Sebagai kawasan di jalur perdagangan dunia sejak abad ke-16, Gorontalo tak lepas dari sejumlah perisitwa besar perang dan penaklukan untuk kepentingan monopoli perdangan rempah. Portugis, Spanyol dan VOC Belanda pernah menjejak kaki di sana.
Di atas jejak kejayaan dan keruntuhannya, masih nampak sejumlah artefak dari masa pertikaian kepentingan penguasa rempah Nusantara ketika itu. Bandar, benteng, kota pesisir, pasar, kultur dan tradisi, bahkan catatan-catatan historiografi masih terlihat hingga kini.
Pada abad ke 16, kerajaan Hulontalo (sekarang Kota Gorontalo) merupakan vasal kesultanan Ternate di bawah Sultan Babullah yang memiliki peran dalam perluasan hegemoni kekuasaannya di Sulawesi Bagian Utara. Di era itu, kerajaan Hulontalo (Gorontalo) dipimpin Putri Poheleo bergelar ju Balu.
Pada masa yang sama, ekspansi kesultanan Ternate di Gorontalo berbenturan dengan hegemoni kesultanan Gowa di bawah kekuasaan I Mangngarangi Daeng Manrabia. Sultan Alauddin yang bergelar Tumenanga Ri Gaukanna mengirim ekspedisinya ke Gorontalo untuk membantu Ratu Ntidehu pemimpin kerajaan Limutu (sekarang Kabupaten Limboto) yang ketika itu berselisih dengan kerajaan Hulontalo.
Perselisihan ini kemudian membuat Khatibidaa Eyato kerajaan Hutlontalo melakukan Lodudula (perundingan) dengan raja Ilato yang bergelar Olongia To Tilayo penguasa kerajaan Limutu.
Penjanjian itu menjadikan kerajaan Hulontalo dan kerajaan Limutu sebagai persekutuan bagi keduanya. Kedua kerajaan ini kemudian memiliki pengaruh besar atas wilayah-wilayah lain di sekitarnya.
Tahun 1677 VOC melalui gubernur Maluku Robertus Padtbrugge mendatangi Utara Sulawesi yang menjadi negeri-negeri di bawah hegemoni Gowa dan Ternate sebagai bagian dari penaklukannya atas kesultanan Gowa melalui perjanjian Bongayya 1667 dan kesultanan Ternate.
Padtbrugge tiba di Kwandang (Gorontalo Utara) pada 25 September 1677 disambut Jogugu dan para pembesar kedua kerajaan Hulontalo dan Limutu.
Pada 26-27 September 1677 bersama sekretaris Sultan Ternate dan Pachter Pieter Tidesz mengunjungi Hulontalo bertemu dengan Raja Eyato yang bergelar Olongia to Tilayo sebagai penguasa Hulontalo dan Raja Bia bergelar Olongia To Huliyaliya sebagai penguasa Limutu untuk menyampaikan kesepakatan atas pelepasan vasal dari hegemoni kesultanan Gowa dan kesultanan Ternate.
Pada awal pendudukan VOC di Gorontalo itu, Raja Eyato memindahkan pusat kerajaannya ke Dungingi (sekarang Desa Tuladengi). Upaya tersebut dipandang VOC sebagai ancaman terutama peran Raja Eyato sehingga dilakukan penangkapan dan pengasingan.
Tahun 1690 Raja Eyato diasingkan ke Ceylon (Srilangka) hingga wafat dan diberi gelar Ta To Selongi. Ia digantikan Raja Lahay, kemudian berlanjut hingga masa Raja Walangadi.
Tahun 1705 Robertus Padtbrugge mendirikan Kantor Dagang dan Pakhuis di bagian selatan sekitar Kampung Tenda sekarang. Wilayah itu terus dikembangkan menjadi sebuah pemukiman dan menjadi embrio koloni Belanda di Gorontalo.
Pada masa raja Botutihe tahun 1720, ia memindahkan pusat pemerintahan (Batato) kerajaan Hulontalo dari Dungingi ke Biawau yang lebih dekat dengan wilayah pesisir.
Lalu pada 6 Sya’ban 1140 Hijriah atau 17 Maret 1728 Masehi Raja Botutihe membangun pelabuhan, pasar, serta dilakukan penataan kota, pembuatan jalan, jembatan dan pembangunan saluran air persawahan di Tanggikiki dan Tanggidaa.
Karena masa pemerintahan Raja Botutihe berakhir hingga usia lanjut, ia diberi gelar Ta To Maihirabu. Beliau wafat dan dimakamkan di belakang Masjid Baiturrahim sekarang.
Voc kemudian secara perlahan menggeser kedudukan Olongia (Raja) di Gorontalo. Pada 31 Desember 1799 VOC resmi mengalami kebangkrutan dan Gorontalo memasuki sejarah baru yang juga menjadi bagian dari masa Hindia Belanda.
Editor: Iverdixon Tinungki
Sumber: Bernaldy Laoming, Sinopsis Film Dokumenter Jalur Rempah di Gorontalo.
(Catatan: Penggunaan narasi ini dalam bentuk audio visual harus seizin sumber).


Discussion about this post