Manado, Barta1.com — Isu keberpihakan dan partisan nyaris selalu mengelilingi media dan pekerjanya saat guliran pemilihan kepala daerah (Pilkada). Menyangkut kondisi ini, KPU Sulawesi Utara berharap jurnalis bisa menempatkan dirinya dalam proses pendidikan demokrasi sehat dan berwibawa.
Ketua KPU Sulut, Kenly Poluan, berharap jurnalis bisa mengembalikan marwah demokrasi sepenuhnya dalam melakukan proses peliputan saat Pilkada maupun agenda kontestasi politik lainnya.
“Kami ingin teman-teman bisa membubuhi liputan dengan demokrasi substansial sehingga ujung-ujungnya masyarakat bisa menentukan pilihan dengan lebih baik lagi,” kata Kenly, Minggu (26/04/05) malam.
Dia bicara hal itu saat membuka rapat koordinasi bertajuk Peliputan Tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Tahun 2024 Kepada Awak Media di Hotel Sentra Minahasa Utara. Selain Kenly, ikut menyampaikan buah pikiran dalam momen ini para komisioner lainnya; Salman Saelangi, Meydi Tinangon dan Awaluddin Umbola.
Demi menjaga marwah demokrasi, sekalian mengedukasi pemilih dan masyarakat umumnya pada proses berdemokrasi yang bersih dan sehat, Kenly menyebut KPU Sulut memiliki berbagai program yang membutuhkan media sebagai penyambung lidahnya.
KPU Sulut bahkan mendorong panitia adhoc sebagai ujung tombak pelaksanaan Pilkada untuk bergerak lebih tepat. Caranya, turun langsung ke rumah-rumah menemui keluarga dan berdiskusi membekali mereka mengenai proses yang berjalan hingga topik Pilkada yang baik.
“Kita melibatkan diri langsung dengan pemilih rasional sehingga perubahan pikiran bisa terjadi,” kata dia.
Salman Saelangi mengungkap peran media ternyata krusial saat Pilkada. Buktinya adalah Pilkada sebelum ini, pada 2020. Masa itu, tingkat partisipasi pemilih sangat tinggi. Lebih lagi, saat petugas melakukan pencoklitan, masyarakat yang ditemui bisa maksimal. Lalu yang mendaftar untuk menjadi personil badan adhoc juga banyak.
Sementara isu seputar independensi media jadi pembicaraan serius pada hari kedua rakor ini, Senin (27/05/2024). KPU Sulut menghadirkan personil Badan Pertimbangan dan Pengawas Organisasi AMSI Sulut Agust Hari, Ketua AJI Manado Fransiskus Talokon, trainer Google Indonesia Supardi Bado dan Jane Rondonuwu dari IWO.
Para narasumber sepakat kepentingan politik dalam Pilkada tak bisa berbaur dengan kerja-kerja jurnalistik. Para jurnalis tetap mengambil posisi tengah, kendati media tempat mereka bekerja juga menjalin hubungan bisnis dengan para calon dan partai politik.
“Kenakan pagar api di halaman media kita, menandakan ruang redaksi bebas dari intervensi apapun,” seru Agust. (*)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post