oleh

Menanti Racikan Menteri Pariwisata Baru di KEK Likupang

Wishnutama Kusubandio punya banyak pekerjaan penting yang harus dilakukan setelah dilantik Presiden Jokowi sebagai Menteri Pariwisata. Salah satunya adalah melanjutkan program destinasi pariwisata super prioritas yang ditinggalkan pendahulunya Arief Yahya.

Likupang Minahasa Utara masuk dalam destinasi super prioritas itu, bersama Danau Toba, Mandalika, Borobudur dan Labuan Bajo. Daerah-daerah ini terus didorong pengembangan infrastrukturnya agar bisa selesai hingga 2020. Presiden Jokowi memerintahkan pembangunan Likupang yang kini berstatus kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata di Sulawesi Utara agar bergegas, sehingga mulai tahun depan bisa dipromosikan secara masif.

Suasana di Pantai Pulisan. (foto: Barta1)


Pesan khusus Jokowi pada Menteri Pariwisata baru adalah mengurus 10 destinasi wisata baru. Selain itu, urusan ekonomi kreatif juga menjadi tugas Wishnutama. Menyangkut ini, sosok berlatar jurnalis televisi ini telah memiliki konsep di kepalanya. Satu hal yang menjadi perhatian Wishnu adalah nasib penduduk atau para pelaku usaha di destinasi prioritas itu. Menurutnya, pemerintah harus memikirkan bagaimana memberdayakan rumah makan warga daripada membangun restoran baru. Hal ini, kata Wishnu, akan berdampak pada skill atau kemampuan masak penduduk setempat.


“Tidak melulu harus bersaing infrastruktur, karena uniqueness pariwisata itu juga menarik. Karena orang yang selama hidupnya, tiap hari, merasakan infrastruktur yang bagus, mereka akan merasakan experience yang berbeda. Itu yang harus bisa kita tawarkan,” katanya setelah sertijab di Gedung Saptha Pesona, Jakarta Pusat, Rabu (23/10), seperti dilansir gatra.com.


KEK Pariwisata Likupang baru disetujui Agustus 2019 oleh Dewan Nasional KEK di Jakarta. Satu bulan sebelumnya, Juli 2019, lokasi tersebut sempat ditinjau langsung Presiden Jokowi saat melakukan kunjungan kerja ke Manado. Jokowi terkesan ikut terhipnotis dengan eksotisme pantai-pantai di Likupang Timur, padahal juga di momen kedatangan tersebut dia ikut menjejakkan kaki ke Bunaken, salah satu lokasi wisata pantai dan diving paling tersohor di Sulawesi Utara. Jokowi menerima rekomendasi Dewan KEK saat Likupang disodorkan kepadanya untuk dikembangkan.

Mengubah Likupang menjadi kawasan ekonomi khusus adalah usulan dari PT Minahasa Permai Resort Development (MPRD), anak perusahaan Sintesa Group. Total lahan KEK Likupang yang disetujui seluas 197,4 hektare. Luasan lahan itu terdiri atas 155 hektare lahan berstatus sertifikat hak guna bangunan (SHGB) dan lahan seluas 42,4 hektare dengan status sertifikat hak milik (SHM). Sedangkan total investasi MPRD untuk membangun KEK Likupang mencapai Rp 2,1 triliun. Proyeksi investasi dari pelaku usaha ditargetkan Rp5 triliun.

Salah satu alasan mengapa Likupang terpilih project nasional ini, karena meningkatnya kunjungan wisatawan baik lokal atau mancanegara ke Minut dalam tiga tahun terakhir. Dalam catatan Badan Pusat Statistik Kabupaten Minut, pada 2016 total 29.707 turis baik lokal maupun asing masuk ke kabupaten itu. Tahun berikutnya, 2017, dia naik ke posisi total 46.769 orang. Pada 2018 kemarin, kunjungan melonjak signifikan ke angka 224.619, atau 124.830 wisatawan mancanegara ditambah 99.789 wisatawan lokal.

Kunjungan Wisatawan ke Kabupaten Minahasa Utara

Sumber: BPS Minut 2018

Pemerintah meyakini keelokan pantai Likupang menjadi daya tarik utama penambahan jumlah kunjungan tersebut. Dalam rencana jangka panjang Pemerintah Provinsi Sulut, diharapkan khusus KEK Likupang akan menyumbang 16 persen, sekitar 162 ribu orang, dari total kunjungan wisatawan asing ke Bumi Nyiur Melambai yang dipatok 1 juta kunjungan pada 2025.

