oleh

In Memoriam: Saat Henky Lasut Menyelamatkan Muka Bangsa

Isu radar gelap yang menerpa Manoppo bersaudara pasca-Turnamen Asia Pasifik 1974 telah membenamkan geliat Bridge Indonesia dari pentas internasional. Tak hanya pasangan menakjubkan ini kena sanksi larangan tampil pada berbagai kejuaraan, tim nasional juga kena getah.

Usai sidang FEBFC di New Delhi 1978, tulis gabsi.or.id, Manoppo bersaudara tidak dibolehkan mengikuti turnamen apapun selama 5 tahun. Lebih dari itu, kedua lelaki asal Minahasa ini harus berpisah, tak bisa lagi main semeja.

Bagaimanapun juga Maurilius ‘Utu’ Manoppo dan Eddy Manoppo adalah pasangan terkuat timnas Bridge Indonesia saat itu, didampingi Denny Sacul-FR Waluyan, Henky Lasut-Max Aguw. Kehilangan Manoppo bersaudara bisa berimbas kemandulan gelar untuk Tanah Air di ajang dunia. Padahal sejatinya Majalah Tempo mengisahkan, radar gelap yang membuat Utu-Edy mencuat tiba-tiba dan dominan pada setiap kejuaraan tak pernah terbukti secara teknis hingga saat ini.

Baca juga: Manoppo Bersaudara dan Radar Gelap yang Misterius

Setelah peristiwa ini, Bridge Indonesia mencoba bangkit lagi. Cara menyelamatkan muka bangsa hanya dengan memenangi turnamen Asia Timur Jauh pada 1979. Yang paling berat, misi tersebut dilakukan tanpa Utu dan Edy. Pengurus Besar (PB) Gabungan Bridge Indonesia (Gabsi) menunjuk Amran Zamzami sebagai project officer menuju turnamen Far East Asia 79 kemudian secepatnya menetapkan tim tanpa Manoppo bersaudara.

Seleksi nasional kali ini melibatkan FR Waluyan, Denny Sacul, Yasin Widjaya, Munawar Sawiruddin, Henky Lasut, Max Aguw, Sabri, Gardea, Arwin Budirahardja, Alex Fransz, Eddy Nayoan, Jack Rimbuan, B. Hutagalung dan Albert Surjadi. Mereka masuk pembinaan selama 9 bulan dan harus bekerja keras mengokohkan pola serangan dan pertahanan saat proses bidding atau tawar menawar hingga permainan.

Lewat proses itu akhirnya terpilih Timnas Bridge Indonesia; Freddy Waluyan-Denny Sacul, Henky Lasut-Max Aguw, Yasin Wijaya-Munawar Sawiruddin. Amran Zamzami bertugas sebagai Chief de Mission dan Jack Rimbuan sebagai non playing capten (kapten tak bermain). Kerja keras berbuah manis, tim berhasil menggondol lagi Piala Far East Asia.

Setahun kemudian, 1980, masih dengan Timnas yang sama, Indonesia berangkat mengikuti Kejuaraan Dunia Invitasi dan WBF Olympiad VI di Valkenburg. Presiden Soeharto yang menerima mereka di Bina Graha berpesan agar ketiga pasangan berjuang sebaik-baiknya. Apa yang mereka lakukan akan mengangkat kredibilitas bangsa di dunia internasional. Turnamen Invitasi Dunia berlangsung 22 hingga 24 September 1980 di Hotel Hilton Amsterdam Belanda, negeri yang pernah menjajah Indonesia.

Henky Lasut dkk melangkah ke situ sebagai wakil Zona VI-Timur Jauh melawan 11 regu negara lain yang mewakil masing-masing zona plus Belanda, Inggris, Swedia dan tim lokal Volmack. Lagi-lagi muka bangsa diselamatkan pasca-pembredelan Manoppo bersaudara saat Indonesia berhasil meraih juara pertama. Di turnamen selanjutnya, masih berlokasi di negara yang sama, tiga pasangan dari Indonesia berhasil meraih posisi keempat di bawah Prancis, Amerika Serikat dan Belanda. Itu pun sengan selisih Victory Poin yang tipis, karena terkena hukuman slow play. Namun pada babak sebelumnya, Indonesia sudah sukses mengungguli banyak tim kuat lain dari Eropa. Dengan susunan tim tak jauh berbeda —Donny Tuerah menggantikan Yasin— sepanjang 1982-1984 Indonesia 3 kali menggondol Piala Rebulida dari turnamen bergengsi Far East di Bangkok, Hongkong dan Macao.

Henky Lasut, lelaki Minahasa kelahiran 6 Agustus 1947 itu sudah bermain Bridge sejak berusia 20 tahun di Manado. Komposisi tim pat kawan bersama Max Aguw dan Manoppo bersaudara telah melambungkan namanya dalam jagad Bridge nasional dan internasional. Dia kemudian berpasangan dengan iparnya Edy Manoppo dan menjadikan keduanya sebagai legenda Bridge Indonesia. Keduanya menginspirasi kehadiran banyak pemain Minahasa, Sulawesi Utara, di timnas. Sebut saja Sance Panelewen dan Giovani Watulingas. Sempat melangkah ke panggung politik dan menjadi anggota DPRD Kota Manado periode 2009-2014.

Banyak gelar turnamen internasional diraih pasangan Henky-Eddy hingga era 2000-an untuk mengangkat muka Indonesia hingga nama keduanya telah diabadikan ke gedung Bridge Center. Sejak memenangi The 14th Redbull World Bridge Series di Sanya Tiongkok 2014, Henky-Edy menerima anugerah tertinggi Bridge dunia, Grand Master Senior dan hanya satu-satunya di Asia Pasifik, ulas kolumnis cum pemain Bridge Bert Toar Polii.

Jumat 12 Juni 2020, sang maestro tutup usia di RSUP Prof Kandou Manado, setelah dirawat karena gangguan pada jantungnya. Jenazahnya akan dikebumikan di pekuburan Sentosa Maumbi pada Minggu 14 Juni 2020. Buat kita, Henky telah menunjukkan bahwa Indonesia lewat Bridge bisa bersaing bahkan mengandaskan negara-negara besar seperti Amerika, Italia, Prancis dan Brazil, suatu hal yang masih mustahil dilakukan Tim Nasional Sepak Bola hingga kini. (*)

Penulis: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed