Manado, Barta1.com – Dunia pendakian mengajarkan banyak hal tentang hidup. Salah satunya adalah menjadi seorang leader dalam pengambilan keputusan di masa sulit/genting, serta bagaimana mengorganisir hal-hal penting maupun tidak. Itulah yang dikatakan oleh pemuda asal Kepulaun Talaud, Sulawesi Utara, yakni Sutardy Mayore kepada Barta1.com, Kamis (14/03/2024).

Sebagai seorang disabilitas tanpa satu kaki tidak membuat Sutardy lengah dalam melakukan aktivitasnya, salah satunya melakukan pendakian dibeberapa gunung di Sulawesi Utara. “Saya sudah melakukan pendakian di Gunung Klabat, Soputan, Lokon, Ambang, Tampusu dan Empung,” singkatnya.
“6 Gunung yang bisa didaki itu, semuanya karena bantuan dari teman-teman. Mereka yang membuat saya terus bersemangat untuk bisa mencapai sebuah puncak,” ujar Tardy sapaan akrab dari teman-temannya itu.
Lelaki kelahiran Bitunuris, 16 Maret 1992 itu, menyebut keinginannya melakukan pendakian hingga saat ini berawal dari sebuah pergaulan, yang di mana teman-temannya kebanyakan memiliki hobi dengan namanya pendakian gunung.

“Pendakian itu merupakan proses, yang di mana kita belajar tentang kesiapan sebelum melakukan sesuatu, kemudian memastikan langkah yang akan diambil itu tepat atau tidak. Semuanya juga bergantung pada mental dan fisik dari setiap orang,” tuturnya.
Diibaratkan seseorang mendapatkan persoalan dalam kehidupannya, kata Tardy, ketika seseorang itu disebut leader pastinya bisa menyelesaikan persoalan tersebut tanpa adanya resiko yang besar. Sama halnya juga dalam pendakian, ketika mengalami kesulitan di lapangan yang diakibatkan oleh medan dan cuaca. Jika mental dan fisik seseorang sudah terbentuk, tentunya semua kesulitan bisa terlewatkan.
“Ada 3 hal yang saya lakukan ketika mengalami kesulitan saat pendakian, yang pertama adalah berhenti dan mencari tempat yang aman untuk beristirahat, kemudian berpikir untuk bisa mendapatkan jalan keluar, dan terakhir berdoa meminta tuntunan Tuhan agar keputusan yang diambil nantinya, sesuai dengan apa yang diharapkan,” terangnya.
Lanjut Tardy, ketika semua kesulitan dapat dihadapi dan bisa mencapai puncak dari gunung yang dituju. Setiap orang pastinya akan disuguhkan dengan pemandangan yang begitu indah dan menarik.
“Namun, bagi saya Keindahan dari setiap puncak gunung tidak bisa diungkapkan dengan kalimat, melainkan mendapatkan pembelajaran bahwa semakin tinggi posisi kita, maka semakin kita tidak terlihat oleh orang lain. Maka dari itu, jangan merasa paling tinggi di antara orang banyak, karena kita tidak akan terlihat oleh mereka,” ujar aparatur sipil negara (ASN) yang setiap harinya bertugas di Pelabuhan Perikanan Nusantara Kwandang, Gorontalo.
Alumni dari Universitas Sam Ratulangi Manado ini, ketika ditanya gunung apa selanjutnya yang akan didaki. Dirinya menjawab, masih akan mencari waktu yang tepat, yang bisa menyesuaikan dengan pekerjaan. Apalagi saat ini tidak berada di Sulawesi Utara, di mana lokasi teman-temannya berada. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post