Paquita Widjaya, selaku Project Development Head PT Minahasa Permai Resort Development Agustus tahun ini pada media memprediksi, KEK Likupang mampu memberikan kontribusi pada pendapatan devisa di tahun 2030 sebesar Rp 22,5 triliun. Pembangunannya akan diurai dalam 3 tahap. Tahap I pengerjaannya mulai 2020 dan berakhir pada 2023. Setidaknya sudah ada target investasi di masa pertama ini dari beberapa investor.

Antara lain pengembang internasional Maestro & Partners yang rencananya membangun resor mewah bernilai Rp 357 miliar. Sedangkan Dune World, jejaring spesialis diving, juga siap membangun resor khusus para penyelam dengan nilai investasi Rp 50 miliar. Penanam modal dalam negeri ikut hadir, dari Sejuta Rasa Carpedia lewat rencana pembangunan Beach Club seharga Rp 307 miliar serta Artha Prakarana yang siap mengadakan Nomadic Resort senilai 36 miliar.

Infrastruktur jalan terus ditingkatkan untuk menunjang mobilitas menuju lokasi kawasan ekonomi khusus pariwisata di Likupang. (foto: Barta1)

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ikut menyambut rencana besar ini dengan penyediaan infrastruktur penunjang seperti jalan dan jembatan. Lewat Balai Pelaksana Jalan Nasional XV Sulut-Gorontalo, kementerian sementara membangun 2 ruas paket penunjang KEK Likupang. Ruas pertama adalah jalan penyambung Kota Bitung dan Likupang sepanjang 7,9 Kilometer dengan nilai kontrak Rp 58,21 miliar. Paket berikutnya adalah rehabilitasi dan pelebaran jalan serta jembatan di Likupang senilai Rp 41,72 miliar. Kedua paket tersebut direncanakan tuntas pada 31 Desember 2019.

Artinya dengan kehadiran infrastruktur seperti jalan akan semakin membuka akses serta memperlancar kehadiran wisatawan ke kawasan ekonomi khusus wisata tersebut. Sejauh ini untuk menjangkau Likupang relatif mudah karena tersedia berbagai opsi jenis transportasi. Wisatawan misalnya, bisa langsung mendatangi sejumlah cottege di pesisir Likupang sejak masuk dari pintu Bandara Sam Ratulangi Manado dengan menyewa mobil seharga Rp 500.000-an ribu sekali jalan. Untuk menunjang perjalanan ini, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran Rp 631 miliar untuk jalan sepanjang 31,5 kilo yang akan menyambung langsung bandara ke Likupang Timur.

Modal Kearifan Lokal
Masyarakat Desa Pulisan semakin memahami keindahan alam yang dimiliki wilayah mereka adalah hal berharga yang bisa menghadirkan kesejahteraan. Upaya menjaga keasrian serta isi laut telah teredukasi pada mereka. “Tidak bisa menangkap ikan di area dekat pantai,” ujar Ros Pangalila-Lungkang, salah satu pengelola gazebo di Pantai Pulisan saat ditemui Barta1 medio September 2019.

Wisatawan menikmati sensasi ombak di pesisir Pantai Pulisan. (foto: Barta1)

Wisatawan asing baik dari negara-negara di Eropa, Australia hingga Amerika kontinyu datang ke Pulisan. Setahun terakhir semakin banyak pula wisatawan dari Tiongkok mampir ke sana. Warga merasakan langsung dampak ekonominya. Para turis mancanegara tersebut selalu menyewa perahu bermotor milik warga untuk mengelilingi area lautan depan pantai. Tarif per orang relatif murah, Rp 25 ribu sekali jalan. Sedangkan gazebo yang bisa digunakan untuk berteduh, disewakan Rp 250 ribu sekali pakai per hari. Masuk ke lokasi ini juga tidak dipungut bayaran tinggi. Hitungannya per kendaraan roda empat sebesar Rp 15.000.

Selain itu kebersihan di area pantai menjadi tanggung jawab bersama, baik pengelola gazebo maupun lembaga swadaya lokal. Budaya bersih sendiri merupakan tradisi masyarakat yang diwariskan pendahulu. Untuk diketahui, penduduk Pulisan dan Kecamatan Likupang umumnya merupakan percampuran dua etnis besar di Sulawesi Utara; Nusa Utara dan sub suku Tounsea dari Minahasa. Nusa Utara merupakan sebutan pada pulau-pulau di sebelah Utara Sulawesi yaitu Sitaro, Sangihe dan Talaud. Budayawan Sulut Iverdixon Tinungki mengatakan, orang Nusa Utara punya budaya laut sekaligus darat disebut sasahara dan sasalili. “Filosofinya meminta manusia untuk hidup berdampingan dengan alam,” kata Iverdixon.

Pertemuan budaya Nusa Utara dan Tounsea bisa menjadi modal kearifan lokal yang ditonjolkan ke wisatawan. Orang Nusa Utara misalnya, lanjut Iver, juga punya tradisi tutur berbentuk sastra puisi dan sasambo. Mereka gemar bernyanyi dengan gerakan. Salah satu yang cukup populer adalah budaya Masamper, nyanyian berkelompok dipadu koreografi layaknya pelaut tengah mendayung. Sementara orang Tounsea punya Katrili, budaya dansa berkelompok yang terakulturasi dari Polinesia.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulut, Daniel Mewengkang SE MSi juga menyatakan perlu menonjolkan kearifan dalam bentuk budaya lisan untuk menghidupkan Likupang dalam industri pariwisata. Kisah-kisah lokal seperti “Tumatenden dan 9 Bidadari” dari Kabupaten Minahasa Utara bisa menjadi pewarna saat wisatawan mengunjungi kawasan pariwisata super prioritas ini.

Pemerintah nantinya mengambil peran dalam kemudahan perizinan bagi investor pariwisata yang masuk KEK Likupang. Pengurusan izin disatukan dalam sistem one stop service. Bangunan penunjangnya akan didirikan sehingga penanam modal tak sulit melakukan pengurusan, termasuk menghadirkan Badan Pertanahan Nasional untuk dokumentasi keabsahan lahan.

“KEK merupakan inisiatif swasta yang dilempar ke pusat, kita akan menunggu Peraturan Pemerintah tentang KEK Pariwisata, kami dalam kapasitas Dinas pariwisata men-support soal dokumen dan perizinan termasuk menerobos bila ada kendala. Bila peraturannya keluar September ini artinya ini termasuk tercepat karena hanya 7 bulan,” jelas Daniel.

Dua bocah tengah bermain di sekitaran Pantai Pall, salah satu pesisir asri di Likupang Timur yang juga akan menerima efek positif dari kawasan ekonomi khusus. (foto: Barta1)

Dia mengapresiasi Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey yang disebut piawai melobi menteri hingga presiden untuk meninjau langsung Likupang. Ada pembeda krusial antara Olly dan pemimpin-pemimpin daerah sebelumnya dalam persoalan lobi anggaran ke pusat. Dulu kata Daniel Sulawesi Utara sering ‘merengek-rengek’ ke pusat agar anggaran bisa teralokasi. Namun saat Olly mulai bekerja perhatian pemerintah pusat ke Sulut semakin menebal. Termasuk juga daerah ini yang masuk 10 destinasi prioritas oleh Kementerian Pariwisata —hal mana tidak pernah terjadi sebelumnya.

Salah satu hal yang menggembirakan adalah pengembangan KEK Likupang sebagai destinasi pariwisata yang berwawasan lingkungan. Kata Daniel, pembangunan Wallacea Conservation Center di sekitar kawasan khusus ini akan menjadi pusat pengembangan pariwisata berbasis konservasi. Apalagi tak sebegitu jauh dari Pulisan ada Desa Bahoi yang dikenal sebagai desa ekowisata karena memiliki konservasi tanaman bakau. Beberapa desa di kecamatan tetangga sebelum Likupang juga dikenal sebagai kawasan penghasil buah-buahan dan sentra produksi perikanan darat.

Dan sebagai lokasi resor, akomodasi dan enterteinmen, Minahasa Utara mesti siap menyambut pembangunan KEK Likupang. Program penunjang lanjut Daniel digeber melalui beragam iven yang akan menceritakan ada apa saja di Minahasa Utara. “Kita bisa melihat bahwa Kabupaten Minahasa Utara bergerak maju untuk menyambut KEK Likupang, termasuk juga pembangunan infrastruktur penunjang berupa pembangkit listrik tenaga surya yang bisa menyuplai daya 16 megawatt,” terang dia.

Keberadaan sumber energi memang menjadi hal krusial untuk menjamin modal yang ditanam pengusaha. Apalagi sebelum investor-investor besar masuk seiring kehadiran KEK, di Kecamatan Likupang Timur sudah lebih dulu beroperasi sejumlah cottege dan hotel berbintang. Di Pulau Bangka misalnya, ada Coral Eye yang menjual kamarnya mulai dari Rp 800.000 per malam. Juga Murex Dive Resort, penginapan dengan harga per malam mulai dari Rp 1 jutaan. Ada pula Casabaio Paradise Resor di Desa Maen dengan kamar mulai dari Rp 600.000-an ribu per malam. Sedangkan homestay milik warga sekitar harganya jauh lebih terjangkau, mulai Rp 200.000 per malam. (*)

Editor: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed