• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Minggu, Mei 31, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home SWRF

Bahasa; Melahirkan Pikiran, Menyampaikan Perasaan, Memperluas Pengetahuan

by Redaksi Barta1
2 September 2021
in SWRF
0
foto ilustrasi pixabay

foto ilustrasi pixabay

0
SHARES
229
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan:
Dwi Sutana*

“Pintu yang berat itu berderit terbuka dan dua orang gadis masuk ke dalam gedung akuarium. Keduanya berpakaian cara Barat; yang tua dahulu sekali masuk memakai jurk (dari Bahasa Belanda: pakaian wanita Eropa) tabralko putih bersahaja yang berbunga biru kecil-kecil. Rambutnya bersanggul model Sala, berat bergantung pada kuduknya. Yang muda, yang lena mengiring dari belakang, memakai rok pual sutra yang coklat warnanya serta belus pual sutra yang kekuning-kuningan. Tangan belus itu yang panjang terbuat dari georgette yang halus berkerut-kerut, mengembang di pergelangan tangan, sangat manis rupanya. Rambutnya yang lebat dan amat terjaga, teranyam berbelit-belit bergulung merupakan dua sanggul yang permai.”

(Layar Terkembang, karya ST Takdir Alisyahbana ; hal:1)

Novel Layar Terkembang karya penyair Pujangga Baru, ST Takdir Alisyahbana adalah bacaan wajib saya di bangku SMP. Masih segar di ingatan, sekitar tahun ’78, guru Bahasa Indonesia kami, Ibu Muryani mengulang betapa pentingnya karya novel “Layar Terkembang” dalam kesusastraan Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa melalui novel ini diangkat kisah perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita-citanya. Novel ini terbit pada tahun 1936, ketika mayoritas masyarakat Indonesia berada dalam pemikiran lama. Melalui novel ini, Ibu Muryani memberikan pandangan tentang pemikiran budaya, modernitas, kesadaran gender selain kisah romansa kakak beradik Tuti, Maria, dan Yusuf seorang mahasiswa kedokteran yang tampan.

Saya menghabiskan masa remaja di Bakungan, Karangdowo — Klaten, Jawa Tengah. Sebuah kecamatan yang tidak ramai, desa yang jauh dari hingar bingar perkotaan. Melalui buku pikiran saya diajak mengembara ke tempat yang demikian jauhnya. “Layar Terkembang” adalah salah satunya. Buku tersebut, membuka cakrawala akan luasnya Nusantara. Dan, karena buku itulah cikal keberanian saya berpetualang semakin menjadi.

Setelah menamatkan Pendidikan di Universitas Sebelas Maret-Solo, saya diterima sebagai sebagai pegawai negeri sipil dan bertugas di Balai Bahasa Provinsi Bali (1991 – 1994), Balai Bahasa D.I.Y. Jogjakarta (1994– 2012), Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau ( 2012– 2017), Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat (2017– 2020 ), hingga Balai Bahasa Provinsi Sulut (2020–kini ). Melalui perjalanan karir saya, bahasa telah menjadi semacam “pisau bedah” dalam memahami lingkungan sosial dan perkembangan peradabannya.

Poerwadarminta dalam bukunya “Bahasaku” mengatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang yang berupa sembarang bunyi (bunyi Bahasa) dipakai manusia untuk melahirkan pikiran dan perasaan dalam memperluas pengetahuan. Bagi saya memiliki keterampilan bahasa adalah hal utama yang harus dimiliki, karena melalui bahasalah kita dapat menyampaikan pikiran dan perasaan.

Membina kebahasaan
Selama pengabdian saya di Balai Bahasa, saya memaknai bahwa institusi ini didirikan untuk turut membangun peradaban dan meletakan identitas manusia Indonesia. Sebagai produk dari kebudayaan, bahasa yang selalu berkembang mengiringi dinamika peradaban manusia. Kata “bahasa” berasal dari kata Sansekerta “bhasa” yang berarti “wicara atau ucapan”. Dalam disiplin Antropologi, khususnya Antropologi Sosial/Budaya, bahasa memiliki posisi yang unik karena bukan hanya sebagai “produk kebudayaan manusia” melainkan juga sebagai “medium transmisi kebudayaan tersebut”. Sejalan dengan tugas dan fungsinya, Balai Bahasa turut menyertai perkembangan bahasa melalui berbagai penelitian, pengembangan, serta pembinaan kebahasaan, dan kesastraan.

Sulawesi Utara adalah wilayah yang unik dan sangat beragam. Dengan luas wilayah 14.360,56 Km, Sulawesi Utara dihuni oleh tiga etnis utama yakni Minahasa, Nusa Utara, dan Bolaang Mongondow dengan pengunaan bahasa/ dialek yang beragam terdiri dari: Bahasa Tonsea, Toulour, Toutemboan, Tounsawang, Pasan, Ponosokan, Bantik (dituturkan olah masyarakat etnis Minahasa), Bahasa Sangir dengan dialek Tagulandang, Siau, Sangir Besar dan Bahasa Talaud (dituturkan oleh masyarakat etnis Sangihe-Talaud), Bahasa Bolaang Mongondow dengan dialek Kaidipang, Bintauna, Mongondow.

Dalam perkembangannya, kebahasaan daerah di Sulawesi Utara tengah menghadapi tantangannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat dua bahasa yang dikategorikan terancam punah yakni Bahasa Pasan dan Ponosakan (dengan jumlah penutur di bawah 100 orang). Bahasa lainnya seperti bahasa Tonsea, Toulour, Toutemboan, Bantik berada di fase kritis, dengan jumlah penutur yang makin berkurang setiap waktunya.

Terdapat beberapa faktor mendasar yang menyebabkan berkurangnya penutur dan hampir punahnya bahasa di Sulawesi Utara. Berkembangnya penggunaan bahasa Malayu Manado sebagai bahasa “regional”, faktor globalisasi di bidang teknologi informatika hingga merosotnya nilai kepedulian generasi muda terhadap budaya tradisi menjadi penyebab berkurangnya minat terhadap bahasa ibu di Sulawesi Utara.

Menyikapi hal ini, Balai Bahasa senantiasa menyusun serangkaian langkah strategis melalui berbagai program kegiatan. Namun, membina dan mengembangkan kebahasaan merupakan sebuah kerja kolektif. Diperlukan kerjasama yang erat antara pemerintah daerah, media, komunitas hingga kalangan bisnis untuk memupuk kesadaran memelihara dan melestarikan bahasa ibu.

Mengembangkan Kesusastraan
Sastra adalah seni dalam menggunakan bahasa sehingga menghasilkan tutur kata yang estetis (Mulyo; 2016). Sesuai dengan fungsinya, seni akan selalu “menggerakan” perasaan setiap individu yang bersentuhan dengannya. Mengembangkan sastra sebagai bagian dari seni akan mendorong “rasa” dari setiap batin manusia untuk menggapai “keindahan”, oleh karenanya mendorong kesusastraan merupakan salah satu upaya yang dikembangkan untuk memberikan rangsangan kecintaan masyarakat terhadap bahasa.

Salah satu program yang digagas oleh Balai Bahasa dalam mengembangkan Kesusastraan adalah program Bengkel Sastra. Melalui program ini, Balai Bahasa berupaya untuk meningkatkan apresiasi sastra bagi masyarakat dengan memberikan berbagai pelatihan, workshop serta apresiasi bagi siswa, penyair muda hingga pendidik. Melalui program Bengkel Sastra, diharapkan akan lahir para sastrawan-sastrawan masa depan yang dapat turut membangun kebudayaan melalui kekuatan kata dan bahasa

Karya sastra merupakan salah satu karya yang abadi. Melalui karya sastra, kita dapat menelaah pikiran di setiap zaman dan menjadikannya bekal bagi menuliskan masa kini dan yang akan datang. Seperti halnya novel Layar Terkembang yang sangat menginspirasi, saya yakin beragam karya sastra lain yang dihasilkan dapat turut memelihara dan mengembangkan kebudayaan.

Oleh karenanya, keterlibatan Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara dalam perhelatan Festival Literasi Sangihe ( Sangihe Writers & Readers Festival) merupakan sebuah upaya kolaboratif untuk kembali mendudukan bahasa dan sastra sebagai salah satu elemen utama pembangunan kebudayaan. Para seniman dan komunitas literasi adalah ujung tombak dari lestarinya bahasa, dan tugas pemerintahlah mengiringi agar hak hidup bahasa sebagai bagian dari kebudayaan terlindungi dan tetap lestari. Memelihara dan melestarikan budaya dapat dimulai dengan kembali mengenali bahasa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Dan karenanya, apa yang dituliskan oleh penyair besar kita JE Tatengkeng di masa silam masih sangat relevan untuk kita renungi kembali di hari ini.

O Kata

Sudah genap..
O kata
Dua patah,
yang dikata dengan nyata,
Oleh badan payah patah.

Itu kata
Ada berita,
Terbesar dari sewarta
Karna oleh kata nyata
Tuhan menang segala titah!
Karna kata,
Aku serta
oleh Allah diberi harta
Selamat alam semesta.

*penulis adalah Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara

Barta1.Com
Tags: balai bahasaliterasisangihe writers and riders festivalSWRF
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Bupati Gaghana, Didampingi Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah, Johanis Pilat Menyerahkan Proposal Transformasi Gedung Perpustakaan Daerah Sangihe

Seriusi Pengembangan Literasi di Sangihe, Bupati Gaghana Kunjungi Perpusnas RI

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Perkuat Sinergitas, Plt Bupati Sitaro Antar Kepulangan Mensesneg saat Kunker di Sulut 30 Mei 2026
  • Dampingi Kunker, Kepala SMA Taruna Nusantara Kampus Langowan Puji Mensesneg 30 Mei 2026
  • Pemkab Sangihe Kembali Raih Opini WTP, Pertahankan Tradisi Tata Kelola Keuangan yang Akuntabel 29 Mei 2026
  • Pemkab Sitaro Kembali Raih Opini WTP dari BPK RI, Ini Apresiasi Plt Bupati 29 Mei 2026
  • Rumah Sakit Bergerak Kepulauan Talaud Berbenah, Tinenta Pastikan Pelayanan Akan Maksimal 29 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In