Oleh: Iverdixon Tinungki
Ada beberapa perjumpaan puluhan tahun silam dengan penyair Sri Rahmillah Ukoli yang terlupakan begitu saja. Dan saya sudah tua untuk mengingat hari dan nama-nama.
Tapi 5 Januari 2026, ia bertandang kembali ke “Beranda Salak” rumah saya bersama beberapa anggota komunitas Padepokan Puisi Amato Assagaf.
Dan Mila –sapaan akrabnya—memberikan saya 25 puisinya. Hari berhujan itu pun nampak indah dan puitis dalam diskusi sastra yang menawan.
Saya menyukai puisinya yang sarat makna, tanda dan system perlambangan.
Puisi-puisinya semacam kumpulan rasa sakit dan hubungan manusia. Ada oposisi biner dan paradoks perpisahan.
Begitu setidaknya, saat saya membaca puisinya berjudul “Sebelas”. Ia tersenyum sambil mengungkapkan alasannya menulis puisi sebagai upaya merawat ingatan.
“Sebab ingatan adalah rumah bagi banyak kenangan yang (bisa) lahir, datang dan atau pergi, Maka menuliskannya adalah salah satu cara terbaik dalam merawat ingatan tersebut, tetap hidup dan tinggal,” kata dia.
Dalam puisi yang berjudul “Suluk Blastokista (1)”, saya dibimbing melayang dalam simbolisme siklus kehidupan dan ketiadaan. Di sana ia menghadirkan citra kekosongan yang esensial.
Dari kaca mata semiotika puisi ini merepresentasikan tanda tentang dualitas hidup dan mati yang tidak terpisahkan.
Pada puisi “Ambigu: Satu” ia meringkus saya ke dalam kontras alam dan arkatipe ibu. Puisi ini sangat kuat dalam permainan tanda-tanda alam untuk menggambarkan gejolak batin.
Pertama, saya dipertemukan denga napa yang disebut sebagai kontras termal. Ada perbenturan tanda antara “Matahari membakar” sebagai(realitas luar atautakdir Tuhan dengan “Hujan membeku” yang sebegitu impresif mengambarkan kesedihan yang terpendam. Ini menunjukkan disonansi antara apa yang terjadi di dunia dengan apa yang dirasakan di dalam jiwa.
Kedua, saya melihat Ibu sebagai Mediator. Tokoh “Ibu” dalam semiotika sering menjadi simbol rahim kebijakan atau penawar duka. Ibu mengubah “doa” menjadi “nada”, yang berarti mengubah beban spiritual menjadi sesuatu yang harmoni estetik.
Ketiga, ia menghadirkan Personifikasi atau semacam semesta canda. Ia mendevaluasi penderitaan, dengan menganggap luka sebagai “candaan semesta”. Ia mengubah tanda “tragedi” menjadi tanda “ironi” agar lebih mudah diterima oleh logika manusia.
Sederhananya, dalam pembacaan sekilas puisi-puisi Sri Rahmillah Ukoli, dapat dikemukakan sebuah sintesis: “ia termasuk penyair yang guyub dengan semiotika penderitaan.”
Sri Rahmillah Ukoli, Lahir di Manado 29 September 1980. Pemilik rahim dari 3 anak lelaki : Atilla, Almer, Abhipraya.
Senang menulis sejak SMP, dimulai dengan menulis diary, dan mulai belajar menulis puisi di SMA. Sayangnya semua tulisan-tulisan lama tak bisa lagi ditemukan, hanyut disapu banjir berkali-kali, terakhir banjir bandang Manado 2014.
SEBELAS
Menulismu di sajakku
Hurufku telah berkali-kali jatuh
Pada matamu yang purnama
Pada ucapmu yang duka:
“Perpisahan tak melulu tentang akhir,
Bisa jadi, ia adalah batas. Luka yang pamit pulang, untuk menyilakan bahagia esok.”
Lalu kecemasan apa yang harus ku eja?
Kau yang berlari jauh di depanku atau aku yang tertatih lampau dibelakangmu dan sesak di banyak nafas?
Pada lembar cerita ini
Kau terlalu banyak menekan tombol spasi
Meninggalkan banyak baris yang mati sia-sia
Lalu kecemasan mana yang harus ku tulis?
Sajakku kehilangan titik
Sedang kata-kata masih terikat akad
(Juli 2020; Sebelas tahun kata-kata)
SULUK BLASTOKISTA (1)
Ada yang luruh pergi,
Dari riuh tanpa suara,
Dari bunyi tanpa nada,
Dari isak tanpa air mata.
Ada yang luruh pergi,
Menapak jalan tanpa nama,
Menuju rumah paling purba,
Pada awal segala mula.
(Rumah singgah, 011221)
AMBIGU: SATU
Dilangit MU matahari membakar,
Dimataku hujan membeku
Ibu menjelma nada, mendaras doa pada liriknya. Berdamailah, bisik ibu.
Semesta memang suka bercanda lewat luka
(Rumah Tanjung, Desember 2019)
(*)

Discussion about this post