Oleh:
Nur Evira Anggrainy*
Kecanggihan teknologi dan bermunculannya platform media sosial, semakin mempermudah setiap individu untuk mengetahui kondisi yang terjadi pada suatu wilayah ataupun kabar terbaru mengenai kehidupan individu lain. Media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dan masih banyak jenis lainnya, benar-benar mempermudah agar dapat terhububung dengan berbagai hal. Anda hanya perlu membuka handphone, maka bermunculan postingan terbaru maupun informasi yang sedang hangat dibicarakan saat ini. Namun, ketika timbul perasaan takut tidak terhubung atau tertinggal untuk mengetahui postingan terbaru dari teman-teman maupun informasi yang terjadi, maka hal tersebut disebut Fear of Missing Out atau FoMO.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pandemi covid-19 telah memaksa setiap individu untuk menjaga jarak ataupun lebih banyak beraktifitas di rumah. Kondisi tersebut menjadikan penggunaan handphone semakin meningkat. Penggunaan handphone sebagai alat komunikasi, dianggap dapat menghubungkan dengan dunia luar dan mengetahui apa saja yang sedang terjadi. Misalnya, tanpa harus keluar rumah dan bertemu langsung, aktifitas teman dapat diketahui melalui postingannya di media sosial. Dan untuk dapat selalu terhubung dengan berbagai hal yang dilakukan oleh teman-teman, waktu berinteraksi dengan handphone pun semakin bertambah pula.
Przybylski dkk (2013) mengungkapkan bahwa bertambahnya interaksi dengan handphone yang berdampak pada ketakutan ketinggalan postingan aktifitas teman maupun informasi yang sedang beredar, tanpa sadar membuat individu mengalami FoMO. Meskipun tidak mengunggah postingan atau membuat status, individu yang mengalami FoMO, merasa wajib untuk terhubung di dunia maya serta mengetahui apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Pada akhirnya, ia tidak dapat lepas dari handphone karena muncul ketakutan akan ketinggalan atau tidak terhubung dengan individu lain.
Kemunculan FoMO pada diri individu, bisa pula memunculkan dampak kecanduan bermedia sosial. Sehingga, ia lebih sibuk berada di dunia maya dibandingkan dengan berada di dunia nyata. Dunia maya dianggap lebih asyik daripada harus berinteraksi dengan sekitar secara nyata. Dampaknya pun menjadi lebih luas karena individu yang mengalami FoMo, menjadi tidak peduli dengan sekitar, dan membuat hubungan dapat merenggang. Misalnya hubungan dengan orang tua atau pasangan.
Sangat disayangkan apabila sedang berkumpul dengan pasangan setelah seharian disibukkan dengan perkerjaan, disebabkan karena ketakutan tidak terhubungan dengan teman-teman di media sosial, akhirnya lebih sibuk menyapa, like, komentar pada postingan-postingan yang muncul di beranda. Dunia maya dianggap lebih asyik dibanding berbicara dengan pasangan. Padahal mengobrol intim dengan pasangan mengenai perkembangan anak, maupun hal-hal penting lainnya yang harus didiskusikan, merupakan sesuatu yang penting demi penguatan rumah tangga.
Sangat disayangkan pula apabila seorang anak yang jarang bertemu dengan keduaorangtuanya karena telah tinggal terpisah, dan ketika bertemu si anak hanya sibuk dengan handphone ditangan. Tidak ada obrolan berkualitas atau sekedar menanyakan kondisi kesehatan orang tua, dikarenakan si anak takut ketinggalan postingan terbaru dari beranda teman-temannya. Pada akhirnya, kualitas hubungan antara orang tua dan anak menjadi renggang karena kurangnya komunikasi. Si anak lebih sibuk dengan dunia maya, dibanding berhadapan dengan dunia nyata yaitu quality time dengan orang tua.
