oleh

Saya Membaca Buku Sovian Tentang Axsel

Oleh: Amato Assagaf

KESIMPULAN apa yang bisa saya ambil setelah membaca buku “Sajak, Drama, dan Teater Leonardo Axsel Galatang Dalam Apresiasi dan Resensi” karya Sovian Lawendatu? Pertama, kita membutuhkan lebih banyak buku seperti ini. Kedua, kita membutuhkan lebih banyak kritikus seperti Sovian. Dan itu adalah kesimpulan yang harus bagi sebentuk minat yang nyaris hilang ketika sastra terseok-seok di sepanjang jalan Sulawesi Utara hari ini.

Mungkin saya harus membahas bukunya, tapi saya memilih untuk lebih dulu membahas penulisnya. Sebelum buku ini, Sovian Lawendatu bagi saya hanya seseorang yang kebetulan terlibat dalam dunia sastra Sulawesi Utara. Setelah buku ini, saya berani bilang bahwa Sovian Lawendatu adalah nama bagi harapan kita terhadap kelanjutan perkembangan sastra, terutama di Sulawesi Utara.

Karena, jika ada mimpi yang hilang dari perbendaharaan sastra kita hari ini, maka itu adalah hilangnya para intelektual sastra seperti Sovian. Kita, orang-orang yang berkhidmat di dunia sastra, seperti tak lagi punya hak untuk bermimpi di luar pagar yang ditentukan bagi kita oleh dakik dan pelik sastra itu sendiri.

Kenapa? Karena kita lupa untuk merayakan ketekunan dan kerja keras dalam berhadapan dengan karya sastra seperti yang telah ditunjukkan Sovian lewat buku ini. Dan, terutama, karena kita lupa bahwa itu adalah via dolorosa yang harus diambil oleh, setidaknya, satu orang di antara kita. Dan Sovian tampaknya telah mengambil jalan itu. Menyelamatkan kita dari dosa-dosa sejarah sastra Sulawesi Utara yang kehilangan minat terhadap masyarakat mereka sendiri.

Seorang kritikus sastra adalah jembatan yang menghubungkan antara sastrawan dengan masyarakat. Kita bahkan tidak bisa mengandaikan kebesaran sejarah sastra tanpa adanya para kritikus dan intelektual sastra di belakang setiap karya besar yang kita kagumi hari ini. Karya kritikus seperti Sovian adalah gema yang mengabadikan hubungan sastrawan dengan masyarakat umum.

Kita boleh mengklaim bahwa kita bisa besar sebagai, katakanlah, seorang penyair tanpa perlu kritikus. Tapi itu adalah klaim yang bukan hanya keliru tapi juga tak sepantasnya. Maksudnya sederhana, hanya seorang penyair kelas kambing yang akan ribut menjelasterangkan puisi-puisinya sendiri. Seperti juga hanya seorang sastrawan kelas bebek yang akan membahas karyanya sendiri. Sementara itu, kita tahu bersama, sebuah karya sastra akan lahir sebagai anak yang kesepian ketika ia kehilangan pembicaraan.

Lebih teknis lagi, pembicaraan atas satu atau lebih karya adalah tuntutan bagi berlangsungnya proses apresiasi. Setelah membaca Sovian dalam kumpulan kritiknya terhadap Axsel, saya bisa mengambil perspektif tentang karya-karya yang dibicarakan itu. Dan entah perspektif saya sama atau berbeda dengan Sovian, yang pasti karya Axsel akan terbicarakan karenanya. Dan proses apresiasi itu akan berlangsung dalam dinamika kritik yang genah.

Apa yang tergambar bagi saya dalam tulisan-tulisan Sovian di buku ini adalah ketekunan dan kerja keras khas seorang kritikus dan apresian intelektual. Meski demikian, ada juga yang menarik di dalamnya, yaitu taruhan yang dibuat Sovian antara menulis dalam kepekatan kritik sastrawi yang menuntut kerut jidat dengan lantunan langgam pop yang harus diturutinya dalam sebuah tulisan bagi surat kabar. Dan meskipun hasilnya masih bentuk yang malu-malu dalam kedua jalur itu, Sovian sudah cukup berhasil untuk membuat taruhan.

Untuk itu, saya hanya ingin bilang bahwa Sovian masih harus lebih berani menulis dalam suasana era kini; era milenial, era medsos dan android, era pop, bahkan era post-pop. Sebuah era ketika yang dakik dan pelik membutuhkan penjelasan, dan yang panjang serta lebar membutuhkan ringkasan. Juga sebuah era ketika spesialisasi menjadi begitu kuat atas nama kompetensi, namun dengan kerinduan yang kuat pada pemahaman bergaya ensiklopedik.

Dalam kaitan ini, saya pikir, Sovian masih orang sastra dalam arti yang sempit dari istilah itu. Tapi dalam kaitan ini pula, saya pikir, Sovian telah memulai sesuatu yang penting. Membawa, dengan keterbatasan tertentu yang dia miliki, satu atau lebih karya ke hadapan publik pembaca yang lebih luas. Pendeknya, lewat buku ini, Sovian telah memicu minat intelektual kita pada karya sastra.

Apa pentingnya minat intelektual itu? Di sini, prologue Grover Rondonuwu dalam buku ini menjadi penting untuk sedikit dipersoalkan. Pertama, menyebut Sovian sebagai bukan kritikus dalam pengertian Barat. Kedua, menghubungkan dengan minat yang aneh antara muasal dunia hidup Axsel dalam puisi-puisinya dengan kebusukan kapitalisme.

Dalam persoalan pertama, Grover – mungkin seperti juga Sovian – telah membatasi diri dengan rangka-rangka bahasan yang terlalu akademis dalam melihat persoalan karya sastra berhadapan dengan kritik. Apresiasi, seperti juga resensi, mestinya dipandang sebagai bagian yang absah dari suatu bentuk kritik sastra atau seni.

