• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Operasi Rahasia Penyelamatan Anak-anak dr. Cseszko dari Penyiksaan Jepang di Sangihe

by Redaksi Barta1
18 Maret 2026
in Sejarah
0
Foto: Emma Cseszko, gadis berusia tiga belas tahun, anak tertua dari empat bersaudara Cseszko, yang disiksa oleh Jepang. Ibunya disiksa dan dipenggal kepalanya. Foto ini diambil sesaat setelah Emma diselamatkan. Di samping adalah Richard Knox Hardwick, tentara intelijen yang terlibat dalam operasi penyelamatan Emma. (Dok. Istimewa)

Foto: Emma Cseszko, gadis berusia tiga belas tahun, anak tertua dari empat bersaudara Cseszko, yang disiksa oleh Jepang. Ibunya disiksa dan dipenggal kepalanya. Foto ini diambil sesaat setelah Emma diselamatkan. Di samping adalah Richard Knox Hardwick, tentara intelijen yang terlibat dalam operasi penyelamatan Emma. (Dok. Istimewa)

0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kisah penyelamatan empat anak keluarga Cseszko pertama kali diangkat dalam laporan The Straits Times edisi 21 Agustus 1947. Sebuah catatan lapangan yang dituturkan langsung oleh Richard Knox Hardwick, tentara intelijen yang terlibat dalam operasi Sekutu di Pasifik.

Hardwick bukan orang asing di kawasan ini. Ia dikenal sebagai pengusaha perkebunan veteran di Kalimantan Utara, sekaligus sosok yang selama perang bekerja untuk dinas intelijen Amerika, Belanda, dan Inggris. Dalam laporannya, ia mengisahkan sebuah operasi pengintaian oleh SRD (Services Reconnaissance Detachment), bagian dari Z Special Unit yang berbasis di Morotai.

Kisah itu bermula dari informasi yang diterimanya ketika berada bersama pasukan Belanda. Sejumlah penduduk dari Sangihe yang melarikan diri dari Tahuna membawa kabar tentang sebuah keluarga Hongaria—dr. Cseszko, istrinya, dan keempat anak mereka: Emma, Eva, Djoela, dan Joseph.

Keluarga ini dikenal luas di masyarakat. Mereka bekerja di rumah sakit zending dan disebut sangat dihormati oleh penduduk setempat. Namun situasi berubah ketika Jepang mencurigai adanya alat pemancar radio di rumah mereka.

Pada Maret 1944, dr. Cseszko ditangkap dan dibawa ke Manado. Ia meninggalkan keluarganya di Tahuna. Tidak lama kemudian, istrinya menjadi sasaran fitnah yang berujung pada penangkapan oleh Kempetai pada Agustus 1944. Dari laporan yang dimuat The Straits Times, penyiksaan yang dialaminya berlangsung berbulan-bulan dipukuli, tidak diberi air, hingga disiksa secara brutal tanpa pernah ada bukti atas tuduhan tersebut.

Pada awal November 1944, ia dieksekusi.

Anak-anak mereka kemudian mengalami nasib yang tidak kalah tragis. Emma, yang baru berusia 13 tahun, bahkan turut ditangkap dan disiksa. Dalam situasi tanpa perlindungan, mereka akhirnya dirawat oleh seorang perawat tua bernama Elizabeth.

Namun keadaan memburuk. Anak-anak itu dijual oleh pihak Jepang kepada seorang “Raja” boneka di Taghulandang dengan harga 900 gulden. Di pulau itu, mereka hidup dalam kondisi kekurangan, menderita penyakit tropis, dan mengalami trauma berkepanjangan.

Selama berbulan-bulan, Hardwick berusaha menyusun informasi yang terpisah-pisah tentang keberadaan mereka. Ia hanya mengetahui bahwa anak-anak itu telah meninggalkan Tahuna, tanpa kepastian ke mana mereka dibawa.

Kesempatan datang pada 18 Maret 1946. Dalam laporan yang sama, Hardwick menulis bahwa ia bergabung dalam operasi pengintaian SRD ke Taghulandang. Rombongan berangkat dari Morotai menggunakan pesawat Catalina, dipimpin Mayor Trapps-Lomax, bersama perwira Belanda, personel Amerika, dan tujuh anggota SRD.

