oleh

Penerima Bantuan Disaring Pemerintah, Keluarga di Mapanget ini tak Terjaring

Manado, Barta1.com — Bantuan sosial mengatasi pandemi Covid-19 beberapa bulan terakhir telah terdistribusi ke masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Di satu sisi, kewenangan penuh pemerintah daerah dalam melakukan proses seleksi penerima malah menimbulkan sejumlah masalah di lapangan.

“Penerima bantuan baik itu bahan makanan maupun uang tunai sepenuhnya disaring oleh pemerintah lewat usulan kepala lingkungan dan berjenjang ke atas, artinya tak membuka ruang bagi masyarakat untuk mengusulkan langsung bahwa mereka juga berhak menjadi penerima,” kata Ventje Sumendap, Kamis (04/06/2020).

Apa yang disampaikan warga Kecamatan Tuminting Kota Manado itu ada benarnya. Terbukti, dari penelusuran di Kelurahan Paniki Bawah Lingkungan 1, Kecamatan Mapanget, ada Keluarga Sukani-Madina yang sepatutnya layak menjadi sasaran bantuan tapi tak terdata. Hingga saat ini menurut Yeni Madina, dia dan suami belum juga mendapat bantuan apa-apa.

Mereka tinggal menumpang di lahan orang lain, hanya pinjam tempat untuk mendirikan rumah sementara yang berdindingkan tripleks dan berlantai tanah. Walaupun mereka tergolong warga kurang mampu yang sudah memiliki KTP dan KK Kota Manado, tetapi bantuan tidak juga didapatkan sampai saat ini.

“Sejak menikah 5 tahun lalu, kami sudah tinggal disini dan sudah melapor ke Kepala Lingkungan sehingga sudah memiliki KTP dan KK, tetapi kami heran sampai saat ini tidak termasuk warga kurang mampu sebagai penerima Program Keluarga Miskin (PKH) maupun yang lainnya,” ungkap Yeni Madina.

Sehari-hari suaminya bekerja sebagai penjual kopi keliling dan dikarenakan adanya pandemi Covid-19, sehingga tidak bisa berjualan lagi dan hanya dirumah saja. Yenis sendiri merupakan ibu rumah tangga yang dulunya membuka warung kopi di rumah, tetapi lagi-lagi terdampak pandemi hingga sudah tutup karena tidak ada pembeli yang datang.

“Kami tidak memiliki pendapatan lagi saat ini dan hanya bertahan hidup dengan menjual ayam kampung yang kami peliharan dan kebun kecil yang kami miliki,” kata Yeni.

Dijelaskan Yeni Madina, dirinya sudah mempunyai anak dari suaminya pertama yang saat ini sudah SMP kelas tiga dan sudah lulus, tidak lama lagi akan masuk SMA.

“Dikarenakan tidak masuk dalam PKH dan lainnya, sehingga anak saya juga tidak mendapatkan bantuan pendidikan dari Pemerintah,” jelas dia dengan nada sedih.

Memang kata dia, saat pandemi Covid-19 ini, ada bantuan dari Kepala Lingkungan tetapi hanya berupa paket sembako, bukan berupa uang atau BLT. Itu pun sudah habis dan sekarang tinggal bertahan hidup dengan hasil kebun. Dia berharap agar Pemerintah bisa memasukkan keluarganya di PKH dan program keluarga yang tidak mampu lainnya, sehingga kebutuhan perekonomian keluarganya bisa terpenuhi. (*)

Peliput: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed