Manado, Barta1.com – Emmi Purba, warga Kairagi II, Kecamatan Mapanget, bersama suami dan anaknya mengunjungi Pantai Karangria di Kecamatan Tuminting, Kota Manado. Mereka datang untuk melakukan terapi bagi sang suami, Tein Tulus, yang mengalami serangan stroke kedua, Minggu (07/06/2025).

Menurut Emmi, Pantai Karangria dikenal luas oleh masyarakat sebagai pantai terapi, tempat alternatif untuk pemulihan kesehatan, terutama bagi penderita stroke. Ia menyebutkan telah bertemu dengan sejumlah pengunjung lain yang juga menjalani terapi rutin di pantai tersebut dan menunjukkan perkembangan kesehatan yang signifikan.

“Di sini saya bertemu dengan penderita yang sama dengan suami, dan ada yang menceritakan sudah mengalami perubahan sejak bulan Februari 2025, kedua mendengar cerita dari anak-anak yang papanya datang ke sini bukan lagi ada perubahan, melainkan sudah berjalan seperti biasanya dan terlibat dalam permainan sepak bola,” ungkap Emmi sambil tersenyum.
Ketika mengetahui Pantai Karangria ini menjadi bagian dari reklamasi Pemerintah dan pihak pengusaha, ia terlihat kaget dan menyayangkan hal tersebut jika benar – benar dilakukan.
“Saya menyayangkan adanya rencana reklamasi di kawasan ini karena dapat menghilangkan fungsi pantai sebagai tempat terapi alami, selain mata pencaharian nelayan di sini. Kirannya juga Pemerintah Kota Manado dan Provinsi Sulut membatalkan rencana tersebut, dan memilih merawat serta mengembangkan fasilitas di Pantai Karangria agar lebih bermanfaat bagi masyarakat umum,” terangnya.

Kedatangan Emmi berserta keluarga bertepatan dengan agenda peringatan hari laut yang digelar oleh masyarakat pesisir dan aliansi tolak reklamasi Manado Utara.

Berbagai macam kegiatan telah diagendakan. Berdasarkan pantauan Barta1.com di lapangan, terdapat pameran hasil karya dari sampah plastik yang dibuat oleh Ing dari KMPA Tunas Hijau. Selain itu, terlihat pula sebuah simbol dengan tulisan “Perhatian, di sini tempat pendaratan penyu. Jagalah kebersihan,” yang dilengkapi dengan jaring berisi sampah plastik dan sebuah perahu di sampingnya.

Kegiatan yang mengusung tema “Selamatkan Laut Kita” dibuka dengan lomba mancing nelayan. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pengobatan gratis yang difasilitasi oleh BEM Muhammadiyah Manado, pertunjukan tarian Kabasaran dari Esakenter Sekahindo, serta edukasi tentang penyu oleh Fenly Derek dari PPA Tarantula. Rangkaian edukasi ini dilengkapi dengan sesi pengenalan reptil oleh Chuta Prastyo, perwakilan dari komunitas Zonareptil.

Sekretaris Jenderal Aliansi Tolak Reklamasi Manado Utara, Piter Sasundame, di lokasi menyampaikan, “Bisa kita bayangkan, ketika pantai ini dibeton atau ditutup oleh Agus Abidin, maka kita tidak akan bisa lagi melintas dengan mudah ke Bunaken dan area sekitarnya.”
“Ini adalah momentum peringatan Hari Laut Sedunia oleh masyarakat nelayan dan aliansi masyarakat peduli lingkungan yang menolak reklamasi. Kami akan terus berjuang dan melakukan aksi. Perjuangan ini tidak bisa dihalangi oleh siapapun maupun apapun. Kami juga tidak akan terbeli atau tergoyahkan. Tidak ada negosiasi, tidak ada langkah mundur. Kami akan terus maju, karena kami masih memiliki kekuatan: para ibu pejuang dan mahasiswa,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, dengan menyatakan bahwa kepala dinasnya tidak menunjukkan sikap yang baik. “Dia itu kadis perikanan, kelautan, sekaligus betonisasi laut,” sindirnya.
“Untuk saat ini, kita masih bersyukur karena pantai ini masih bisa dinikmati oleh banyak orang yang gemar berenang, mulai dari anak-anak hingga opa dan oma. Yang menarik, banyak yang meyakini pantai ini juga menjadi area terapi. Beberapa warga yang sebelumnya menderita stroke selama bertahun-tahun mengaku mengalami kesembuhan. Ada yang sudah delapan tahun mengalami stroke, namun kini sembuh total. Bahkan, ada yang dulunya hanya bisa digendong atau menggunakan alat bantu, sekarang sudah bisa berjalan perlahan-lahan,” terangnya.
Lanjut dia, bahwa ada banyak masyarakat sembuh di pantai ini dari semua usia, baik anak muda, orang dewasa hingga para lansia.
Sedangkan LBH Manado, Henly Rahman, juga menyampaikan pendapatnya bahwa Pantai Karangria ini menjadi Pantai terakhir di Kota Manado yang perlu dijaga dan diperjuangkan.
“Ketika nantinya pantai ini akan dibeton di mana lagi lokasi menempatkan perahu nelayan. Terakhir juga, ada penyu yang mendarat di Pantai Karangria ini. Ini kejadian secara alami, yang perlu kita jaga dan lestarikan kehidupannya,” ucap Henly sembari mengatakan “kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga laut ini.”
Begitupun dengan anggota BEM Universitas Muhamadiyah Manado, Wafig Nur Azizah dan Cinta Rahmdani Pakaya, saat diwawancarai mengatakan bahwa pihaknya ikut terlibat dengan melakukan pemeriksaan kesehatan gratis, baik itu tekanan darah, gula darah dan menimbang berat badan.
“Pemeriksaan kesehatan gratis ini dalam rangka memperingati hari laut. Sebagai mahasiswa Muhammadiyah Manado, di sini kami ikut menolak adanya reklamasi di Pantai Karangria ini, supaya penduduk pesisir seperti nelayan tidak kehilangan mata pencahariannya,” tegas cinta sembari menyebut petugas pemeriksaan kesehatan gratis ini ada sebanyak 10 Mahasiswa Muhamadiyah Manado
Apalagi, kata Cinta, baru – baru ini dihebohkan dengan kejadian di Raja Ampat dengan perusakan lingkungan terkait pertambangan nikel, melihat hal itu, tentunya menolak hal yang sama akan terjadi di Sulut, apalagi reklamasi di Manado Utara ini.
“Proses pemeriksaan gratis pada hari ini difokuskan kepada masyarakat Karangria, jika pun ada peserta di luar masyarakat di sini, yang ingin memeriksakan kesehatannya kami sangat terbuka,” pungkasnya.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post