Oleh: Ir. Jhon Theodorus Harahap, MT.
Dosen Politeknik Negeri Manado
Setiap kali kemacetan menjadi perbincangan publik, solusi yang muncul hampir selalu sama: perbanyak jalan, bangun flyover, atau perluas underpass. Seolah-olah, penyebab utama macet adalah kurangnya infrastruktur. Padahal, bila kita jujur menilik akar persoalan, kemacetan justru lebih sering lahir dari kurangnya disiplin para pengguna jalan.
Ambil contoh sederhana di banyak kota besar: ketika lampu lalu lintas menyala merah, tak sedikit pengendara nekat menerobos. Trotoar yang seharusnya untuk pejalan kaki justru diserobot sepeda motor. Bahu jalan yang difungsikan sebagai jalur darurat berubah menjadi jalur cepat alternatif. Semua ini bukan karena jalan kurang luas, tetapi karena perilaku yang sempit logika dan kepeduliannya.
Kita lupa bahwa lalu lintas adalah sistem bersama. Sekalipun jalan diperlebar, jika penggunanya tetap tidak tertib, maka hasilnya tetap macet. Sebaliknya, negara-negara dengan jalan yang tidak terlalu luas justru memiliki lalu lintas yang tertib karena warganya disiplin. Jepang, misalnya, dikenal dengan budaya antre dan patuh terhadap marka jalan. Di sana, solusi macet bukan jalan tambahan, tetapi perilaku yang dijaga bersama.
Kedisiplinan di jalan bukan hal besar yang sulit dilakukan. Tidak menerobos lampu merah, tidak mengambil jalur lawan arah, memberi jalan saat lampu sein menyala—hal-hal kecil yang jika dilakukan bersama, akan berdampak besar. Tapi selama perilaku seperti menyerobot dianggap “akal-akalan cerdik” dan bukan pelanggaran, maka selama itu pula kemacetan akan jadi langganan.
Menambah jalan hanya seperti memberi ember pada atap bocor—menampung, bukan menyelesaikan. Infrastruktur akan selalu tertinggal jika perilaku masyarakat tidak dibenahi. Solusi jangka panjang kemacetan bukan sekadar proyek fisik, melainkan proyek mental: menanamkan disiplin sebagai budaya.
Maka sebelum menuntut pembangunan jalan baru, mari benahi cara kita berkendara. Karena sesungguhnya, macet adalah cerminan etika publik. Dan jalan yang tertib dimulai dari satu pengendara yang mau taat aturan—yaitu kita sendiri. (*)


Discussion about this post