PURI TUA KELUARGA MARISKA
Naskah: Iverdixon Tinungki
PELAKU DAN KARAKTER
ANELA : Gadis 23 tahun. Pengusaha. Pewaris kekuatan mistik PokPok.
NUSA BAKTI : Lelaki 25 tahun, Kekasih Anela. Pewaris kekuatan mistik PokPok.
ROY MARISKA : Paman Anela 55 tahun. Punya kekuatan mistik PokPok.
MITA BERTA : Ibu Anela 54 Tahun. Pengusaha perkebunan milik keluarga Mariska.
PIRUS MARISKA: Ayah Anela 59 tahun. Pewaris kekuatan mistik PokPok.
DIRGA BAKTI : Ayah Nusa Bakti 59 tahun. Pewaris kekuatan mistik PokPok.
PENDETA : Lelaki 55 tahun.
PEMBANTU DAN KONFIGURASI BAYANGAN PUTIH
PANGGUNG:
Ruang dalam sebuah puri tua dengan perabot yang terkesan antik. Ada beberapa lukisan surealis di dindingnya, serta beragam hiasan unik yang terkesan memiliki daya mistis.
BAGIAN I: PEMBUKA
Beberapa tahun sebelumnya, terjadi pertarungan sengit antara Pirus Mariska dan Dirga Bakti pada suatu malam di dalam Puri itu. Mereka adalah dua orang pewaris kekuatan magis PokPok yang ditakdir bermusuhan sejak nenek moyang mereka. Keduanya mengerahkan ilmu masing-masing dan saling menyerang. Jurus-jurus mereka yang dasyat membuat ruangan itu bergetar. Suara binatang-binatang nocturnal begitu riuh berhamburan terbang ke langit malam.
Tak berapa lama, sebuah pukulan sinar Dirga Bakti menghujam telak ke tubuh Pirus Mariska. Ia terjerembab ke tanah dengan luka robek di tubuh dan wajahnya. Memandang lawannya tak berdaya, Dirga Bakti tertawa dengan suara yang mengerikan.
DIRGA BAKTI:
Pirus Mariska! Keturunanmu harus lenyap. Kini tinggal anakmu Anela!
PIRUS MARISKA:
Anela akan menghancurkanmu Dirga Bakti!
DIRGA BAKTI:
Kau hanya bermimpi Pirus Mariska. Coba saja!
Tak berapa lama, Dirga Bakti pergi seakan melesat ke langit malam dengan suara lengkingan khas PokPok.
DIRGA BAKTI: (OS)
Kok…Kok…Kok…
(Sesaat kemudian, dalam keadaan sekarat, tubuh Pirus Mariska meledak dan berubah menjadi cahaya kunang-kunang berhamburan ke langit malam. Lalu terdengar suara lolong anjing. Muncul bayangan sosok-sosok putih dalam gerak ritmik memanggil-manggil Anela. Tiba-tiba muncul Anela bertengger di jendela dengan wajah yang telah dirasuki kekuatan gaib PokPok sambil memekik dengan suara yang menakutkan.)
BAGIAN II:
Di ruang puri itu, Anela Mariska sedang duduk di depan piano memainkan sebuah lagu sambil bernyanyi. Tak berapa lama Masuk Roy Mariska (Paman Anela) dan Mita Berta (Ibu Anela) dari pintu depan.
ROY MARISKA:
(Memandang Anela.)
Waw… ternyata kau mewarisi juga bakat ibumu sebagai musisi Anela.
(Anela menghentikan permainan pianonya, lalu menyapa pamannya.)
ANELA:
Hai… Paman Roy. Selamat datang kembali di Puri ini. Lama sekali paman di luar negeri tiba-tiba muncul lagi ke sini ada kabar apa?
ROY MARISKA:
Kabar baik Anela. Tapi sejak kematian ayahmu, paman selalu khawatir sama kamu dan ibumu.
MITA BERTA:
Pamanmu sudah kangen kamu Anela!
ANELA:
Anela dan ibu juga sudah kangen paman. Lihatlah puri keluarga ini juga kangen kita berkumpul di sini.
ROY MARISKA:
(Sambil menatap keadaan di sekitar ruang puri.)
Sudah ratusan tahun, namun keadaan puri ini tetap kokoh. Inilah penanda kekuatan keluarga Mariska turun temurun. Sebagai pewaris kau harus bisa menjaganya Anela.
ANELA:
Terima kasih kepercayaan Paman pada saya dan ibu.
MITA BERTA:
Ayo duduk dulu baru ngobrol. Aku menyiapkan minum!
(Mita Berta berlalu ke dapur. Roy Mariska duduk di depan piano lalu mencoba memainkan sebuah lagu. Anela juga mencoba menyanyikan lagu yang dimainkan Roy Mariska. Keduanya kemudian berduet secara improvisasi. Seusai lagu itu, Roy Mariska memuji suara Anela.)
ROY MARISKA:
Suaramu keren Anela. Bisa jadi vokalis.
ANELA:
Permainan piano paman juga asyik.
(Keduanya kemudian beranjak duduk di kursi tengah.)
ANELA:
Bagaimana bisnis Paman dan keluarga di sana?
ROY MARISKA:
Semua berjalan bagus. Justru Paman mengkhawatirkan keadaan di sini, terutama keadaan kamu. Itu sebabnya Paman mendadak pulang.
ANELA:
Bisnis perkebunan yang aku kelola berjalan bagus Paman. Memang ada gangguan sedikit dari orang-orang tak dikenal, tapi masih bisa saya atasi.
ROY MARISKA:
Paman dengar dari ibumu, sudah ada orang yang datang menawar perkebunan dan puri ini?
ANELA:
Iya benar Paman. Konsorsium perusahaan keluarga Dirga Bakti telah menyodorkan tawaran. Mereka berencana menjadikan tempat ini sebagai kawasan wisata. Tapi aku sudah menyatakan penolakan.
ROY MARISKA:
Itu masalahnya sampe paman pulang. Paman dengar belakangan ini ada orang-orang yang sering mengganggu dan menyerang para pekerja kita.
ANELA:
Iya Paman. Sering terjadi perkelahian antara pekerja dan orang-orang yang tak dikenal yang datang merusak perkebunan kita. Beberapa pekerja kita jadi korban. Tapi saya sudah lapor polisi.
(Mita Berta masuk membawa minuman bersama seorang pembantu perempuan. Setelah meletakan minuman, pembantu pergi, Mita Berta duduk bersama Anela dan Roy Mariska.)
MITA BERTA:
Ayo minum dulu!
(Mereka minum, lalu kembali ngobrol.)
MITA BERTA:
Ibu sudah ceritakan ke Paman, niat keluarga Dirga Bakti ingin menguasai puri dan lahan perkebunan kita Anela.
ANELA:
Aku sudah menolak tawaran itu Ibu. Bahkan Nusa Bakti anak dari Dirga Bakti mendukung penolakan itu.
ROY MARISKA:
Itulah kerumitan masalah yang bakal kita hadapi. Kau harus memutuskan hubunganmu dengan Nusa Bakti, Anela.
ANELA:
Emangnya ada apa Paman?
MITA BERTA:
Ibu tahu kau mencintai Nusa Bakti. Bila dilihat sepintas kalian pasangan yang cocok. Apalagi Nusa bakti nampak berpendidikan dan bersifat baik. Tapi persoalannya tidak sesederhana itu Anela.
ANELA:
Maksud ibu?
(Suasana menjadi hening sejenak. Roy Mariska berdiri dan berjalan menuju foto Pirus Mariska yang tergantung di dinding. Sesaat kemudian ia bicara ke Anela.)
ROY MARISKA:
Anela, apakah kau percaya bila Paman mengatakan kau mewarisi kekuatan gaib PokPok dari para leluhur? Itu sebuah kekuatan misterius yang menakutkan, dan sangat berbahaya.
ANELA:
Aku tidak mengerti apa yang Paman maksudkan.
ROY MARISKA:
Sebagai seorang lepasan perguruan tinggi terkemuka di luar negeri, tentu kau berpikiran rasional dalam memandang segala sesuatu. Tapi Paman harus jelaskan, bahwa kau mewarisi kekuatan misterius itu dari ayahmu. Ini sudah menitis dalam ratusan tahun keturunan kita.
ANELA:
Bagaimana hal itu dapat kupercaya Paman?
MITA BERTA:
Tanda-tanda kekuatan gaib itu mulai memasukimu Anela. Ibu melihat kau melayang saat tidur. Kemudian disusul kejadian aneh yang tak kau sadari Anela. Pada suatu malam kau menarik seorang perempuan, lalu dibawah terbang ke sebuah pohon besar. Kau memburu tukang ojek yang melintas di jalanan sepi hingga jatuh ke parit. Mengintip jendela kamar anak-anak yang lagi tidur hingga mereka terbangun dan menjadi histeris. Serentetan kejadian aneh itu telah memicu kehebohan di kota kecil ini Anela. Mereka menyebutnya sebagai Terror PokPok.
ANELA:
Itu tidak masuk akal Ibu. Dunia sudah secanggih ini, mana aku bisa percaya dengan hal-hal di luar nalar itu.
ROY MARISKA:
Paman tahu. Kau tentu tak menyangka terror PokPok yang melanda kota kecil ini kau yang melakukannya. Karena kekuatan itu belum kau sadari. Tapi ini sesuatu yang nyata Anela.
ANELA:
Lalu apa hubungannya dengan keluarga Dirga Bakti?
ROY MARISKA:
Mereka memiliki kekuatan memusihi kekuatan kita. Sejak leluhur, selalu terjadi pertarungan antara kita dan mereka. Kau tentu juga tak menyangka Dirga Bakti pembunuh ayahmu. Tapi itulah pertarungan terakhir antara ayahmu dan Dirga Bakti. Mereka tak akan berhenti sepanjang Puri dan perkebunan kita ini tak mereka kuasai. Mereka akan terus berusaha memutuskan rantai pertahanan kita di Puri ini.
ANELA:
Mengapa ibu dan Paman tak menceritakan hal itu padaku sejak dulu?
MITA BERTA:
Kejadian itu terjadi saat kau masih kecil. Ayahmu meninggal dalam keadaan yang sangat mengerikan. Untung Pamanmu sempat datang melindungi kita dan membawamu ke luar negeri.
ROY MARISKA:
Itu sebabnya Paman memintamu memutuskan hubungan dengan Nusa Bakti, anak Dirga Bakti itu. Mereka tak akan berhenti berusaha memusnahkan kita untuk mengusai Puri ini. Puri inilah benteng kekuatan kita. Mereka ingin merebut puri hingga mereka menjadi satu-satunya kekuatan.
(Anela dirubung kebingungan dan ketakutan.)
ANELA:
Ini hal yang sulit dipercaya Paman!
(Anela beranjak pergi dari sana menuju kamarnya.)
ROY MARISKA:
Sudah tak terhindarkan Mita. Sejak kematian ayahnya secara mengerikan, sudah menjadi takdir Anela mewarisi kekuatan gaib PokPok untuk membalas dendam ayahnya.
MITA BERTA:
(Sedih)
Aku takut Roy, anakku itu tak mampu memikul warisan jahat yang sangat mengerikan ini. Aku akan panggil pendeta untuk mendoakan Anela.
ROY MARISKA:
Aku yakin Anela akan mampu menghancurkan musuhnya.
BAGIAN III:
Suasana begitu mencekam di ruang Puri malam itu. Semua benda seakan bergetar oleh kekuatan gaib. Beberapa bayangan sosok putih melintas dengan cepat keluar masuk. Seorang Pendeta berdiri membacakan Mazmur 23 didampingi Mita Berta (Ibu Anela) dan Nusa Bakti (Pacar Anela) di depan dipan tempat Anela terbaring kerasukan kekuatan gaib.
(Terdengar suara misterius yang menggetarkan.)
SUARA MISTERIUS : (OS)
Anela… Anela… Anela, jalani takdirmu!
(Anela tiba-tiba berdiri sebagai jelmaan PokPok. Ia menatap tajam seisi ruang. Lalu menatap tajam ke arah Nusa Bakti)
ANELA:
(Dengan suara yang menakutkan.)
Aku telah ditempa oleh api perbudakan terkutuk ini. Akan kubalaskan dendam para leluhur. (mendekati Nusa Bakti) Kau harus mati Nusa Bakti. Semua musuh tak ada yang bisa lolos dalam sengketa hutang darah ini!
(Anela mencengkeram leher Nusa Bakti)
NUSA BAKTI:
Anela… sadarlah, aku bukan musuhmu. Aku Nusa Bakti!
ANELA:
Aku mengenal musuhku!
(Pendeta dan Mita Berta, mengucapkan doa Bapa Kami dengan khusuk. Jendela mendadak terkuak diiringi bunyi derak. Anela menghempaskan tubuh Nusa Bakti, lalu berlari memanjat jendela. Nusa Bakti bergegas mengejar Anela ke arah jendela.
NUSA BAKTI:
Anela!
(Anela melompat keluar dan melesat ke langit malam dengan suara yang membuat Nusa Bakti dan semua orang merinding. Saat Pendeta dan Mita Berta usai berdoa, tempat itu nampak hening sesaat. Mita Berta duduk di sebuah kursi lalu menangis.)
MITA BERTA:
Anela anakku…
Ia anak yang baik. Ia telaten mengurus usaha keluarga kami. Hari-harinya disibukan oleh kerja mengontrol para pekerja perkebunan, juga mengurus perdagangan dan ekspor hasil perkebunan. Ia berhati lembut. Itu sebabnya ia disukai dan dihormati para pekerjanya dan orang-orang sekitar. Semua orang yang mengenal Anela juga tak menyadari ada kuatan sangat jahat dalam diri anakku ini. Itulah rahasia turun temurun keluarga besar Mariska. Apa yang harus kulakukan Pendeta?
PENDETA:
Dalam hidup ini ada perkara yang hanya bisa diselesaikan oleh Tuhan. Itu sebabnya Allah mengaruniakan kita AnakNya yang tunggal supaya barang siapa yang percaya padanya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebagai ibu, kau harus teguh berdoa untuk Anela. Percayalah Tuhan selalu punya cara melepaskan dia dari ikatan jahat itu.
MITA BERTA:
Terima kasih pendeta. Tapi aku takut dengan masa depan anak ini. Aku berharap pendeta dapat memikirkan cara untuk menyelamatkan Anela.
PENDETA:
Iya Ibu Mita Berta. Sebagai Pendeta saya hanya bisa mendoakannya, kiranya Tuhan menyelamatkan dia. Karena hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan perkara besar semacam ini. (menatap Nusa Bakti) Kau juga Nusa bakti, berdoalah biar kalian terlepas dari masalah ini.
NUSA BAKTI:
Iya, terima kasih Pak Pendeta!
PENDETA:
Tuhan Yesus menyertaimu dan keluargamu Ibu Mita Berta. Aku pamit dulu.
(Pendeta pergi di antar Mita Berta hingga ke pintu, lalu kembali duduk.)
MITA BERTA:
(Bicara ke Nusa Bakti.)
Sebagai ibu Anela, aku tak mencampuri urusan cinta kalian Nusa Bakti. Tapi kau harus tahu, keluarga kami dan keluargamu sudah tertakdir bermusuhan sejak masa luluhur. Kau pasti tak menyangka Anela punya kekuatan gaib seperti itu. Kau pun tak akan mengira jika dirimu akan dirasuki kekuatan jahat itu.
NUSA BAKTI:
Aku tak merasakan ada kuatan seperti itu Ibu Mita.
MITA BERTA:
Itu karena ayahmu masih hidup.
(Mendadak masuk Dirga Bakti (ayah Nusa Bakti) dari pintu depan yang terkuak tiba-tiba.)
DIRGA BAKTI:
Benar karena aku masih hidup!
(Sesaat Nusa Bakti kaget melihat ayahnya muncul di sana.)
NUSA BAKTI:
Ayah… apa maksud ayah datang ke sini?
DIRGA BAKTI:
Untuk menegaskan bahwa kau tak boleh berhubungan dengan Anela. Keluarga kita dan keluarga Anela Mariska adalah musuh abadi.
NUSA BAKTI:
Aku tak percaya ada kutukan permusuhan semacam itu ayah. Aku hanya tahu, Ayah begitu bernafsu ingin mengusai Puri ini dan berkebunan keluarga Mariska. Dan atas semua keinginan ayah itu aku tak setuju. Kita bisa membangun bisnis yang lain dan tidak perlu merampas harta milik keluarga Mariska.
DIRGA BAKTI:
Sifatmu yang lembek itu akan menghacurkan kekuatan keluarga kita Nusa Bakti. Sekali lagi ayah tegaskan, berhenti berhubungan dengan keluarga Mariska! (bicara ke Mita Berta) Dan kau Mita Berta, sebaiknya lindungi Anela anakmu sebelum kuhancurkan!
MITA BERTA:
Tuhan akan menolong kami! Dan aku tak segan melawanmu.
DIRGA BAKTI:
Dengan apa kau melawanku? Kau tak punya kekuatan apa-apa. Perempuan seperti kamu hanya punya kesedihan.
NUSA BAKTI:
Aku yang akan melawanmu ayah!
DIRGA BAKTI:
Sebelum aku mati, kau tak punya kekuatan apa-apa anakku.
NUSA BAKTI:
Aku akan melawanmu dengan caraku sendiri.
(Nusa bakti menguarkan pestol dan menodong Dirga Bakti. Melihat tingkah anaknya, Dirga Bakti tertawa sinis lalu maju mendekati anaknya.)
DIRGA BAKTI:
(Menantang.)
Tembaklah kalau kau berani! Aku tak akan mati dengan senjata seperti ini anakku. Kekuatan yang kumiliki tak terkalahkan.
(Nusa Bakti ragu dan goyah. Dirga bakti dengan cepat merampas senjata Nusa Bakti.)
DIRGA BAKTI:
Pulanglah nak, sebelum senjata ini meledakan kepalamu!
(Nusa Bakti dengan penuh amarah beranjak meninggalkan tempat itu. Dirga Bakti mengarahkan pestol ke Mita Berta.)
DIRGA BAKTI:
Senjata ini cocok untuk kematianmu.
MITA BERTA:
(Balik menantang dengan penuh amarah.)
Tembaklah. Kau pikir aku takut mati?
(Dirga Bakti tertawan sinis lagi, lalu mengarahkan pestol ke langit-langit Puri. Terdengar bunyi tembakan. Lampu mendadak Padam.)
BAGIAN IV:
Di luar terdengar suara warga gempar meneriakan PokPok dan semacam jerit ketakutan. Lalu disusul improvisasi membicarakan kejadian terror PokPok menurut pendapat masing-masing hingga terdengar gaduh. Sesaat kemudian masuk bayangan Anela melesat ke dalam Puri. Mita Berta menyalakan lampu ruang tengah puri. Ia mendapati Anela meringkuk di atas dipan dalam keadaan ketakutan.
MITA BERTA:
Anela, apa yang terjadi?
ANELA:
(Sedih dan takut.)
Aku melayang ibu. Apa yang dikatakan ibu dan Paman ternyata benar. Aku bisa melayang dan merasakan kuatan gaib itu. Aku membuat terror di mana-mana. Aku tak mau melakukannya, tapi kekuatan itu memaksaku ibu.
(Mita Berta memeluk Anela.)
MITA BERTA:
Sudalah nak, kau harus kuat menerimanya.
ANELA:
Aku tak mau mewarisi kekuatan jahat ini Ibu. Aku tak mampu. Lakukan sesuatu ibu! Bebaskan aku dari kekuatan mengerikan ini!
MITA BERTA:
Ibu dan Pendeta Abraham mendoakanmu. Moga kau terbebas dari kutukan ini. Tapi itu seakan sulit terhindarkan Anela. Kekuatan itu sudah ada sejak leluhur ayahmu. Keluarga kita punya musuh yang harus kau hancurkan!
(Tiba-tiba pintu depan terkuak. Masuk Dirga Bakti.)
DIRGA BAKTI:
Akulah musuh itu Anela. Aku telah lama menanti hingga kau menyadari kekuatanmu. Kini saatnya pertarungan besar antara kita harus berlangsung.
