Manado, Barta1.com – Dalam renungan Kristen hari ini Senin, 18 Maret 2024 diberi judul: Membunuh dengan Ciuman dengan bacaan Alkitab Lukas 22:48.
Ciuman pada hakikatnya berkonotasi baik. Karena secara normatif, mencium merupakan ekspresi rasa senang, bahagia, suka atau hal positif lainnya dari seseorang, kepada orang atau seseorang yang diciumnya. Selain itu, ciuman juga merupakan ungkapan rasa kebersamaan dalam ikatan persahabatan, persaudaraan atau kekeluargaan dan tanda salam yang menyatakan kasih yang tulus seseorang kepada yang lain.
Bahwa dengan ciuman itu, sebenarnya ada bangunan hubungan yang baik yang saling menyenangkan dan menyukacitakan baik yang mencium maupun yang dicium. Ciuman mengikatkan dan meningkatkan hubungan tali kasih dan persaudaraan yang baik bahkan lebih baik lagi di antara sesama manusia. Itulah pemaknaan ciuman secara normatif, positif dan yang diharapkan oleh orang kebanyakan (pada umumnya).
Tetapi jika kita mendengar kata ciuman disambung dengan nama Yudas, menjadi “Ciuman Yudas,” maka maknanya pasti bergeser signifikan. Berbalik 180 derajat. Ciuman Yudas sudah dikonotasikan negatif. Bahkan sudah terstigmatisasi (tercinta, jelek, negatif dan jahat). Ciuman Yudas sudah diartikan sebagai ciuman pengkhianatan. Karena tidak tanggung-tanggung Korban yang dia khianati. Yakni Rabi (Guru) dan Tuhannya.
Dia mengkhianati Yesus Sang Guru Agung dengan menjual-Nya dengan harga murah, yakni hanya 30 uang perak saja. Bayangkan, Tuhan dan Guru, hanya dijual obral. Model transaksinya adalah dengan ciuman.
Ciuman Yudas adalah ciuman kemunafikan yang penuh tipu muslihat dan yang motif pokoknya adalah pengkhianatan. Ciuman Yudas itu membuat Gurunya menderita sengsara, ditindas, dicambuk, didera, ditikam, dipaku dan mati mengenaskan tergantung di atas Kayu Salib. Itulah yang dicatat sejarah gereja sebagai pengkhianatan terbesar sepanjang masa. Yesus mati tersalib buntut ciuman Yudas yang mematikan itu, setelah ia menyerahkan Yesus ke tangan para imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi dan para pengawal Bait Allah. Oleh rasukan iblis dalam dirinya, Yudas akhirnya membunuh Yesus dengan ciuman kemunafikan dan pengkhianatannya itu.
Hal ciuman yang berbahaya sebenarnya juga sudah diingatkan oleh raja Salomo dalam wejangannya menyatakan bahwa terkadang pukulan seorang kawan masih jauh lebih baik daripada ciuman. Dalam Amsal 27:6, Salomo mengingatkan bahwa; “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.” Artinya bahwa ciuman yang berlebihan itu berbahaya. Bahkan ciuman yang tidak tulus atau tidak lahir dari hati yang bersih, itu berbahaya dan harus diwaspadai. Karena itu, menurut Salomo, masih jauh lebih baik pukulan dari kawan yang mendidik daripada ciuman kemunafikan dari musuh. Dalam bahasa lainnya, Salomo mengatakan; “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi, (Amsal 27:5).
Tetapi yang terjadi pada Yesus memang tragis. Sebab yang mencium sekaligus membunuh-Nya adalah murid kepercayaan-Nya sendiri. Bukan musuh atau lawan. Tapi kawan sekerja-Nya. Yudas menjadi musuh dalam selimut. Bahkan kata pepatah, Yudas itu “menggunting dalam lipatan.” Dia telah menghancurkan Sang Utama dengan terencana dan sangat tragis. Dia juga dapat dikategorikan sebagai Brutus, yakni kawan yang adalah lawan.
Setidaknya, Yudas adalah kawan yang diutus lawan untuk melawan kawan sendiri, dengan cara berkawan. Jadi, sistematis dan sangat tragis dan sadis, akibat ciuman Yudas itu. Dia melakukan sesuatu yang sama sekali di luar jangkauan pikir dari teman-temannya sesama murid Yesus. Tetapi Yesus tahu dan mengingatkannya berulang-ulang. Namun dia melawannya karena dia juga sesungguhnya sudah dikuasai iblis.
Yudas adalah kawan yang melawan Yesus. Itulah sebabnya, taktik dan metode pembunuhannya taktis, meski dia tidak dapat menyembunyikannya kepada Yesus. Karena Yesus tahu semuanya itu. Maka sebagai lawan yang masih berstatus sebagai kawan, Yudas membuat metode sebagaimana seorang kawan yang baik, yakni menciumnya sebagai tanda kesekawanannya. Padahal semuanya hanyalah akal bulus dan tipu muslihat kelicikan hatinya yang busuk. Maka dia membunuh Yesus dengan cara mencium Tuhannya, Yesus Kristus.
Demikian firman Tuhan hari ini: Maka kata Yesus kepadanya ‘Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman? (ayat 48).
Ciuman itu baik, positif dan konstruktif bahkan menjadi berkat bagi diri sendiri dan sesama, sejauh itu ditempatkan pada fungsi yang sebenarnya, pada orang, waktu dan situasi yang tepat. Bukan munafik, apalagi berkhianat. Itu Yudas masa kini. Janganlah menjadi Yudas versi baru. Tapi tetaplah menjadi pengikut Kristus yang setia meskipun menderita sengsara.
Bertobat dan jaga kekudusan hidup. Maknailah dalam ketaatan kepada Kristus tanpa batas dan tanpa syarat. Tuhan pasti mengaruniakan berkat yang terbaik dalam hidup kita, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post