Tahun 2018, Johanis Fernando Rinaldy Somba terpilih sebagai sutradara terbaik Festival Seni Pemuda GMIM (FSPG) lewat pertunjukan semi kolosal “Hadineas Sang Prajurit” yang disutradarainya.
Di jagat teater Sulawesi Utara (Sulut), ia lebih dikenal dengan nama Ando Somba.
Lahir di Manado, 29 Januari 1995. Pendidikan SD Kartika 2000 – 2006, SMP Negeri 7 Manado 2006 – 2009, SMK Negeri 2 Manado 2009 – 2012. Kini bekerja di sebuah instansi pemerintah Sulut. Pada 2021 menikah dengan Christina Melati Sotarampak.
Mengawali kiprahnya di dunia teater pada tahun 2009 baik sebagai aktor kemudian menjadi asisten sutradara untuk FSPG dengan naskah “Babel Edenia” karya dan Sutradara Vick Chenorre.
Di tengah kesibukan pekerjaan kantor di mana ia bekerja, ketertarikannya mendalami teater terus dilakukan dengan berguru pada sejumlah dramawan senior Sulut di antaranya Iverdixon Tinungki, Erick M.F Dajoh, Vick Chennore, Aldes Sambalao, Christian Lumenta.
Ia juga terlibat dalam sejumlah produksi dan pementasan teater di Sulut, seperti pada tahun 2013 menjadi aktor dalam Pentas Produksi lakon “Universitas Orang-orang Mati” karya Irwan Jamal yang disutradarai Christian Lumenta.
Ikut sebagai pekerja panggung dalam puluhan pertunjukan teater di berbagai kota. Menjadi asisten sutradara di beberapa pementasan. Menjadi tim tata artistik dan urusan panggung lainnya. Semua pengalaman di dunia panggung itulah kemudian mengantar dia menjadi salah satu sutradara terkemuka saat ini di Sulut.
Pada tahun 2015 ia mengawali kiprahnya sebagai sutradara dengan lakon “Puisi Pengharapan” karya Iverdixon Tinungki. Tahun 2019 menjadi aktor di Pentas Produksi MTH dalam lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Richard Juandy Salensehe.
Karya-karya yang pernah disutradarainya di antaranya: Lakon “Doa-doa Samara” karya Vick Chenorre. Lakon “Revolusi Lonceng” karya : Vick Chenorre. Lakon “Penyaliban” karya dan sutradara Ando Somba (*)


Discussion about this post