Pulau itu tampak tenang saat mereka tiba. Pantai berpasir keemasan, kebun kelapa, dan lereng hijau pala menyambut mereka. Namun di balik ketenangan itu, penduduk hidup dalam ketakutan di bawah bayang-bayang kolaborator Jepang.

Melalui penduduk setempat, Hardwick akhirnya menemukan petunjuk penting: keempat anak itu berada di sebuah desa bernama Mananga, sekitar 10 kilometer dari lokasi pendaratan. Seorang penduduk dikirim untuk menjemput mereka.

Pencarian panjang itu berakhir.

Ketika anak-anak itu tiba di markas sementara, kondisi mereka memprihatinkan. Mereka kurus, penuh luka, terserang penyakit tropis, dan menunjukkan ketakutan mendalam. Emma adalah yang paling parah—ia menderita disentri akut dan sering pingsan saat berdiri.

Namun situasi mendadak berubah tegang. Informasi datang bahwa sekitar 100 tentara Jepang dengan senapan mesin sedang bersiap menyerang dari pulau Siau. Dalam kondisi kekuatan terbatas, rombongan tidak mungkin bertahan.

Keputusan cepat diambil. Sinyal dikirim ke pangkalan untuk meminta evakuasi udara.

Menjelang sore, dua pesawat Catalina tiba. Evakuasi dilakukan dalam tekanan waktu. Anak-anak dan Elizabeth menjadi prioritas utama. Bersama 29 penduduk yang membantu Sekutu, mereka diangkut meninggalkan pulau itu.

Suasana di pantai berubah haru. Ratusan penduduk memohon untuk ikut, mencengkeram pakaian para tentara, takut akan pembalasan setelah mereka pergi. Namun kapasitas pesawat terbatas—tidak semua bisa diselamatkan.

Pesawat akhirnya lepas landas dengan muatan penuh. Salah satu pesawat bahkan harus melaju panjang di atas air sebelum berhasil terangkat. Malam itu, mereka tiba dengan selamat di Morotai.

Menurut laporan The Straits Times, ini menjadi penyelamatan pertama terhadap warga sipil sejak jatuhnya Hindia Belanda pada 1942.

Beberapa jam setelah mereka pergi, pasukan Jepang benar-benar mendarat di Tahulandang.

Di Morotai, anak-anak itu dirawat selama dua minggu. Kondisi mereka perlahan membaik. Dari sana, mereka diterbangkan ke Hollandia, lalu ke Australia. Palang Merah menyediakan kebutuhan mereka, dan mereka diasuh oleh seorang misionaris Belanda.

Kabar yang mereka tunggu tentang ayah mereka sempat memberi harapan. Namun harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan. Dalam laporan lanjutan yang diterima Hardwick, dr. Cseszko ternyata telah gugur akibat serangan bom Sekutu menjelang akhir perang.

Kisah ini, sebagaimana ditulis dalam The Straits Times tahun 1947, bukan sekadar catatan operasi militer. Ia menjadi potret tentang perang yang merenggut sebuah keluarga dan tentang empat anak yang berhasil diselamatkan dari tengah kekacauan, tetapi tidak pernah kembali ke kehidupan yang sama.

Penulis: Rendy Saselah

 

Barta1.Com
Tags: Dokter Gyula Csezkokeluarga CseszkoPenyiksaan JepangRichard Knox Hardwick
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Dua Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Polimdo Tunjukkan Ketangguhan di Kompetisi BIM Sulawesi

Dua Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Polimdo Tunjukkan Ketangguhan di Kompetisi BIM Sulawesi

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Usut Kasus Kematian Balita di Kota Bitung 25 Maret 2026
  • Setia Menyalakan Harapan, Tumbelaka Sebut Dinding Manado Terbaik di Sulut 24 Maret 2026
  • 5 Hari Lagi Liga 4 Piala Gubernur Sulut Bergulir, Panpel Matangkan Persiapan ‎ 23 Maret 2026
  • Sinergi Polisi dan Masyarakat Jaga Keamanan Hari Raya Idul Fitri di Kota Bitung 22 Maret 2026
  • Riparian Reborn: Kolaborasi Marabunta, Tansa dan Silvaterra di Hari Hutan Sedunia 22 Maret 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In