Berinteraksi dengan media sosial adalah hal yang diperbolehkan, namun bila berlebihan maka dampaknya pun tidak baik. Przybylski dkk (2013) juga mengungkapkan bahwa media sosial dapat menjadi penyebab individu terkena FoMO. Hal tersebut diakibatkan adanya kebutuhan psikologis untuk tetap terhubung dengan individu lain, menghilangkan rasa bosan, dan juga rasa kesendirian. Namun, kebutuhan psikologis yang ingin didapatkan, bisa jadi akan berdampak tidak baik dan menghasilkan emosi negatif apabila mengkonsumsi internet tersebut secara berlebihan. Individu menjadi merasa wajib untuk mengetahui teman sedang makan dimana, sedang memasak apa, ataupun sedang jalan dengan siapa.
Ketika melihat postingan teman menjadi hal yang wajib dilakukan, akhirnya bisa timbul lagi masalah yang baru, yaitu membanding-bandingkan kehidupan si A atau si B dengan hidup yang sedang dijalani. Padahal tidak semua hal yang diposting di media sosial, merupakan sesuatu yang benar-benar dilakukan atau dialami. Bisa saja kehidupan teman yang telah memposting aktifitasnya, hanya sebuah pencitraan dan bukan yang sebenarnya dialami. Membanding-bandingkan kehidupan peribadi dengan individu lain, menghasilkan kecemasan dan membuat self-esteem menurun.
Self-esteem adalah evaluasi diri yang dilakukan oleh individu dari hasil interaksi dengan lingkungan, serta penerimaan maupun perlakuan dari individu lain (Coopersmith, 1981). Ketika self-esteem menurun, artinya individu tersebut memandang dirinya sebagai pribadi yang negatif. Misalnya, tidak memiliki kemampuan dibidang apapun atau tidak layak menduduki posisi tertentu karena merasa tidak pintar. Hal seperti ini tentu saja merugikan karena potensi yang ada di dalam diri, tidak dapat diaktualisasikan dengan baik. Ketika bermedia sosial membuat self-esteem menurun karena sibuk membanding-bandingkan diri sendiri dengan yang lain, artinya bermedia sosial memiliki dampak yang negatif pula pada kondisi psikis individu itu.
Pemaparan di atas dapat menjadi renungan mengenai bahaya FoMO yang dapat mengintai kesejahteraan psikologis. Padahal perlu pula diketahui bahwa kondisi psikis dapat mempengaruhi fisik. Fisik yang terpengaruh, tentu akan membuat individu memiliki imun yang rendah dan berdampak pada masuknya berbagai penyakit.
Berbagai solusi bisa dilakukan ketika individu merasa telah dijangkiti oleh FoMO. Hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi FoMO adalah sebagai berikut:
Membatasi penggunaan media sosial atau diet medsos. Anda dapat menjadwalkan diri mengenai kapan harus membuka media sosial dan mengubah mind set bahwa tidak wajib untuk mengetahui semua yang dilakukan oleh teman di dunia maya.
Meningkatkan self-esteem. Anda bisa mulai dengan bersyukur pada keadaan diri, serta menggali potensi yang dimiliki. Sibuk menggali potensi dan melakukan hal positif, dapat membuat individu percaya diri dan merasa memiliki kemampuan, sehingga rasa berharga pada diri sendiri pun menjadi meningkat.
Dunia nyata juga penting. Anda bisa mulai dengan menyimpan handphone dan berinteraksi dengan sekitar. Berbincang dan berdiskusi secara nyata, sepertinya lebih mengasyikkan.
Minta bantuan professional apabila FoMO tidak mampu diatas oleh diri sendiri dan dianggap sebagai sesuatu yang sangat mengganggu kehidupan nyata Anda. (**)
*Penulis adalah Staf Pengajar Program Studi Psikologi IAIN Manado
Referensi :
Coopersmith, S. (1981). The antecedents of self-esteem. San Francisco, CA: Freeman.
Przybylski, A., K., Murayama, K., Haan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computer in Human Behavior, 29, 1841–1848. doi: 10.1016/j.chb.2013.02.014.


Discussion about this post