• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Politik

Komunikasi Politik Pejabat ESDM Sulut Soal Tambang Rakyat, Miskin Etika

by Meikel Eki Pontolondo
26 Maret 2026
in Politik
0
Komunikasi Politik Pejabat  ESDM  Sulut Soal Tambang Rakyat, Miskin Etika
0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com — Komunikasi politik di era kekinian kian strategis seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Masyarakat pun semakin kritis dalam menyampaikan pandangan, sehingga menuntut para pejabat dan birokrat untuk lebih cerdas, tanggap, serta proaktif-antisipatif dalam merespons berbagai isu dengan penjelasan yang lugas dan tepat.

Hal tersebut disampaikan pengamat politik, Taufik Tumbelaka, kepada awak media, Kamis (26/03/2026). Menurutnya, tuntutan ini berlaku bagi seluruh penyelenggara negara, termasuk jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

“Dalam beberapa hari terakhir, terlihat berbagai upaya sosialisasi dan penjelasan, atau lebih tepatnya, usaha menangkis pandangan, yang dilakukan sejumlah jajaran Pemprov Sulut. Salah satu yang menarik perhatian adalah langkah seorang oknum pejabat Dinas ESDM Sulut sekitar enam hari lalu,” ungkap alumni Universitas Gadjah Mada tersebut.

Ia menilai, kemunculan pernyataan oknum pejabat tersebut di berbagai media massa cukup mengejutkan. “Terlihat ada upaya untuk menyeimbangkan pandangan dari aktivis lingkungan, masyarakat adat, dan lembaga bantuan hukum yang disampaikan melalui media sosial terkait isu pertambangan,” ujarnya.

Menurutnya, langkah itu pada dasarnya dapat dipahami sebagai bagian dari ruang komunikasi politik—sebuah kewajiban bagi pejabat dalam merespons isu publik. Namun, ia menyoroti aspek lain yang dianggap janggal.

“Menjadi aneh ketika komunikasi politik dilakukan tanpa mempertimbangkan etika,” tegasnya.

Ia menambahkan, persoalan etika mencuat karena langkah tersebut dilakukan bertepatan dengan momentum dua hari raya keagamaan, saat para kepala daerah di Sulut tengah fokus pada agenda keagamaan dan kemasyarakatan.

“Dalam situasi seperti itu, patut dipertanyakan standar etika, kesantunan, dan tata krama yang digunakan,” katanya.

Ia bahkan mengaitkan hal ini dengan pengalaman pribadi saat bertamu ke salah satu pejabat eselon II Pemprov Sulut. “Tiba-tiba ada pejabat lain masuk tanpa basa-basi. Saya melihat tuan rumah menjadi tidak nyaman, sehingga saya memilih pamit demi menjaga situasi tetap kondusif,” tambahnya.

Menurutnya, perilaku aparat dan birokrat semestinya mencerminkan kematangan, terutama dalam memahami etika, terlebih ketika telah memegang jabatan tinggi.

Di sisi lain, ia juga menilai langkah yang diambil menunjukkan lemahnya perencanaan komunikasi. “Ada kesan tindakan diambil secara tiba-tiba, bukan berdasarkan perencanaan matang. Seharusnya, sosialisasi terkait tambang rakyat sudah masuk dalam desain komunikasi politik yang jelas, lengkap dengan jadwal yang terukur,” jelasnya.

Langkah proaktif, lanjutnya, idealnya dilakukan jauh hari, bukan secara mendadak—terlebih di momen sensitif seperti hari raya keagamaan.

“Apa yang terjadi ini menambah pekerjaan rumah bagi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut untuk membenahi jajarannya. Harapannya, tidak ada pembiaran,” tegasnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya penguatan pemahaman bagi pejabat dan birokrat mengenai makna tanggung jawab jabatan, termasuk aspek soft skill yang dinilai masih perlu perhatian serius.

“Ini menjadi catatan penting bagi duet kepemimpinan Sulut, yakni Gubernur Yulius dan Wakil Gubernur Victor, beserta seluruh jajaran,” pungkasnya. (*)

Editor: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: ESDM SulutMomentum Yang SalahSoal Tambang RakyatTaufik Tumbelaka
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Pemprov Sulut : Transformasi SMK dan 50 Sekolah Direvitalisasi

Pemprov Sulut : Transformasi SMK dan 50 Sekolah Direvitalisasi

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Pemprov Sulut : Transformasi SMK dan 50 Sekolah Direvitalisasi 26 Maret 2026
  • Komunikasi Politik Pejabat ESDM Sulut Soal Tambang Rakyat, Miskin Etika 26 Maret 2026
  • Pemkab Sangihe Gelar Lelang Sarang Walet, Kapitalaung Kalama Soroti Dampak Harga 25 Maret 2026
  • Gubernur Yulius Selvanus Sebut LKPJ 2025 “Outdated 25 Maret 2026
  • DPRD Sulut Bentuk Pansus LKPJ 2025, Komposisi Didominasi PDI Perjuangan 25 Maret 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In