Manado, Barta1.com — Alumni Universitas Gadjah Mada, Taufik Tumbelaka, menilai bahwa dari sekian banyak komunitas yang ada di Sulawesi Utara (Sulut), hanya satu yang menurutnya layak disebut sebagai yang terbaik, yakni Dinding Manado.

Menurutnya, hingga saat ini Dinding Manado tetap menunjukkan konsistensi yang luar biasa melalui berbagai program sosial, khususnya dalam memberikan perhatian dan pendampingan kepada anak-anak di kawasan Pasar Bersehati, Manado.

“Saya sering berdiskusi mengenai berbagai aktivitas komunitas, dan dari situ saya menyimpulkan bahwa Komunitas Dinding Manado adalah komunitas yang tetap berjalan dengan baik hingga hari ini,” ungkap Taufik kepada Barta1.com, belum lama ini.

Ia menambahkan, perjalanan hingga usia ke-16 tahun bukanlah hal yang mudah bagi sebuah komunitas. Namun, Dinding Manado mampu membuktikan komitmennya dengan terus hadir membimbing dan mendampingi anak-anak tersebut secara berkelanjutan.

“Sekalipun saya kerap berbicara dalam konteks politik, saya tetap mengikuti setiap proses yang dilakukan Dinding Manado, baik melalui media sosial maupun diskusi dengan teman-teman. Dari situ, saya menyimpulkan bahwa komunitas terbaik di Sulut yang tetap konsisten hingga hari ini adalah Dinding Manado,” tambahnya.

Tentang Dinding Manado
Dilansir dari tulisan Dina Saputra di GoodNews From Indonesia, menulis tentang Rutler Peregrine Masalamate, yang menjadi salah satu tokoh penting dari pendirian gerakan Komunitas Dinding Manado yang terbentuk pada tahun 2010. Bersama teman-temannya di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Rutler berkecimpung di dunia pendidikan non-formal yang kegiatan utamanya dilaksanakan di lantai tiga Pasar Bersahati Manado, Sulawesi Utara dan Pasar 45.

Komunitas Dinding Manado menyasar anak-anak yang membantu orang tua mereka bekerja di pasar. Rutler menegaskan di unggahan Instagramnya bahwa Komunitas Dinding Manado bukanlah organisasi berbentuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), bukan lembaga masyarakat berbasis agama, ataupun politik. Komunitas Dinding Manado murni gerakan dari orang-orang yang ingin berbagi segala yang mereka punya kepada anak-anak yang membutuhkan pendidikan.

Rutler dan teman-temannya melihat banyak anak-anak yang berdagang asongan di siang hari. Padahal seharusnya mereka bersekolah untuk menuntut ilmu. Karena hal inilah, Rutler bersama teman-temannya membuat Komunitas Dinding Manado.

Dunia Anak-Anak Hanya Selebar Pasar
Di jalan sekitar pasar Bersehati, Rutler kerap menemukan anak-anak usia sekolah yang mengemis, mengamen, dan berjualan. Satu kali ia pernah memberikan uang kepada pengemis yang masih berusia anak-anak sekaligus ia berpikir apakah tindakannya benar dengan memberikan uang?
Momen itu membuat Rutler termenung bahwa ada yang salah dan perlu diperbaiki. Rutler berpikir bahwa harusnya ia memberikan ilmu pengetahuan yang ia punya untuk bekal anak-anak tersebut menjalani kehidupannya bukan memberikan uang.
Rutler semakin mendalami kehidupan anak-anak di pasar, ia jadi tahu bahwa anak-anak ini hidup setiap hari di pasar. Makan, minum, tidur, dan semua kegiatannya berkutat di pasar saja.
“Karena mereka tinggal di pasar mereka berpikir dunia itu (hanya) selebar pasar,” ungkapnya saat menjadi bintang tamu acara Hitam Putih Trans7.
Rutler menanyakan cita-cita anak-anak tersebut dan kebanyakan anak-anak itu ingin menjadi supir angkot karena bagi mereka profesi tersebut sudah paling hebat.
Setelah menelusuri kembali, ternyata di usia 12-13 tahun anak-anak ini juga sudah banyak yang menikah dan memiliki anak. Lebih parahnya lagi, anak-anak sudah terbiasa merokok sejak umur empat tahun. Dari melihat kenyataan getir ini, Rutler ingin menjadi agen perubahan bagi anak-anak di pasar tersebut. Tercetuslah Komunitas Dinding Manado yang bertahan sampai saat ini.
Peralatan seperti tikar dan meja untuk belajar anak-anak
Rutler bersama Komunitas Dinding Manado telah menjadi pelita bagi kehidupan anak-anak yang terpaksa menggantungkan hidupnya di pasar. Komunitas Dinding Manado tidak menarik anak-anak untuk keluar dari pasar melainkan memboyong pendidikan ke dalam pasar untuk anak-anak demi terwujudnya hak pendidikan untuk semua anak tanpa terkecuali.
Dedikasi Rutler bersama Komunitas Dinding Manado dalam memperjuangkan pendidikan bagi anak-anak di pasar ini membuahkan penghargaan SATU Indonesia Award kategori pendidikan tingkat provinsi pada tahun 2018. Dengan ini, Indonesia telah mendapatkan satu kabar baik yang berasal dari Sulut berkat Komunitas Dinding Manado. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post