Menuju Dalako, perahu kami harus memilih, kiri atau kanan untuk menyisih sebuah batu tepat di tengah pintu masuk teluk Kahakitang. Dan di pintu itu pula, lumba-lumba berhenti berlomba dengan perahu. Mereka kembali ke laut biru, ke tempat arus yang tak henti menciptakan balun gelombang di perairan antara Pulau Kalama dan Kahakitang.
“Lumba-lumba di laut ini selalu berpacu dengan perahu bila lewat di sini,” kata Madunde, lelaki asal pulau Para yang mengemudikan perahu. Perahu yang kutumpangi jenis Pamo yang berdaya muat 3-4 ton dengan dua mesin Enduro 75 PK tergantung di buritan. Sungguh suatu pengalaman yang menggetarkan.
“Fragmen 66: Vassili” dan “Dalako Suatu Hari”, dua sajak yang kutulis saat berkunjung ke Kahakitang, belum lama. Ini sebuah pulau puitis dan menakjubkan di jazirah kepulauan Sangihe Talaud. Disebut puitis karena keindahan pulau ini seakan-akan bertabur imaji-imaji anonim yang menggairahkan untuk ditulis. Ada berbagai jenis batu terhampar di pesisir pantai. Ada tebing dan savana kecil yang indah.
Disebut menakjubkan karena, untuk sampai ke pulau ini, perahu yang kutumpangi disambut kawanan lumba-lumba yang ikut berpacu menuju tepi. Aksi mamalia laut ini terasa mendatangkan riang tersendiri.
Pulau seluas 8,78 km2 ini merupakan pulau terbesar dalam klaster Tatoareng, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dimana terdapat ibukota kecamatan Tatoareng. Tanah-tanah di pulau ini milik turun-temurun dari nenek moyang orang-orang Kahakitang.
Ada tanaman kelapa, pala dan cengkeh di sekitar pemukiman. Masyarakatnya juga mengelola pertanian pola tumpang sari, terdiri dari tanaman ubi jalar, ubi kayu dan tanaman lain yang dihasilkan untuk keperluan sendiri.
Jumlah penduduknya 2.088 jiwa atau sekitar 420 Kepala Keluarga (KK), tersebar dalam 4 Kampung yaitu Kampung Dalako, Bembanehe, Taleko, Batusaiki. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan, sebagian kecil Kristen Khatolik dan Islam.
Kehidupan sosial ekonomi pulau Kahakitang dapat dikatakan jauh lebih dinamis dibandingkan dengan pulau-pulau kecil di Pulau Sangihe karena lokasinya yang relatif dekat dengan Kota Tahuna dan Kota Manado.
Di sepanjang tebing pantai Pulau Kahakitang terdapat gua sarang burung walet yang berpotensi sebagai objek wisata dan bernilai ekonomis. Kahakitang termasuk juga salah satu pulau penghasil ikan Cakalang terbesar. Selain itu, terdapat pantai Sowang, salah satu objek wisata dengan terumbu karang yang sangat indah dan masih alami.
FRAGMEN 66: Vassili
bilamana perahu vassili sampai di teluk kahakitang
akan dilihatnya sebuah batu tepat di tengah pintu
ia harus memilih kiri atau kanan buat menyisih
dan vassili akhirnya akan gembira bisa berlayar di sini
kendati sebentar ia barangkali akan mati
ia akan mati tanpa memikirkan harta benda
bau vodka, derit kereta es di tengah salju
atau nama agungnya dipahat di sebuah prasasti
hanya terbaca dimusim gugur dan semi
di bentangan pasir putih itu
akan dilepaskannya khalat, jaket bulunya
lalu menikmati akhir usianya dengan riang
karena kini ia bisa mati sebagai vassili
saat pelepah nyiur menarinari di bulan november
di bawah matahari pulau yang selalu hangat
tak ada bising desing kereta
hanya burungburung menguji kekuatan sayapnya
terbang sejauh mungkin menimba pengalaman ke alam semesta
lalu kembali ke sebatang dahan
menyanyikan suarasuara kemenangan
vassili akan lebih berbahagia jadi seperti orangorang pulau
tak punya tanah luas selain laut dengan sagala ombakombaknya
ombak membentuk wujud manusiamanusia sederhana
tapi tangguh mengarungi hidup nyata. tak menipu
dan akan pulang ke rumah Tuhan tanpa memikirkan apaapa
kecuali cinta dan kebersamaan dalam perahu
selalu setia melintas di ujung teluk indah itu
ia akan berbaring dengan tenang
di antara semaksemak tak menyimpan pilu
sambil mendengar semilir angin yang diberikan laut
laut yang kadang teralas bagai minyak
minyak yang bisa dibayangkan dari getah kayu hutan teliantinsky
dulu memerangkapnya dalam kabut dan maut
lalu ia akan membagi kepada kaum miskin
seluruh apa yang telah ditipu dan dirampasnya dari mereka
memilih murni mengalana meninggalkan cuaca suram
kebekuan hati mencengkramnya di astapovo
lalu hidup dalam kejernihan di sini
seperti anastasia ihklas memberi cinta
buat seseorang yang ingin hidup meski hanya sekali
DALAKO SUATU HARI
sudah, sudah pecah aku
kadang pumice terapung
kadang gabro dan basalt beku
keluar aku dari batu dongeng khayangan
peri pulau, tasik kecil dalako
dan bayangbayang perahu merasukiku
hutanhutan sagu, ularular daun hijau kemilau
menjalari ombak memuaskanku o moyang
sudah arus aku
sudah kuhidu pulauku hingga makna semestamu
yang tersembunyi, dan aku coba tega melupakan
karena ingin masuk ke kesunyian pertempuran tanpa bentuk
arteri berdenyut mewujudkan dongengdongeng
pulau baru dalam bentuknya yang tiada itu
setelah kota,
setelah penggayangan batasbatas kewarasan
seolaola perayaan paling megah dan sublim
kendati sekadar parade kuasa tanpa ahlak
pulaupulau digali, hutanhutan ditebang
hujan karbon. laut dikerubuti para maling
di tebingtebing kecil gamping dan serpin
koral hancur jadi abu ramairamai menyerbu paruparu
sungguh sahaja nafas di sini pecah satusatu
mari bermain nelayanku dengan semua bilangan bimbang
hingga bimbang mendapatkan wujud tiadanya
sebab antara letih dan mati hanya kuarsit di kalikali kering
coba dimaknai hutan hujan tak pernah jadi sungai
ikuti saja mata air kecil menembusi celah granit
meyakini selalu ada laut dan maut yang lain. (*)
Penulis: Iverdixon Tinungki

Discussion about this post