Dan akademisme, yang bukan serta merta kerangka absah bagi minat intelektual kita akan sastra, adalah batasan yang tidak lebih penting dari kreativitas intelektual seorang, katakanlah, pengulas serius karya sastra seperti Sovian.

Artinya, dalam kerangka ini, Sovian adalah seorang kritikus sastra untuk makna apapun yang bisa kita berikan pada istilah itu. Dan ini penting karena sudah kinilah saatnya bagi kita untuk berhenti membuat penilaian yang terlepas dari semangat zaman. Seorang pengulas karya sastra saat ini tidak perlu lagi memenuhi syarat akademis yang kaku dalam membuat ulasannya.

Kita tak lagi hidup dalam dunia jurnal dan mimbar akademis. Kita sekarang hidup dalam dunia medsos dan android. Dan jika media adalah pesan itu sendiri, maka kita sudah harus berpikir bahwa pesan dari dunia sastra kita adalah pesan medsos dan android, bukan jurnal dan mimbar akademis.

Ini bukan sikap anti-akademisme tapi semata ikhtiar untuk berpijak di atas tanah pada zamannya. Pertama, dengan membuat pembedaan antara akademisme dengan ketekunan intelektual. Yang kita butuhkan adalah yang terakhir itu, sedangkan yang pertama hanya pelengkap yang tak perlu kita persyaratkan terlalu kaku.

Apa yang kita butuhkan dari seorang kritikus sastra pada, katakanlah, era milenial ini adalah kesanggupan untuk membuka ruang apresiasi sastra yang bersifat intelektual bagi publik yang sedang terseret ke dalam sikap anti-intelektual. Dan itu tidak sama dengan membuat batasan-batasan akademis bagi keluwesan seorang kritikus untuk mengambil tempat di ruang medsos dan android.

Kedua, jebakan untuk memperhadapkan antara realisme supra-modern hari ini dengan romantisme muasal dunia hidup masa lalu. Sovian, seperti yang telah saya katakan, masih orang sastra dalam pengertian yang sempit dari kata itu. Pena di tangannya selalu tampak gemetar ketika dia harus menulis keluar dari dunia sastra yang dia geluti. Itu bukan dosa bagi seorang kritikus sastra, tapi mungkin itu adalah bagian dari apa yang kita pahami sebagai minat intelektual.

Perseteruan filsafat (termasuk ilmu-ilmu sosial) dengan sastra (termasuk segala perangkat ilmu sastra), yang tampaknya telah keliru dipahami Sovian, tepat berada di titik ini; minat intelektual. Jelas bukan tanggungjawab Sovian, juga Grover, untuk berminat pada gagasan yang berbeda dalam memandang kapitalisme, tapi mungkin merupakan sesuatu yang perlu, ketika kita membicarakan puisi, untuk setidaknya menjadi sama kreatif dengan penyair yang sedang kita bicarakan.

Mengambil sebuah pendekatan dalam mengulas sebuah karya harus dengan minat intelektual, tapi justru atas nama minat intelektual itu pula kita sepatutnya sadar pada jebakan ideologis dari pendekatan yang kita ambil. Kenapa? Karena sementara kita merasa tengah, misalnya, membicarakan puisi Axsel, kita sesungguhnya tengah membicarakan lajur-lajur ideologis dalam pendekatan kita sendiri. Itu bukan masalah sepanjang kita menyadari keterbatasan pendekatan kita sendiri.

Maka, membuat penghadapan antara “kapitalisme yang, entah kenapa, harus selalu busuk” dengan “muasal dunia hidup sang penyair yang, entah kenapa, sudah pasti baik” itu bukan sebuah tafsiran yang nyaman atas puisi tapi sebuah kilasan ideologis yang tampak jauh kurang kreatif dibanding dengan capaian dalam puisi yang tengah dibahas. Kenapa kita masih suka berdiam dalam kenyamanan yang lapuk dari romantisme, sementara seorang penyair hadir bagi dunianya dalam kekiniannya?

Dengan gambaran yang belum bisa saya eksplorasi lewat tulisan ini, bisalah dipahami bahwa, dengan meminjam penekanan Grover atas kajian Sovian terhadap puisi Axsel, jika ada jalan yang harus berani diambil Sovian bagi kritisismenya atas sastra yang sangat kita butuhkan itu, maka itu adalah keberaniannya untuk menjadi lebih kreatif dari yang sudah dia tampilkan dalam buku ini.

Dan kreativitas bagi seorang kritikus sastra membutuhkan minat intelektual yang jauh lebih luas dari perangkat intelektual dunia sastra itu sendiri. Itulah makna yang lebih filosofis dari perseteruan sastra dengan filsafat.

Dengan melihat minat intelektual Sovian yang begitu besar atas karya para penyair, cerpenis, novelis, dan dramawan Sulawesi Utara, saya percaya bahwa Sovian bisa menjadi lebih kreatif dari saat ini. Lebih kreatif dalam menjembatani antara dakik dan pelik sastra dengan publik dalam dunia pop kita, serta lebih kreatif dalam membaca karya para sastrawan, terutama puisi.

Akhir kata, sekalipun Sovian hanya bisa menjadi Sovian seperti hari ini, saya tetap percaya bahwa dia adalah kritikus yang dibutuhkan dunia sastra Sulawesi Utara saat ini. Setidaknya, untuk memancing orang iseng seperti saya mendapat bahan untuk meributkannya. Dan seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, buku Sovian tentang Axsel ini adalah buku seorang kritikus luar biasa tentang karya seorang sastrawan luar biasa. Selamat membaca.

Manado, 24 Juli 2018

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed