oleh

Ayo Berkebun, Tinungki: Jangan Berharap Bantuan Pemerintah

Manado, Barta1.com – Aktivitas warga di masa pandemi Covid-19 cukup beragam. Namun cukup banyak yang memilih berkebun, seperti di Kelurahan Kairagi 1, Lingkungan 2. Warga membuka lahan untuk dijadikan tempat bercocok tanam.

“Baru sebulan bakobong (berkebun). Tidak mungkin kita selalu berpikir dapat bantuan pemerintah. Untuk menambah kebutuhan sehari-hari, persiapan jangka panjang lebih baik berkebun,” kata Ny Ester Tinungki (54) Jumat (26/6/2020).

Ester saat itu, terlihat lelah setelah mencangkul rerumputan yang tumbuh di antara tanaman ubi. “Luamayan saya bersihkan kebun ini sejak 24 Mei 2020. 4 hari dibersihkan baru batanam ubi, dan lain-lain. Kemungkinan bisa panen bulan Desember,” ujarnya.

Diketahui, lahan yang digunakan untuk berkebun adalah milik orang lain. Begitu pun dengan peralatan kebun yang digunakan merupakan pinjaman. “Tanah ini dipinjam dari mantan bos suami saya. Sedangkan peralatan berkebun pinjam dari saudara,” kata Ester.

Wanita kelahiran Tahuna, 15 Oktober 1966 ini, memiliki tiga anak. Dan ketiga anaknya sudah menikah. “Semua telah berumah tangga. Saya di rumah kerja hanya jaga cucu dan uang saya dapat pemberiaan dari anak. Kadang rasa malu selalu diberi uang. Tidak pernah minta, tapi diberikan anak Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu setiap Sabtu,” tutur Ester.

Anak ketiga dari almarhum Rame Tinungki (60) dan Emal Lahengko (83) menyebutkan, berkebun sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat Nusa Utara. Tidak kaget. “Orang Sangihe biasa berkebun bagini. Sudah diajarkan dari kecil,” katanya.

Saat ditanya bantuan pemerintah ketika pandemi Covid-19? Ia menjawab, pernah menerima bantuan dari Pemprov Sulut, Sekretaris DPRD Sulut dan gereja. “Kalau dari Pemkot Manado tidak pernah menerima. Mungkin mereka lihat bentuk rumah beton jadi tidak diberikan bantuan. Padahal saya tidak punya suami,” ujar Ester.

Peliput : Meikel Pontolondo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed