Barta1.com– Dahulu, para pelaut kuno tak berani sembarang melintasi perairan utara tanpa singgah di sini, di Kawaluso. Sebuah pulau yang berlimpah ikan dan umbi-umbian sebagai sumber makanan.
Kawaluso, dalam catatan tua disebut Cavaluzou atau Cabaloesoe. Itu tempat persembahan. Sepasang kambing atau ayam sering dilepaskan di pulau ini sebagai sesajen kepada penguasa Taghaloang agar perjalanan mereka direstui oleh samudera yang tak pernah tenang.
Sejarah mencatat, pulau yang sempat dianggap angker ini pernah menjadi penyelamat bagi Kerajaan Kalongan.
Saat Gunung Awu meletus dan krisis pangan melanda, Bruder de Alcala pada tahun 1541 mencatat Raja Kalongan memboyong rakyatnya ke Kawaluso untuk menangkap ternak yang melimpah di sana guna bertahan hidup.
Siapa penduduk aslinya? Legenda menyebut nama Sangiang Siti Bai dan Aholiba, putri-putri Kulano Melintangnusa. Mereka meninggalkan Salurang demi membuka ladang perhumaan di tanah karang ini.
Hingga kini, darah mereka mengalir pada penduduk yang memiliki ikatan kekerabatan erat dengan warga Mindanao Selatan di Filipina.
Kawaluso adalah ruang tradisi yang senyap namun berdenyut. Di balik rimbunnya kelapa dan harum pala, tersimpan tarian Gunde yang sakral.
“Dahulu, hanya perempuan suci yang boleh menarikannya untuk menjemput tamu kehormatan,” bisik seorang tetua adat saat mengenang masa kejayaan kerajaan masa lalu yang magis.
Meski hidup di titik terluar perbatasan Indonesia, masyarakat Kawaluso tak pernah merasa terasing.
Bagi mereka, jarak enam jam perjalanan laut yang ganas dari pusat kabupaten Sangihe, Tahuna, adalah cara alam menyaring orang-orang yang berhati tulus.
Di atas bukit tempat perkampungan berdiri, mereka melihat dunia dengan cara yang berbeda: melalui kacamata syukur dan kerja keras.
Kawaluso tetaplah menjadi simbol keteguhan. Sebuah pulau yang meski kecil secara luasan, namun raksasa dalam sejarah dan tradisi.
Di sini, sejarah bukan hanya teks di buku tua, melainkan tarikan napas para nelayan yang pulang membawa ikan segar ke meja makan keluarga mereka yang ramah dan bersahaja.
Melangit Doa di Puncak Tamo
Suatu hari, ketika Drs. Winsulangi Salindeho, masih sebagai Bupati Sangihe, kami pernah tiba di sana. Tak lama, angin barat menderu, membawa aroma garam yang pekat.
Tak jauh, ada Pulau Lipang dan Kamboleng, berdiri tegak bagai noktah. Dan Kawaluso meski hanya pulau kecil dengan daratan seluas 1,22 km2, namun tegas disebut peta tua pelaut Eropa abad ke-16 sebagai Cabaluzo. Pulau ini adalah salah satu saksi bisu jalur rempah menuju Maluku yang legendaris.
Kehidupan di Kawaluso adalah tarian di atas tajamnya karang. Tanpa mata air, 217 kepala keluarga di sini menggantungkan napas pada langit.
“Setiap hari kami bertarung memenuhi kebutuhan dasar, terutama air minum yang harus ditandah dari hujan atau mengambilnya dari pulau lain,” tutur seorang warga sembari menatap perigi.
Namun, kemiskinan air tak membuat mereka miskin syukur. Filosofi Somahe Kai Kehage—berani menantang arus dan teguh melintasi gelombang—bukan sekadar slogan. Bagi mereka, laut adalah rumah tempat hidup ditautkan.
Di atas tanah bebatuan, mereka memelihara Pala dan Sagu dengan sabar. Di sini, kesederhanaan adalah kemewahan yang paling sejati, jauh dari gemerlap kota yang bising.
Puncak dari segala ketangguhan itu mewujud setiap tanggal 31 Januari dalam ritual Tulude. Ini adalah “ibadat” pemujaan suku Sangihe kepada Ghenggonalangi Duata’n Saluruang. Sebuah upacara syukur atas penyertaan Tuhan selama setahun silam sekaligus permohonan perlindungan untuk hari-hari yang akan datang.
Inti dari Tulude adalah Kue Tamo. Pembuatannya bukan perkara masak-memasak belaka, melainkan ritual suci berdasarkan ajaran Sasahara.
Beras pulo, gula merah, hingga minyak kelapa diaduk selama berjam-jam dalam harmoni mangongke. “Tamo melambangkan manusia, kesucian, dan semangat persatuan yang dimasak oleh api,” jelas pemuka adat setempat dengan nada penuh takzim.
Uniknya, di Kawaluso, pemotongan Tamo dilakukan tiga hari setelah ritual inti. Saat Tagonggong ditabuh dan syair Sasambo dilantunkan, suasana berubah magis.
Di bawah langit perbatasan, warga menyatu dalam Salimbangu Banua. Tak ada sekat antara pemimpin dan rakyat; semua lebur dalam semangat kebersamaan—saling menghormati dalam kasih yang paling purba. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post