• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Nama Talaud di Peta Pelayaran dan Literatur Dunia

by Iverdixon Tinungki
19 Maret 2026
in Sejarah
0
Pelaut dunia. (Sumber foto: Buku “Dari Perbatasan Berlayar ke Masa Depan, Sejarah Kristen di Talaud hingga Terbentuknya GERMITA")

Pelaut dunia. (Sumber foto: Buku “Dari Perbatasan Berlayar ke Masa Depan, Sejarah Kristen di Talaud hingga Terbentuknya GERMITA")

0
SHARES
38
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Barta1.com– Sebuah buku kaya data dan luxe berjudul “Dari Perbatasan Berlayar ke Masa Depan, Sejarah Kristen di Talaud hingga Terbentuknya GERMITA, karya Pitres Sombowadile dan Tim Germita yang digawangi Pdt.DR. A.A. Abbas M.Th, baru saja terbit di Talaud.

Buku yang benar-benar bernas ini sontak menghela kenangan dan intuisi saya ke era perjalanan puitis saya berkali-kali sejak tahun 1984 ke negeri dalam sebutan tradisional sebagai Porodisa itu.

Berlatar lanskap, budaya dan sejarah kepulauan ini, di tahun 1990-an saya menulis novel panjang berjudul: “Kepas. Orang-orang Perbatasan”. Novel ini kemudian terbit di Jakarta pada 2013 oleh Penerbit Teras Budaya.

Saya pun menulis ratusan puisi berlatar Talaud yang terhimpun dalam buku “Makatara” yang kemudian terpilih sebagai buku terbaik Indonesia di Tingkat Nasional oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia. Ada juga beberapa buku lain saya tulis terkait kepulauan Talaud dan sejarah budayanya, termasuk buku cerita Rakyat “Dari Ramensa Hingga Manongga”.

Dan Talaud bagi saya selalu seksi dan puitis untuk tulis. Karena sejauh ini, tak banyak orang tahu bahwa kepulauan itu adalah jalur legendaris dalam peta pelayaran dunia dalam 5 abad terakhir.

Bagaimana Talaud disebut dalam peta pelayaran dan literatur dunia? Berikut ini, saya mengeditori potongan-potongan data dari buku Karya Pitres Sombowadile.

***
Dia akhir abad ke-19 seorang Profesor zoologi Universitas Manchester, Inggris Bernama Sidney John Hickson menulis nama Talaud dan dilafalkan sebagai Talaut.

Ia menulis Talaut dalam bukunya yang berjudul: “A Naturalist in Nort Celebes: A Narrative of Travels in Minahasa, The Sangir and Talaut Islands. Ia sempat berkunjung ke Mangaran,Talaud pada 1885 untuk bertemu Zendeling P. Gunther.

Sementara penulisan nama Talaud yang dieja sebagai Talaut juga dilakukan oleh S. Coolsma dalam atikelnya yang berjudul: “De Zending op de Sangir en Talaut- Eilanden”, yang diterbitkan majalah Nederlanch Zendingtijdschrifi, V 1893.

F. A. Abbinge Wubben, seorang aadrijskundig atau ahli geografi, dalam artikel berjudul “Naar de Talaud-Eilanden” (Menuju Kepulauan Talaut) yang diterbitkan majalahTijsschrifi van het Kon. Nederl. AadrijskundigGenootchap, 2e Serie. Dell V 1899, juga menulis Talaud sebagai Talaut.

Thomas Forrest, seorang nahkoda kawakan berkembangsaan Inggris, dalam catatannya di jurnal pelayarannya menyebut Talaud sebagai Tulour.

Kapalnya berlabu di Lirung pada 21 April 1775 dengan berpatokan pada peta sebelumnya dibuat Ds. Francois Valentijn yang menyebut tanah labu ini sebagai Karkalang. Forrets sempat tinggal di Salibabu dalam beberapa hari untuk bertemu dengan raja-raja setempat.

Dalam beberapa dokumen, nama Talaud terbentuk dari kata tau (orang) lauda atau rloda (laut). Dokumen Portugis dan Spanyol menyebut nama Talaud sebagai Talao, Talaon, Talaya dan Tolour.

Pada abad ke-16 dan ke-17 nama Talaud yang disebut sebagai Talao juga muncul pada peta karya kartografer dan hidrogafer VOC-Belanda yang Bernama Petrus Plancius. Karya Plancius itu adalah kompilasi atas peta Portugis abad 16 yang sangat rahasia dan dijaga negara.

Plancius mendapatkan dokumen-dokumen itu dari Huygen van Linschoten, seorang staf Uskup Agung Portugis yang berkedudukan di Goa, India.

Peta Plancius yang menyebut Talaud sebagai Talao ini juga dimuat dalam buku berjudul “Itinerario” edisi Inggris yang dipublikasikan di Belanda tahun 1598.

Talao sebagai Talaud juga muncul dalam catatan jurnal pelayaran Spanyol ke Maluku tahap kedua yang dipimpin Garcia Loyasa. Pelayaran itu berangkat dari Spanyol pada Juli 1525 dan tiba di Maluku pada akhir Oktober 1526.

Kapal Ekspedi Angkatan Laut Spanyol ini tercatat menyinggahi Talao (Talaud) selama dua minggu di bulan Oktober 1526.

Nama Talaud juga disentil dalam dokumen palayaran Ruy Lopes Villalobos decade 1540-an, meski pelaut ini tak pernah singgah di Talaud selain berlabuh di Sangir. Juga dalam catatan tim Ferdinand Magellan 1511-1521 dan Juan Sebastian el Cano, dalam catatan dari era pelayaran awal Spanyol 1519.

Nama Talao juga diungkap dalam catatan O.H.K. Spate terkait pelayaran kapal yang dinahkodai Iniques de Carquisano yang bergerak ke kepulauan Talao.

Harry Kelsey, seorang penulis sejarah dalam bukunya berjudul: “The First Circumnavigators Unsung Heroes of the Age of Discovery”, menyebut Talao sebagai bagian dari jalur pelayaran legendaris dunia.

Kesley mengidentikkan Talao dalam teks jurnal-jurnal pelayaran Spanyol sebagaimana wilayah kepulauan yang kita pahami saat ini. Kesley menyebut, Kapal Victoria singgah selama dua minggu di Talao sejak tanggal 17 hingga 31 Oktober 1526.

Ds. Daniel Brilman dalam bukunya: De Zending Op de Sangi- en Talaud- Einlanden, menyebut Talaud sebagai kepulauan yang terdiri dari 15 pulau. (*)

Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Foto: Emma Cseszko, gadis berusia tiga belas tahun, anak tertua dari empat bersaudara Cseszko, yang disiksa oleh Jepang. Ibunya disiksa dan dipenggal kepalanya. Foto ini diambil sesaat setelah Emma diselamatkan. Di samping adalah Richard Knox Hardwick, tentara intelijen yang terlibat dalam operasi penyelamatan Emma. (Dok. Istimewa)

Operasi Rahasia Penyelamatan Anak-anak dr. Cseszko dari Penyiksaan Jepang di Sangihe

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Usut Kasus Kematian Balita di Kota Bitung 25 Maret 2026
  • Setia Menyalakan Harapan, Tumbelaka Sebut Dinding Manado Terbaik di Sulut 24 Maret 2026
  • 5 Hari Lagi Liga 4 Piala Gubernur Sulut Bergulir, Panpel Matangkan Persiapan ‎ 23 Maret 2026
  • Sinergi Polisi dan Masyarakat Jaga Keamanan Hari Raya Idul Fitri di Kota Bitung 22 Maret 2026
  • Riparian Reborn: Kolaborasi Marabunta, Tansa dan Silvaterra di Hari Hutan Sedunia 22 Maret 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In