(Mita Berta beranjak menantang Dirga Bakti.)
MITA BERTA:
(Marah)
Kalau kau berani, lawan aku Dirga bakti! Anakku tidak bersalah. Lawanlah aku!
DIRGA BAKTI:
Kau hanya debu yang sekali kutiup langsung lenyap Mita Berta.
MITA BERTA:
Aku tak takut melawanmu sekalipun aku mati!
(Mendadak muncul Roy Marsika)
ROY MARISKA:
Aku lawanmu Dirga Bakti!
DIRGA BAKTI:
(Tertawa sesaat.)
Roy Mariska… Roy Mariska. Rupanya kau telah kembali dari pelarianmu di luar negeri. Kau pikir kau dapat mengalahkanku?
ROY MARISKA:
Kita coba saja. Kau membunuh ayah Anela. Kau pembunuh kakakku. Kau harus harus kuhancurkan Dirga Bakti.
(Roy Mariska bersiap menyerang Dirga Bakti dengan membacakan mantra.)
MANTRA ROY MARISKA:
Goraka bataka.
Goraka bataku.
(Pukulan gaib ala keluarga besar Mariska dilepaskan Roy. Dirga Bakti terlontar ke belakang dan sekarat. Tak berapa lama muncul Nusa Bakti. Ia berusaha menolong ayahnya yang sekarat.)
NUSA BAKTI:
Ayah!
DIRGA BAKTI:
Nusa Bakti kau harus berjanji menghancurkan mereka!
NUSA BAKTI:
Permusuhan ini harus dihentikan ayah. Aku tak bisa memenuhi permintaan ayah. Maafkan aku ayah!
DIRGA BAKTI:
Kau telah dibutakan oleh cinta Anakku. Aku kecewa padamu!
(Dirga Bakti menghembukan nafas terakhirnya.)
ROY MARISKA:
Nusa Bakti, kau juga harus mati!
Keturunan kalian harus lenyap selamanya.
(Roy Mariska, dengan kekuatan gaibnya siap menyerang Nusa Bakti, namun tiba-tiba Anela Mariska berdiri menyerang Roy Mariska dengan kekuatan gaib PokPok yang lebih besar. Roy Mariska terlontar ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah.)
ROY MARISKA:
(Bicara ke Anela)
Anela, mengapa kau lindungi musuh keluarga kita?
ANELA:
Aku tak melindungi musuh kita Paman.
Aku melindungi orang yang kucintai!
(Mita Berta berlari mendekati Roy Mariska. Roy Mariska menghembuskan nafasnya dan tak bergerak lagi. Mita Berta menangis memandang kematian yang tragis itu.)
ANELA:
Nusa Bakti, kini tinggal kita berdua. Sudah sejak leluhur, keluarga kita bermusuhan. Kita berdua sama-sama pewaris dunia mistik PokPok. Permusuhan ini menghalangi hubungan kita.
NUSA BAKTI:
Kecuali kau ingin membunuhku, lakukanlah. Tapi permusuhan ini harus diakhiri Anela agar tak ada lagi korban lainnya yang berjatuhan karena kita . Aku percaya dengan apa yang kurasakan. Aku menyayangimu. Seperti aku percaya kepada Yesus yang menaklukan kejahatan dengan cintaNya yang tanpa batas.
(Nusa Bakti beranjak mendekati Anela.)
NUSA BAKTI:
Anela, apakah kau percaya, apa yang dipersatukan Tuhan tak dapat dipisahkan manusia?
(Anela mengangguk. Keduanya kemudian berpelukan dengan perasaan cinta yang dalam, lalu meledak secara gaib menjadi cahaya kunang-kunang. Cahaya kunang-kunang lain mendatangi mereka dalam sambutan tarian cahaya, lalu melesat ke langit malam. Hening sesaat, tiba-tiba terdengar suara misterius dari mulut Mita Berta yang nampak dirasuki kekuatan gaib PokPok.)
MITA BERTA:
(Dengan tubuh bergetar.)
Kok…Kok…Kok
TAMAT.
Iverdixon Tinungki
(Dilarang dipentaskan tanpa seizin pengarang.)


Discussion about this post