oleh

Seri Biografi Pelukis Sulut: Alfred Pontolondo

Kendati karya-karya awalnya bergaya surealis yang banyak dipengaruhi komik dan karya-karya seni grafis cukil. Ia boleh dikata pelukis yang tidak mengikuti berbagai aliran seni lukis dunia. Karya lukisannya dominan dengan objek tunggal, garis-garis tegas, namun memuat berbagai simbol berisi pesan kritik sosial.

Alfred Pontolondo, kini menetap di kota Tahuna, Sangihe. Ia perupa lepasan Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Sejak tahun 2000, lukisannya lebih banyak fokus pada kritik sosial, baik tentang demokrasi, kesetaraan gender, HAM dan isu-isu lingkungan hidup. Lalu pada 2007, ia lebih banyak mengangkat hal-hal keseharian yang ada di lingkungan sekitar, sekaligus mengeksplorasi kenakalan pikiran sendiri.

Lahir di Kaluwatu, 10 April 1979. Pada 1996 sempat kuliah di Jurusan Pendidikan Seni Rupa IKIP Manado, lalu pindah ke ISI Yogyakarta pada 1997 hingga selesai. Menikah dengan Yunita E. Birang dikaruniai 3 orang anak: Kobar Asa Juang, Gemulai Ranting Cinta, Lantun Gita Mentari.

Ia berasal dari keluarga pecinta seni baik musik dan seni rupa. Bakat seni rupa sendiri diturunkan dari ayahnya, Fredrik Pontolondo yang merupakan seorang guru seni rupa, penata tari, dekorator, dan juga penulis berbagai pertunjukan drama. Karya-karya ayahnya dalam bentuk ratusan batu nisan, relief, patung, lukisan dinding serta berbagai papan nama kantor maupun gedung ibadah, dapat ditemui di berbagai tempat di Sangihe maupun Talaud.

Pelukis yang akrabnya disapa Alfred ini pertama kali belajar menggambar saat TK di jalan aspal, depan rumah di Desa Mohongsawang, Tagulandang, Sitaro. Sesudahnya setiap pagi sebelum ke sekolah di SDN Inpres Mohongsawang, ia selalu menghiasi jalan aspal di depan rumah neneknya dengan berbagai coretan menggunakan batu kapur yang banyak tersedia di kampungnya.

Objek yang paling sering digambarnya semasa kecil adalah Rocky, petinju dalam film yang dibintangi Silvester Stallone. “Saya menirunya dari gambar sampul buku tulis saya. Alhasil, buku-buku saya pun paling banyak bukan memuat materi pelajaran tapi coretan-coretan, itu berlangsung sampai di bangku SMA,” ujar dia.

Dalam perjalanan berikutnya, ia sangat terpengaruh oleh ratusan komik, terutama cerita silat yang ia baca sejak kecil. Itu membentuk pengetahuannya tentang anatomi serta kecenderungan yang lebih banyak menggunakan banyak garis pada setiap objek karyanya. Warna karya pun selama beberapa waktu dominan hitam putih.

Selama kuliah seni lukis di FSR-ISI Yogyakarta, ia dipengaruhi karya-karya seni cukil, seni grafis, yang kecenderungannya adalah hitam putih. Demikian juga ia menyukai karya-karya mural para perupa komunitas Apotik Komik, Taring Padi.

Peran sebagai aktifis mahasiswa juga sangat mempengaruhi corak karyanya baik seni lukis, karya seni instalasi dan karya-karya happening art. Untuk seni lukis karyanya dominan dengan objek tunggal, dengan garis-garis tegas, namun memuat berbagai simbol berisi pesan kritik sosial.

“Untuk gagasan saya banyak dipengaruhi oleh perupa Semsar Siahaan, Mulyono, serta almarhum S.Teddy. Saya juga banyak mendapatkan pengetahuan lewat berbagai diskusi dengan banyak komunitas di Yogyakarta seperti Taring Padi, teman-teman komunitas Durilatu, komunitas Daging-Tumbuh, Sanggar Caping, Cemeti, Sanggar Bidar Sriwijaya, Sakato-Minang, komunitas mahasiswa Bali, komunitas teater, desain serta berbagai komunitas angkatan di FSR ISI Yogyakarta,” ungkap dia.

Saat pulang kampung, ia banyak terlibat dengan komunitas teater dan komunitas perupa Sulawesi Utara, baik C’Art Manado, para mahasiswa Seni Rupa Unima dan perupa lainnya. Tahun 2007 ia mendalami karakter Kademo, seorang tetua adat di Talaud yang kocak, nakal namun kritis.

Karakter ini kemudian ia terus pakai untuk mempresentasikan gagasan-gagasan saya lewat karya yang bersifat parodi. Isinya tidak hanya memuat kritik sosial tapi juga membangun kesadaran cinta lingkungan hidup, kemanusiaan dan juga pergulatan pribadi yang sebelumnya tidak pernah ia angkat ke dalam karya. Karakter itulah yang hingga saat ini, ia angkat melalui media kanvas maupun mural sebagai representasi dari gagasan-gagasannya.

Sejak tahun 1997 aktif melakukan pameran seni lukis, seni instalasi dan happening art di beberapa kota di Indonesia. 1997, Pameran Sketsa, Komunitas “Lepas 97” di lorong FSR ISI Yogyakarta. 1998, Happening Art “Teriakan Reformasi” FSR ISI Yogyakarta bersama Indra Wahyu Nurcahyo, Eko Didik Sukowati, U Cheng dan Sri Hardana.

1998, Happening Art “Kau mau apa?” bersama Eko didik Sukowati, Jalan Katamso, Jogjakarta. 1998, Pameran seni instalasi “ Benang Benang Kelabang” Timuran Yogyakarta. 1998, Pameran “Sketsa II” Lorong FSR ISI, Yogyakarta. 1999, Happening art,”memberi pupuk” bersama Sukma Dewi, perupa perempuan asal Bali di kawasan ISI Yogyakarta.

1999, Happening art, “Ada apa dengan ASRI” halaman FSR ISI Yogyakarta. 1999, Happening art, “Selamat Malam ASRI” bersama Budi Bholeng di halaman FSR ISI Yogyakarta. 1999, Pameran I, Komunitas Lepas 97, di Gedung Seni Murni FSR ISI Yogyakarta. 1999, Pameran Tunggal Bersama, Gedung FSR ISI Yogyakarta.

1999, Pameran seni instalasi pada Festival Kesenian Yogyakarta XII, Benteng Vredeburg, Yogyakarta. 1999, Pameran Komunitas Tiga Kota, Yogyakarta, Bandung, Surabaya di Taman Budaya Surabaya. 1999, Pameran II, Komunitas “Lepas 97” Purna Budaya, Yogyakarta.

2000, Happening Art “Makan Meja Makan” bersama M. Anzieb, Eko Didik Sukowati dan Mozes Edytomo. 2000, Happening Art bersama grup Apel Band Gerobak pada Festival Kesenian Pantai Parangkusumo, Yogyakarta. 2000, Happening Art bersama grup Apel Band Gerobak pada Jambore motor antik Semarang. 2000, Happening Art bersama Grup Apel Band Gerobak di STIE Malang Kucecwara, Malang, Jawa Timur. 2000, Pameran Komunitas 4 kota, Yogyakarta, Malang, Surabaya dan Bandung, di Taman Budaya Surabaya.

2001, Happening art bersama komunitas Durilatu ‘Koma” di Gedung Lembaga Berita Nasional ANTARA, Jakarta. 2001, Pameran tunggal seni instalasi “Lempung Batu Lempung” Halaman FSR ISI Yogyakarta. 2001, Pameran seni Instalasi “Kematian Rambu” Komunitas Duri Latu, Perempatan Jalan Gondomanan Yogyakarta. 2001, Pameran Festival Kesenian Yogyakarta XIV di Taman Budaya Yogyakarta.

2002, Pameran Mural bersama, pada dinding kawasan ISI, Sewon, Bantul Yogyakarta. 2002, Pameran Seni Lukis Eksperimental di Gedung Seni Murni FSR ISI Yogyakarta. 2002, Happening Art pada Hari Bumi, bersama Ayu Arista Murti, Insanul dan Tri, di Jalan Malioboro, Yogyakarta. 2002, Pameran “Perupa Muda” di Pasuruan Jawa Timur. 2002, Pameran “Indonesia Gemilang 2002” bersama pelukis nasional Kartika Affandi, Baging Kussudiarjo dan Joko Pekik di Hotel Sahid Kawanua Manado.

2002, Pameran “Who Am I? bersama Komunitas C’Art Manado di Hotel Sahid Kawanua Manado. 2002, Pameran Komunitas Duri Latu “Tropis” di Benteng Vredeburg, Yogyakarta.

2003, Happening Art “Memakan Tubuh” bersama komunitas KONTRA Manado, Taman Kesatuan Bangsa Manado. 2003, Pameran “Enviromental Art” jembatan Kali Winongo Yogyakarta, bersama Komunitas Duri Latu. 2003, Pameran “Seni Bermain Jerami” di Warsawa Yogyakarta bersama Sri Hardana, Indra Wahyu, Edi Tonang Khanafi, Irwano Lentho dan Rudi Herimarwan.

2004, Pameran Seni Instalasi “Teriakan pada merah” di halaman FSR ISI Yogyakarta. 2004, “Performance Idol” bersama Lashita Situmorang, Hono SUN, Ronald Apriyan, di Yogja cafe, Yogyakarta. 2005, Pameran “Post Graduate” Galeri Katamsi ISI Yogyakarta. 2007, Pameran “Transgenerasi” bersama koleksi Galeri Nasional Indonesia di Hotel Sahid Kawanua, Manado.

2008, Pameran “Behind the Horison” di Sri Sasanti Art Gallery Yogyakarta. 2008, Pameran di Elegance Art Gallery Jakarta. 2008, Pameran Jogja Art Fair, Taman Budaya Yogyakarta. 2009, Pameran Koleksi Alumni Seni Seni Rupa FSR ISI Yogyakarta, Galeri Katamsi, Yogyakarta. 2011-2014 Menggagas dan melaksanakan Festival Seni Budaya Porodisa I-IV bersama staff Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, di Kabupaten Kepulauan Talaud. 2013, Pameran Manado Bienalle, Hotel Aryaduta Manado. 2013, diundang mewakili Sulawesi Utara dalam Pameran Seni Rupa Nusantara “Meta Amuk” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta bersama perupa senior Sulawesi Utara, Johanis Saul.

2016, Happening Art bersama Fadjar Gultom” NKRI harga Mati!” sepanjang jalan kota Tahuna, Sulawesi Utara. 2016, menggagas grup media sosial “Seniman Sulawesi Utara” sebagai wadah komunikasi bagi para pelaku seni Sulawesi Utara. 2016, berkolaborasi dengan seniman multi talenta Jamal Rahman Iroth pada pementasan di Balai Bahasa Manado. 2016, pameran bersama perupa Sulawesi Utara dalam rangka penggalangan dana bagi korban Banjir Sangihe di Kopination Manado. 2016, Pameran Besar Seni Rupa Indonesia “Epicentrum” Taman Budaya Provinsi Sulawesi Utara di Manado. 2017, Pameran Seni Lukis “Dancing With The Color” bersama komunitas seni C’Art di Aston Hotel Manado. 2017, pameran bersama pada Affordable Art Fair Singapura.

2018, menggagas Mural kota Tahuna bersama komunitas perupa Sangihe di Jembatan Tito, Tugu Malahasa dan kawasan Pelabuhan Tua Tahuna. 2019, pameran bersama di Museum Daerah Sulawesi Utara. 2019, melakukan penggalangan dana bagi korban banjir Lebbo Sangihe lewat penjualan karya seni. 2019, menggarap patung ikan, ikon desa Utaurano, Sangihe bersama perupa Lumondone Lalenoh.

Pengalaman organisasi dan pekerjaan: Anggota Komunitas “Lepas” Angkatan 97 Seni Lukis ISI Yogyakarta. 1998, terlibat sebagai aktifis mahasiswa dalam gerakan mahasiswa 98 bersama organisasi Serikat Mahasiswa untuk Kedaulatan Rakyat (SMKR) Yogyakarta. 1999, terpilih menjadi Koordinator Forum Komunikasi Mahasiswa Seni Rupa Indonesia- (FKMSR) ISI Yogyakarta serta FKMSR wilayah II, Yogja dan Jawa Tengah. 1999, Pemimpin Redaksi buletin mahasiswa seni rupa “Korek Api” FSR-ISI Jogjakarta.

2000, membentuk Forum Mahasiswa Peduli Kampus (FMPK) ISI Yogyakarta. 2000, bergabung bersama komunitas mahasiswa “Podjok” FSR-ISI Yogyakarta dan terlibat dalam berbagai aktivitas kesenian baik di kota Yogyakarta, Semarang, Salatiga dan Malang. 2000, membentuk grup band “Apel Ban Gerobak” bersama Susanto Banana dan almarhum Danang Hadi Phe. 2000, ikut membentuk komunitas perupa “Durilatu Jogjakarta” dan melakukan aktivitas kesenian di kota Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, dan Pasuruan.

2006, mendirikan media kecil seni dan periwisata “Nyare” bersama Rahadih Gedoan, Christy Sondey, dan Dean Kalalo. 2010 masuk pegawai negeri sipil (PNS) di Pemda Kepulauan Talaud dan ditempatkan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. 2011 menggagas dan menerbitkan “Lentera Pasifik” media bagi siswa SMAN I Rainis, Talaud.

2011 menerbitkan buletin Lepas “Iskariot” di kota Melonguane Talaud. 2015 pindah kerja dan domisili dari Melonguane Talaud ke Tahuna, Sangihe hingga sekarang.

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed