oleh

Seri Biografi Pelukis Sulut: Sonny Lengkong

Tak sedikit lukisan karya Sonny Lengkong dikoleksi para kolektor manca-negara. Dan seorang kolektor harus merogoh puluhan sampai ratusan juta rupiah untuk bisa mengoleksi sebuah lukisan karyanya.

Sejak 1980-an, pelukis ekspresionis garda depan Sulawesi Utara kelahiran Tomohon, 16-Juni-1957 ini memulai karier melukisnya dengan kubisme. Aliran Kubisme adalah aliran seni lukis yang memiliki bentuk-bentuk geometris seperti segitiga, kubus, segi empat, silinder, lingkaran, bola, kerucut dan kotak-kotak, yang popular di Eropa lewat tokoh-tokohnya Paul Cezane, Pablo Picasso, George Braque, Metzinger, Albert Glazez.

Merasa tak berhasil dengan kubisme, Sonny kemudian beralih ke ekspresionisme. Ia menggarap tema-tema khas Minahasa, seperti penari Kabasaran, bendi, bunga kana, kebon cengkih, ayam (jago). Juga yang berkaitan kekayaan laut Manado, seperti perahu pelang, ikan dan karang Bunaken. Menggunakan teknik plotot, gores dan kerok dengan palet maupun ujung gagang sendok.

Pada tahun 1990, bersama alumni dan dosen IKIP Manado – John Rondonuwu, Arie Tulus, dan John Semuel – Sonny menggebrak ibu kota Jakarta, dengan pameran lukisan bersama di Balai Budaya, Jakarta Pusat dengan menampilkan karya-karya ekspresionismenya. Setelah itu ia diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta, mengikuti Jakarta Bienalle X 1996 di Taman Ismail Marzuki. Disusul ikut pameran Pameran Besar Seni Rupa “Manifesto” 2008 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Pamerannya di Hotel Sahid, pasca pameran di Balai Budaya dan sebelum Biennale di TIM, lukisannya mulai laris manis. Kehidupan ekonominya pun mulai mapan dari hasil lukisan-lukisannya yang terjual, ia mendirikan galeri di Titiwungen-Sam Ratulangi Manado.

Galeri Sonny di Titiwungen itu boleh dikata Galeri Seni pertama di Manado. Geleri tersebut jadi tempat kumpul dan silaturahmi para perupa lintas generasi. Juga sering kali mengadakan pameran, tidak hanya oleh Sonny sendiri, tapi juga para pelukis Manado. Serta menggelar berbagai diskusi. Pendek kata, pada waktu itu, denyut seni rupa Manado sangat terasa.

Ketika lukisan-lukisannya mulai diburu para kolektor luar negeri, ia membuka galeri satu lagi di Kakaskasen-Tomohon, merangkap tempat tinggal. Ternyata untuk menjalani dua galeri sekaligus cukup berat baginya, maka galeri di Titiwungen pun ditutup.

Galeri Sonny di Tomohon, letaknya sangat strategis bagi para tamu maupun turis dalam dan luar negeri yang berkunjung sambil wisata di Kota Bunga Tomohon. Selain udaranya sejuk, sejauh mata memandang ke samping kanan rumahnya, berdiri anggun Gunung Lokon. Di bagian depan jauh, nampak Gunung Soputan. Dan di samping kiri tidak jauh Bukit Doa di kaki Gunung Mahawu, yang menyimpan patung-patung Perjalanan Yesus, garapan Teguh Ostenrik, Jakarta.

Adapun tokoh-tokoh yang pernah berkunjung ke Galeri Sonny ini Ibu Jusuf Kalla. Juga Aburizal Bakrie, Joop Ave, Jero Wacik, dll., saat mereka masih menjabat Menteri. Kunjungan mereka sekaligus membeli karya-karya Sonny untuk dikoleksi. Adapun para kolektor lainnya, baik individu, hotel, BUMN, dapat kita sebut diantaranya Radius Prawiro, Yanti Sukamdani, James Riyadi, Eddy Nelu, Agus Parengkuan, Sarundayang, I Komang Sudiarsa, Ventje Rumangkang, Amro Bank, Bank BRI, Bank Mandiri, Bank Sulut, Hotel Quality, Swiss bellhotel Manado, Gotel Sedona, Hotel Santika hingga Tasik Ria Resort.

Anak mantan Camat Tomohon ini pernah mengecap pendidikan di FKIE-IKIP Manado sebentar, dan pernah juga menjadi guru di SD dan SMP Eben Haezar Manado, sebelum akhirnya hidup total sebagai pelukis di Manado, kemudian menetap dan berkarya di Tomohon, kota kelahirannya.

Tahun 1999, Sonny mendapat Anugerah Seni Dewan Kesenian Sulawesi Utara. Penghargaan itu tidak berlebihan, karena Sonny telah membuka jalan seni rupa Sulawesi Utara dikenal kembali pasca-Henk Ngantung.

Pada dekade 1990-an, ia mendirikan kelompok “Bhinneka Warna” bersama para pelukis lain dari berbagai suku dan agama dengan maksud membangun semangat toleransi. Kelompok itu pernah beberapa kali menggelar pameran bersama di Manado dan Jakarta. Mendapat tanggapan positif pers maupun para pengamat seni rupa. Kelompok ini sadar betul bahwa keberagaman itu sebuah rahmat yang perlu disyukuri dan dikelola bersama dengan toleransi. Dari kelompok kecil ini penghayatan tentang keindonesiaan (mini) berlangsung secara alamiah. Dan perbincangan seputar pilihan tema, memperkaya masing-masing individu, tentang lokalitas yang terus dirawat melalui karya seni.

Kamis, 28 Desember 2017, sang seniman yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk berkesenian ini meninggal dunia. Ia telah selesai menjalankan tugasnya sebagai pelukis garda depan Sulawesi Utara dan meninggalkan ratusan karya yang tersebar di dalam dan luar negeri. Karya-karyanya ini kelak yang akan terus bercerita sendiri-sendiri dari mana asalnya, apa maknanya, hingga siapa pelukisnya.

Sonny juga telah selesai mengantarkan ketiga anak kandungnya memasuki gerbang rumah tangga, bahkan sudah punya seorang cucu yang kini telah remaja. Tinggal satu anak angkat yang belum berkeluarga. Istrinya, Deetje Putong, seorang perawat yang sudah pensiun.

Berikut sebuah puisi mengenang Sonny Lengkong yang ditulis sehabat baiknya Iverdixon Tinungki:

PELUKIS BUNGA
(buat pelukis Sonny Lengkong)

ia telah sampai di padang warna
tanpa hari
tanpa tanah
tanpa cuaca
hanya cahaya usia seolah menyerpih
menyuguhi pergulatan mawar gladiol dan kana

kehidupan tumbuh di sana
menjalari
gelombang cinta
semak lantana
dan dengan lirih dan polos ia tumpah
dalam garbera
heliconia
jenman
dan kecombrang

ia di sana
menari bersama Tuhan
melepas racau dan lirih
dan bulan bermekaran
menyaru padang ranum ilalang
dengan 1001 katakata melesaki linang

–sungguh indah tanah air bakal ia kenang

di hari lain
1001 malam lain kembali datang
menjamu kisahkisah indah
dracaena
krekleli
krisan
dan medinilla

bungabunga itu tumbuh di sekujur tubuhnya
mentamankan hati mulai dikuyu cerita kesunyian
bahwa tak ada akhir bahagia
di timur
di tanah
digebalaukan bungabunga edan
kabarkabar melabuh ricuh dan hambar

ia telah sampai di padang warna
tanpa hari
tanpa tanah
tanpa cuaca

namun ia tak ingin tua
dengan mimpimimpi tak pernah menyingsing
maka diarunginya lautan warna
dan bentang awan berseri
seolah penanam yang bermimpi bahwa hidup adalah
sejuntai sepatu
anthurium
aster
bromelia
levender
agave
dan alamanda

di sana
ia tepekur di gelombang warna
di atas sayap putih
bungabunga indah mengambang
dalam fragmen kanvas tanpa waktu
di taferil yang punya kisah kehidupannya

Penulis: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed