Sangihe, Barta1.com – Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Resort Manganitu menggelar Workshop pengetikan Bahasa Sangihe, di Jemaat Eben Haezer Manganitu, Selasa (5/7/2022).
Workshop tersebut menghadirkan Takashi Nakagawa, seorang peneliti bahasa berwarganegara Jepang yang merancang aplikasi untuk kegunaan pengetikan Bahasa Sangihe.
Aplikasi tersebut dirancang untuk membantu menulis beberapa simbol karakter yang digunakan pada beberapa huruf dalam Bahasa Sangihe.
Menurutnya karakter huruf yang ia buat dalam aplikasi Sangir β1.0 mengikuti karakter yang diciptakan sebelumnya, atau yang ada dalam Kamus Bahasa Sangihe, KGF Steller dan Aebersold.
Meski begitu kata dia, perkembangan dari keyboard ini hanya merupakan sebuah percobaan kecil untuk dapat menggunakan ortografi Bahasa Sangihe dalam teknologi informasi masa kini.
“Teknologi digital telah berkembang dengan pesat. Saya harap beberapa dari komunitas yang ada di Sangir dapat mengembangkannya sesuai perubahan teknologi, seperti pengetikan pada Hp,” kata dia.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WITA itu dibuka oleh Ketua Resort Manganitu, Pdt. Effendi H. Tasin, M. Th dan Sekretaris Umum Sinode GMIST, Pdt Clementil Oleng M.Th.
Sekretaris Umum Sinode GMIST, Pdt Clementil Oleng M.Th, Sinode GMIST menyambut baik Workshop pengetikan menggunakan aplikasi Bahasa Sangihe yang diinisiasi oleh Badan Pekerja Majelis Resort Manganitu.
“Sejauh ini resort yang memberi perhatian khusus terhadap bahasa daerah adalah Manganitu. Mudah-mudahan Resort Manganitu menjadi motor untuk membagikan ke resort-resort lainnya. Dan aplikasi ini akan semakin dikenal banyak orang dan memberikan peluang kepada banyak orang untuk menggunakannya terutama untuk pelayanan,” kata dia.
Sekum GMIST juga menyampaikan terima kasih kepada Takashi Nakagawa selaku peneliti yang menciptakan aplikasi penggunaan Bahasa Sangihe. Menurutnya dengan aplikasi tersebut orang-orang Sangihe akan sangat terbantu dalam pelayanan dan pelestarian Bahasa Sangihe.
“Terima kasih untuk menjadi berkat diberikan kepada kami. Ini langkah strategis untuk lebih menjemaatkan Bahasa Sangihe, tidak hanya untuk orang tua-tua, tetapi untu semua,” kata dia.
Camat Manganitu Julian Pesik yang juga hadir, menyambut baik kegiatan tersebut. Camat menekankan semua elemen dapat bersama-sama dalam mengembangkan kebudayaan termasuk pelestarian Bahasa Daerah. “sangat luar biasa, langkah ini adalah bentuk untuk melestarikan Bahasa Sangihe dan ini sangat baik untuk pemajuan kebudayaan,” kata Pesik, sambil memohon dukungan pelaksanaan Festival Seni Maobungang yang tidak lama lagi akan diselenggarakan.
Budayawan Sangihe, E Sipir (66) berharap untuk kalangan umat Kristiani khususnya dalam peribadatan, anak-anak muda juga perlu mengambil bagian. “mereka juga seharusnya perlu mengetik liturghi Bahasa Sangihe. Jangan berpikir bahasa ini hanya untuk orang tua. Ini adalah identitas kita bersama,” ungkap Sipir.
Sementara itu salah satu peserta Worshop, Novanty Saselah bersyukur bisa mengikuti kegiatan tersebut. Kata dia dengan mengetahui penggunaan aplikasi Bahasa Sangihe mereka dapat terbantu dalam mengetik hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan Bahasa Sangihe.
“bersyukur bisa dapat diikutkan dalam kegiatan ini, ini sangat bermanfaat dalam kami menggunakan penulisan Bahasa Sangihe dalam berbagai kegiatan. Ini juga dapat membiasakan kita menulis Bahasa Sangihe dengan baik dan benar,” kata Novanty.
Workshop pengetikan Bahasa Sangihe yang menghadirkan Takashi Nakagawa diikuti oleh 35 orang perta yang terdiri dari perwakilan jemat-jemaat GMIST Resort Manganitu, serta tim kerja yang dikoordinir oleh Sekretaris GMIST Resort Manganitu Pdt. A. S. M. Lihondatu, S. Th.
Peliput : Rendy Saselah


Discussion about this post