Letusan Gunung Awu, bukan cerita baru bagi warga Kepulauan Sangihe. Dalam beberapa generasi, mereka telah berulang kali berhadapan dengan awan panas, lahar, dan pengungsian. Namun di balik pengalaman itu, ada satu kisah lama yang terus ikut bergerak setiap kali gunung bergemuruh.
Kisah itu bermula dari sebuah rumah sederhana di pesisir. Tiga bersaudara hidup di sana: Panggelawang, Wanggaia, dan Nabai. Dari ketiganya, Nabai adalah yang paling muda, seorang perempuan penenun, telaten, dan dikenal piawai meracik warna dari alam. Ia adalah adik yang sangat mereka kasihi.
Dalam satu masa ketika angin dan hujan datang berturut-turut, Panggelawang dan Wanggaia terpaksa pergi membantu warga di laut. Nabai tinggal sendiri di rumah. Di saat itulah, menurut cerita yang dituturkan turun-temurun, makhluk yang disebut Ansuang Bakeng. Raksasa penghuni pegunungan datang dan menculiknya.
Namun Nabai tidak menyerah begitu saja.
Saat dibawa ke dalam hutan, ia meninggalkan jejak helaian serat merah dari tenunannya, diikatkan pada dahan-dahan yang dilalui. Jejak itu menjadi pesan penunjuk arah bagi siapa pun yang mencarinya.
Ketika kedua kakaknya kembali, yang mereka temukan hanyalah rumah rusak dan kesunyian. Tanpa banyak kata, mereka langsung bergerak. Jejak merah itu membawa mereka masuk ke hutan, melintasi medan yang semakin berat. Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah wilayah yang selama ini hanya dikenal dalam cerita, sarang raksasa.
Di sanalah mereka menemukan Nabai.
Ia masih hidup, tetapi tidak sendiri. Puluhan orang lain dikurung dalam pagar-pagar kayu, dijaga ketat. Mereka adalah tawanan menunggu giliran untuk dimakan.
Panggelawang segera memahami situasi: menyerang berarti bunuh diri. Ia memilih cara lain—menyusup. Dalam situasi demikian Panggelawang sengaja menampakkan diri, berpura-pura sebagai tawanan yang tertangkap saat melarikan diri. Namun alih-alih melawan, ia menawarkan diri sebagai juru masak bagi raksasa.
Tawaran itu diterima oleh raksasa di sana. Dari dapur, Panggelawang mendapatkan ruang gerak. Ia mulai menyusun langkah: mengamati kebiasaan penjaga, membaca ritme aktivitas, dan mencari celah sekecil apa pun.
Di luar, Wanggaia bergerak diam-diam. Ia berhasil menemui Nabai di sela penjagaan. Dari Nabai, ia mengetahui kondisi kurungan, jumlah tawanan, hingga pola penjagaan. Informasi itu menjadi dasar rencana.
Dengan alasan memasak, Panggelawang meminta berbagai bahan yang sulit didapat. Penjaga satu per satu meninggalkan pos untuk mencarinya. Dapur yang semula diawasi, perlahan menjadi longgar.
Sementara itu, Wanggaia menyampaikan pesan kepada para tawanan melalui Nabai: mereka harus mengerat tali-tali kurungan secara diam-diam, tetapi tidak boleh keluar dulu. Semua harus menunggu waktu yang tepat.
Malam berganti siang. Ketegangan terjaga. Saat celah terbuka, pembebasan dimulai. Panggelawang menyelipkan alat-alat dapur ke tangan para tawanan. Kurungan pertama terbuka. Lalu yang lain.
Orang-orang keluar dalam kelompok kecil, menyebar agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sebagian menuju hutan, sebagian membantu membebaskan yang lain. Nabai berada di tengah-tengah itu, menguatkan, mengarahkan, memastikan semua bergerak sesuai rencana.
Namun situasi berubah tiba-tiba. Raksasa memilih beberapa tawanan untuk dimakan hari itu. Nabai termasuk di antaranya. Panggelawang mempercepat segalanya. Ia menciptakan pengalihan terakhir; tipu daya di dalam rumah raksasa untuk menahan perhatian mereka. Sementara itu, Wanggaia menyiapkan jalur pelarian: titian sederhana yang telah mereka bangun melintasi jurang. Semua orang diarahkan ke sana.
Ketika raksasa mulai menyadari kurungan kosong, keadaan pecah. Teriakan, kepanikan, dan langkah kaki bercampur. Para tawanan berlari. Nabai ikut bersama mereka. Di belakang, raksasa mengejar. Pelarian berubah menjadi kejaran hidup dan mati.
Semua berujung di titian. Satu per satu manusia menyeberang. Di bawah mereka, jurang menganga. Di belakang, langkah raksasa semakin dekat. Namun ketika raksasa menginjak titian, keunggulan mereka justru menjadi kelemahan. Tubuh besar itu tak mampu ditopang. Kaki mereka tertusuk bambu, keseimbangan hilang.
Mereka jatuh. Di saat itulah, keadaan berbalik. Orang-orang yang selamat tidak lagi berlari. Mereka berbalik. Batu-batu diangkat, dilemparkan bertubi-tubi. Serangan itu tidak terencana, tetapi cukup.
Raksasa tumbang.
Nabai selamat.
Bersama kakak-kakaknya dan orang-orang lain, ia kembali dari tempat yang hampir merenggut nyawa mereka.
Namun sebelum mati, raksasa itu bersumpah.
