Manado, Barta1.com – Dalam Renungan Kristen pada Jumat, 8 Maret 2024 dengan judul: Kejahatan Tertutupi Kebaikan sesuai dengan bacaan Yohanes 13:28-29.
Relasi atau hubungan kerja, pelayanan dan kekeluargaan atau persaudaraan di antara para murid Yesus cukup baik. Demikian juga hubungan para murid dengan Sang Guru Agung, tidak ada masalah. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada alasan untuk saling curiga antara satu dengan yang lain. Nyaris tak ada kecemburuan, iri, dengki dan atau saling fitnah di antara mereka, baik secara horisontal di antara para murid, juga secara vertikal antara murid dengan Yesus.
Semua murid loyal kepada Yesus. Semua setia mengikuti Yesus, meski memang ada saja dinamika dan riak-riak kecil sebagai tanda lancarnya pelayanan bersama Sang Kepala, Yesus Kristus. Sehingga, ketika Yesus berulang kali mengatakan bahwa ada di antara mereka yang berkhianat kepada-Nya, mereka ragu-ragu dan bingung. Sulit bagi mereka menuding atau mencurigai siapa yang Yesus maksudkan.
Semula Yesus menyebut bahwa tidak semua murid-murid-Nya bersih. Dia menyatakan lagi bahwa dari 12 murid itu, ada 1 yang menyerahkan (mengkhianati) Yesus. Bahkan secara spesifik kemudian Yesus menyebut tanda-tanda bahwa orang yang kepadanya Yesus berikan roti setelah mencelupkannya, dialah yang mengkhianat-Nya. Sebenarnya sudah sangat jelas penjelasan Yesus. Tapi karena memang hubungan kekerabatan di antara mereka baik dan tak ada satupun yang memiliki rekam jejak berlaku jahat kepada Yesus. Hubungan baik yang saling percaya antara satu dengan yang lain ini ternyata dipakai oleh iblis untuk menutupi kejahatan atau pengkhianatan kepada Yesus.
Buktinya ketika Yudas pergi meninggalkan Sang Guru dan teman-teman sesama murid itu, tidak ada yang curiga. Mereka tetap berpikir positif tanpa curiga apapun. Mereka mengait-ngaitkan kepergian Yudas setelah berbicara dengan Yesus itu adalah hal biasa, baik dan untuk kepentingan pelayanan mereka. Bukan tuduhan, fitnahan, sekalipun yang dilakukan Yudas benar-benar jahat.
Mereka menaruh pikiran positif dan baik, sesuai dengan ajaran Yesus. Karena itu mereka mengira bahwa Yudas yang pergi akan melakukan tugas-tugasnya sebagai bendahara. Perkiraan mereka, Yesus menyuruh dia untuk membeli sesuatu. Entah untuk keperluan perayaan perjamuan yang sedang mereka lakukan dan kebutuhan kegiatan pelayanan lainnya, atau untuk menolong orang miskin, seperti yang selalu mereka ajarkan dan teladankan selama ini.
Apalagi sebelum pergi kepada para imam kepala, tua-tua Yahudi dan ahli-ahli Taurat, Yudas sempat terlibat percakapan meski setengah berbisik dari Yesus kepada Yudas, murid kepercayaannya itu. Padahal, ketika itu Yesus menyampaikan peringatan terakhirnya kepada Yudas atas keputusan niat jahatnya itu. Ditambah lagi ketika itu dia (Yudas) sudah dirasuki atau dikuasai iblis. Sehingga dia relatif sudah dikendalikan iblis baik cara berpikir, hatinya maupun perbuatannya.
Tetapi semuanya itu tidak membuat murid-murid yang lain berburuk sangka kepadanya. Semua karena ajaran Yesus yang tertanam dalam hati dan pikiran mereka selalu berpikir dan berbuat baik dalam kasih. Ternyata situasi seperti ini justeru dimanfaatkan oleh iblis untuk memuluskan modus operandi dan rencana jahatnya. Kebaikan mereka dimanfaatkan oleh iblis untuk mengaburkan situasi agar kejahatannya terbungkus dan terlindungi oleh kebaikan. Itulah kelicikkan iblis memanfaatkan berbagai situasi. Termasuk orang baik dan suasana yang baik sekalipun. Semua terlihat seperti baik-baik saja, padahal itulah awal mula pengkhianatan terbesar sepanjang masa itu terjadi.
Demikian firman Tuhan hari ini: Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas ada yang menyangka, bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin, (ay 28-29).
Kita tidak boleh lengah. Juga tidak boleh terbuai oleh situasi baik-baik saja di sekitar kita. Memang kitab tidak boleh berprasangka buruk, berpikiran negatif. Tetapi kita harus memiliki kepekaan terhadap iblis yang menyusup dengan segala tipu dayanya.
Kepekaan tidak berdimensi atau bermaksud untuk berprasangka. Tapi dalam segala hal, kita menggunakan hati yang tulus, penuh kasih dan kebaikan sehingga kita dapat membedakan mana yang berasal dari Kristus dan mana yang bagian infiltrasi iblis. Miliki hikmat Allah agar kita dapat memilah dan memilih antara yang baik dan benar, tanpa menghakimi tetapi tetap dalam dasar kasih dan kebaikan bagi semua orang, serta terutama untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan. Maka Tuhan Yesus pasti menyertai dan memberkati kita berasama keluarga dalam sehala hal, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post