oleh

Seri Biografi Pelukis Sulut: Alexander Bastian Wetik

Sebuah lukisan berjudul ‘Barok’ hingga kini masih masih tersimpan di sebuah museum di negeri Belanda. Itulah salah satu karya masterpiece pelukis Sulus Alexander Bastian Wetik.

Wetik, sedikit nama perupa asal Sulut yang mendunia. Petualangannya ke berbagai negara Eropa, terutama Perancis, Italy dan Belanda telah menghasilkan berbagai karya lukisan yang dikoleksi para kolektor Dunia Barat. Namun tak sedikit karya Wetik yang hingga kini masih bisa dinikmati di berbagai tempat di Sulawesi Utara.

Pelukis dan pematung beraliran realis ini lahir di Tomohon pada 27 Oktober 1927. Meninggal di Manado 17 Mei 1985. Lahir dari seorang ibu berdarah Jerman Yohanna E Nüssman dan Ayah David D Wetik asal Kasar, Minahasa Utara. Ia anak ketiga dari 9 bersaudara yaitu: 1. Joop Wetik. (Alm) 2. Marie Wetik (Almh). 3. Alexander B Wetik (Alm) 4. Theodorus Wetik (Alm) 5. Hanry Wetik (Alm) 6. Paul Wetik (Alm) 7. Freddy Wetik (Alm) actor dan sutradara Film. 8. Elisabeth Wetik. 9. Robby Wetik.

Menikah dengan Margaretha M Sumarauw, seorang gadis asal Lembean, Minahasa Utara. Dikaruniai 5 orang anak: Hermano Wetik, Laurenzo Wetik, Grace M E Wetik, Royke F Wetik, Richardo E Wetik.

Di zaman Belanda, Wetik mendapat Gelar Dokter Muda dari Universitas Kedokteran Stovia Jakarta. Pendidikan kedokteran ini ditempuhnya atas kemauan orang tuanya. Sementara di sisi lain, Wetik lebih tertarik dengan dunia seni rupa. Ini sebabnya, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogja. Selesai dari ASRI Jogja inilah kemudian ia merantau ke Eropa pada 1950-an.

Di kemudian waktu, A.B.Wetik, tercatat bersama-sama dengan Drs. Jan Agustinus Pangkey mendirikan Jurusan Seni Rupa IKIP Manado (sekarang UNIMA) hingga eksis seperti yang ada sekarang ini.

Arie Tulus, salah seorang Dosen di Jurusan Seni Rupa UNIMA menyebutkan, pengalaman Wetik bersama pelukis Nashar dan kawan-kawan di Sanggar Matahari Jakarta, serta perjalanannya di Belanda, Roma Italia tahun 50-an, telah memperteguh kiprahnya di dunia seni rupa tiga dan dua dimensi. Lukisannya telah dikoleksi orang asing maupun dalam negeri. Satu di antanya yang berjudul “Wolter Robert Mongisidi” telah ikut menghiasi buku koleksi lukisan Adam Malik, mantan wapres diera orde baru.

Beberupa lukisan Wetik masih dikoleksi keluarga, diantaranya, 4 lukisan sosok wanita berpakaian adat Minahasa, Gorontalo, Bolmong dan Sangihe.

Jejak-jejak karya Wetik di Manado, selain Scrafito yang sampai saat menghiasi dinding bagian depan gereja Katolik yang ada di jalan Santu Joseph, juga patung Wolter Robert Mongisidi yang masih berdiri teguh dengan sebuah pistol di tangan menghiasi halaman Museum ‘Daan Mogot’, depan Rumah Sakit Jiwa Sario Manado. Patung Malaikat di kuburan China (kuburan tua) yang letaknya pinggiran jalan Paal Dua (lokasi tersebut sudah digusur). Patung Kepala (Dotu Minut), letaknya di perbatasan Manado dan Minut. Perjuangan Yos Sudarso, letaknya di depan pasar Tua Bitung.

Karya-karya Wetik disebut gemilang, karena teknik penggarapannya memang sempurna dilihat dari ukuran dan proporsi yang memperhitungkan kaidah-kaidah berdasarkan cara pandang dari segala arah.

Karya lainnya yaitu Patung Pingkan dan Mathindas menjadi Simbol di gedung kesenian provinsi Sulut. Di Tomohon, sada dua buah karya yang dapat dilihat yaitu patung setengah badan ‘Domeni AZR Wenas’ di halaman Rumah Sakit Bethesda, berikut relief dinding mengisahkan tentang perjuangan Wolter Robert Mongisidi, di dalam ex Rindam yang pernah digunakan sebagai gedung Kantor Walikota Tomohon di Kelurahan Kakaskasen Tiga.

Relief yang mengisahkan sejarah perjalanan Injil Masuk di Tanah Minahasa yang dibuatnya bersama Johny Rondonuwu ditempatkan di dalam Gedung Auditorium Bukit Inspirasi, tepatnya di kedua sisi kiri dan kanan panggung utama. Tapi sayang karya ini menurut Tulus, telah dihancurkan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak mengerti dengan nilai-nilai keabadian seni dari Seniman ternama itu. Konon penghancuran karyanya ini ungkap Tulus, ikut disetujui pihak Sinode GMIM, dan mereka menggantikannya dengan relief yang mirip dengan karya Wetik, tapi sesungguhnya hasilnya sangat jelek dilihat dari teknik penciptaan relief dinding yang selama ini diakui keberadaannya.

Masih banyak karya-karyanya yang tersebar di dalam rumah-rumah pribadi maupun rumah gereja, terutama; patung-patung Bunda Maria dan Yesus yang tersalib, seperiti yang ada di dalam gereja Katolik Ignasius Manado. Di daerah Minahasa Tondano, tepatnya berada di perampatan jalan, arah ke pusat kota dan ke danau Tondano masih berdiri teguh patung dua tokoh yang ikut berperan dalam perang Danau Tondano, yaitu “Korengkeng dan Sarapung”.

Karena keperkasaan dan kegigihan dari dua tokoh tersebut , lalu diabadikan ke sebuah patung yang diberi nama Monumen Korengkeng dan Sarapung. Karya seni monumental tiga dimensi ini memang di rancang khusus keberadaanya untuk dinikmati dari berbagai arah. Jika dilihat dari arah barat, selatan, timur maupun utara tidak akan tampak di mata kita sesuatu yang ganjil dan janggal, tapi kesannya tampak sempuna. Kecuali telah dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Konon, patung ini, ungkap Arie Tulus, dalam penyelesaiannya dibantu juga oleh Amir Lahabu (Dosen Seni Rupa UNIMA) yang kala itu masih berstatus sebagai mahasiswa seni rupa IKIP Manado angkatan pertama.

Semasa hidupnya, boleh dikata tak banyak orang yang mengenal secara dekat. Kecuali keluarga, orang-orang sekitar tempat tinggal dan tempat kerjanya, para pelukis, pematung seangkatan, dan mereka yang pernah mendapatkan ilmu pengetahuan seputar Seni Patung dan Seni Lukis, ketika kuliah di Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan IKIP manado di tahun 60-an.

Grace M E Wetik, salah seorang anak perempuan Wetik, kepada penulis pada awal Mei 2020, mengatakan ayahnya sebenarnya pribadi yang luwes, menempatkan dirinya sebagai teman terhadap anak-anaknya, membuat anak-anaknya independen dalam mengambil sikap tanpa ada tekanan.

“Ayah itu humoris, rendah hati, murah hati. Walau dalam kekurangan, tidak pernah menolak jika ada teman atau keluarga yang datang minta tolong,” ungkap Grace.

Menurut Grace, ayah tidak suka mengekspose relasi-relasinya, seperti di antaranya dengan Bung Karno (Presiden RI pertama), Frans Seda, Ajip Rosidi, HV Worang (mantan Gub Sulut).

“Ayah juga enggan bercerita tentang reputasinya, baik gelar-gelar akademiknya maupun keterlibatannya dalam perjalanan sejarah seni lukis dan seni rupa Indonesia,” imbuh Grace. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed