakan satu dari sekian karya Fredy yang menyuarakan keresahan masyarakat pesisir. Namun, “Surat Cinta Nelayan Terluka” terasa paling relevan dengan konflik reklamasi yang kini mengancam wilayah Manado Utara.

“Rencana reklamasi pasti akan meninggalkan luka, terutama bagi masyarakat pesisir, nelayan, dan perempuan. Tapi di dalam luka itu masih terselip cinta dan harapan—harapan agar alam dan ruang hidup manusia tetap lestari,” ujar Sasa.
Sebagai salah satu aktivis perempuan yang tegas menolak reklamasi, Sasa menceritakan bahwa kawasan pesisir berpasir putih di Manado Utara memiliki fungsi terapi, bukan hanya bagi warga lokal tetapi juga pendatang. Kawasan ini merupakan satu-satunya pantai alami yang tersisa di wilayah tersebut.
“Penolakan kami, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tolak Reklamasi Pantai Manado Utara, bukan tanpa alasan. Reklamasi akan merugikan nelayan dan warga pesisir. Baru-baru ini, bahkan ditemukan dua jenis penyu yang bertelur di sana. Ini bukti bahwa kawasan ini seharusnya dilindungi, bukan ditimbun,” lanjutnya.
Pantai tersebut berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Taman Nasional Laut Bunaken. Menurut Sasa, bila reklamasi tetap dilakukan, dampaknya bisa menjalar ke pulau-pulau lain di sekitar Manado.
Tak hanya lewat puisi, Sasa juga menyuarakan perlawanan melalui lagu. Ia menutup penampilannya dengan menyanyikan lagu nasional “Rayuan Pulau Kelapa”, sebagai bentuk pengingat bahwa keindahan pulau-pulau Indonesia kini berada di ambang ancaman.
“Lagu itu jadi pengingat: pulau-pulau yang dulu kita banggakan karena keindahannya, kini sedang dihadapkan pada ancaman besar—mulai dari tambang, reklamasi, hingga kerusakan lingkungan. Tanah air yang katanya subur dan makmur kini hendak digusur demi dalih ‘ekowisata’ yang nyatanya menyengsarakan rakyat,” katanya.
Kehadiran Sasa dalam Jambore Jurnalistik Lingkungan II yang digagas oleh SIEJ Sulut merupakan bentuk kepeduliannya terhadap alam dan sesama. Ia mengajak para pecinta alam untuk tidak hanya menikmati alam, tetapi juga menjaga dan membela dari kehancuran yang dibungkus atas nama pembangunan.
“Cinta pada alam bukan cuma soal naik gunung atau olahraga alam. Tapi juga menjaga dan melawan pengrusakan. Saat ini, saya melawan lewat seni, seperti puisi, nyanyian, dan tarian. Itu bentuk perlawanan indah terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil,” ujarnya.
Baginya, menyanyi dan membacakan puisi bukan sekadar seni, tapi bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Baru-baru ini saya belajar membaca puisi. Tapi ketika membawakannya, rasanya seolah seluruh tubuh ikut bergetar. Apalagi saat isi puisinya tentang perlawanan. Semoga kita tetap berani melawan, berjuang untuk keadilan yang perlahan mulai terkikis oleh kekuasaan yang serakah,” pungkas Sasa, perempuan pejuang lingkungan dari Utara. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post