Ia akan Kembali dalam wujud lain. Napasnya akan menjadi angin dan awan panas, darahnya menjadi lahar, dan amarahnya menjadi api dari perut bumi.
Sejak itu, setiap kali Gunung Awu meletus, warga Sangihe percaya, itu bukan sekadar peristiwa alam. Awan panas adalah napas raksasa. Lahar adalah darahnya.
Dan angin yang berbelok yang kerap menyelamatkan kampung dipercaya sebagai perlawanan yang tak pernah berhenti dari Panggelawang dan Wanggaia yang juga bersumpah akan menjadi angin selatan yang akan melempar ke laut awan panas dan lahar tersebut.
Namun di luar kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut, Gunung Awu berdiri sebagai fakta yang tak terbantahkan. Gunung Awu menjulang hingga sekitar 1.340 meter di atas permukaan laut, dengan kawah besar berdiameter lebih dari satu kilometer. Ia bukan sekadar latar legenda, melainkan salah satu gunung api aktif paling produktif di Sulawesi Utara.
Dalam catatan vulkanologi Indonesia, aktivitasnya telah terpantau sejak abad ke-17—sebuah rentang waktu panjang yang menempatkan Awu sebagai salah satu gunung dengan sejarah letusan paling intens di kawasan timur Nusantara. Data yang dihimpun dalam laporan vulkanologi menunjukkan, sejak tahun 1640 hingga awal abad ke-21, Gunung Awu telah meletus sedikitnya 17 kali. Rentang istirahat antar letusan bervariasi. Dari hanya satu tahun hingga lebih dari satu abad. Intensitasnya pun beragam, dari skala kecil hingga letusan eksplosif yang mematikan.
Lembaga internasional seperti Global Volcanism Program mencatat Gunung Awu sebagai salah satu gunung api paling mematikan di Indonesia. Letusan besar pada tahun 1711, 1812, 1856, 1892, hingga 1966 menghasilkan awan panas dan lahar yang meluncur cepat melalui lembah-lembah di lereng gunung.
Secara kumulatif, lebih dari 8.000 jiwa dilaporkan menjadi korban. Angka itu tidak sekadar statistik. Ia adalah jejak kehilangan yang diwariskan dari generasi ke generasi serupa dengan kisah tentang manusia yang dahulu diculik dan nyaris menjadi santapan raksasa.
Catatan kolonial pun memperlihatkan bagaimana gunung ini selalu berada dalam pengawasan.
Dalam edisi 28 November 1921, surat kabar The Straits Times melaporkan keberadaan seorang Bernama Dr. Kemmerling (Vulkanolog?), yang berada di wilayah Tahuna untuk memantau aktivitas “Gunung Awu”. Gunung itu, bahkan saat itu, sudah diperkirakan sebagai ancaman yang bisa meletus sewaktu-waktu. Pulau Sangihe Besar kala itu dihuni puluhan ribu jiwa—sebagian besar hidup dari perkebunan kelapa. Mereka tinggal di bawah bayang gunung yang sama, dengan risiko yang sama, seperti warga hari ini.
Ancaman itu bukan hanya datang dari letusan. Pada Juni 1948, media seperti The Singapore Free Press dan Morning Tribune melaporkan lebih dari seratus getaran gempa mengguncang Pulau Sangihe. Kerusakan meluas, dengan kerugian material yang besar. Getaran demi getaran itu, bagi sebagian warga, bukan sekadar aktivitas tektonik—melainkan tanda bahwa “sesuatu” di perut bumi sedang bergerak.
Puncak dari ingatan kolektif itu terjadi pada 12 Agustus 1966. Letusan besar Gunung Awu mengubah pulau itu menjadi ruang duka. Dalam laporan The Straits Times, puluhan orang dilaporkan tewas, puluhan lainnya hilang, dan puluhan ribu kehilangan tempat tinggal. Awan panas meluncur cepat, melahap apa saja di jalurnya. Dua ahli vulkanologi bahkan dilaporkan tewas terjebak dalam aliran lava. Peristiwa itu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga trauma yang panjang. Puluhan tahun berselang, gunung itu kembali menunjukkan tanda-tandanya.
38 tahun kemudian, pada Juni 2004, laporan kantor berita Reuters mencatat Gunung Awu kembali menyemburkan abu. Sekitar 20.000 warga dievakuasi. Aktivitas itu menjadi pengingat bahwa Awu tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara angka-angka, laporan ilmiah, dan arsip surat kabar, terselip satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang: cara masyarakat memaknai semua itu. Bagi ilmu pengetahuan, letusan adalah hasil tekanan magma, gas, dan dinamika bumi. Namun bagi sebagian warga Sangihe, letusan tetap memiliki wajah lain. Wajah lama yang diwariskan melalui cerita.
Awan panas yang meluncur dari kawah sering kali disamakan dengan napas raksasa. Lahar yang mengalir dianggap sebagai darahnya. Dan angin yang tiba-tiba berubah arah yang dalam beberapa kejadian justru menyelamatkan permukiman dipercaya sebagai perlawanan yang tak pernah berhenti.
Perlawanan itu, dalam ingatan kolektif, berasal dari Panggelawang dan Wanggaia.
Di sinilah legenda dan sains berdiri berdampingan. Satu menjelaskan bagaimana gunung bekerja. Yang lain menjelaskan bagaimana manusia bertahan. Dan di antara keduanya, Gunung Awu tetap berdiri sebagai ancaman, sebagai ingatan, sekaligus sebagai cerita yang terus diceritakan ulang setiap kali bumi kembali bergemuruh.
Penulis: Rendy Saselah


Discussion about this post