oleh

Kisah Dramatis F. Kelling, Menanam di Siau Berbuah di Manado Utara (Bagian I)

Anak berkembangsaan Jerman ini telah mengabdikan seluruh hidupnya hingga usia tua dan dalam keadaan buta untuk mendidik dan melayani kaum pribumi di pulau Siau Tagulandang.

“Saya, sekarang pada usia hampir 69 tahun, berharap, bahwa Tuhan tidak membiarkan saya di sini hidup lama dalam kegelapan badani ini, sebab suara panggilan-Nya akan segera datang kepadaku. Dengan segenap hati saya berharap, bahwa saya sampai pada waktu itu dapat tinggal bersama-sama dengan jemaatku, yang apalagi mereka tidak mau memberi saya berangkat dari tempat ini”.

Kutipan di atas adalah ungkapan Kelling dua tahun sebelum kematiaannya. Ketika itu, ia diserang penyakit radang mata, hingga buta total, tetapi terang dalam hatinya tidak pudar. Dalam keadaan buta pun, Kelling, dengan dibantu beberapa penolongnya, terus melaksanakan tugas penerjemahan berbagai macam literatur rohani ke dalam bahasa daerah setempat.

Dan Tuhan selalu punya cara berkisah, demikian F. Kelling. Ia tak lain adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah misionaris di Nusa Utara. Dalam catatan beberapa sumber, terutama buku D. Brilman disebutkan, beberapa hal penting yang dikerjakan Kelling dalam masa pelayanannya adalah menerjemahkan Alkitab dan buku-buku rohani ke dalam bahasa Siau.

Pada tahun 1871 Katekhismus Heidelberg terjemahannya telah di cetak sebanyak 3000 eks oleh percetakan Rehoboth-zending di Meester Cornelis (Jatinegara). Buku ini terus dicetak hingga cetakan ke empat yang masing-masing dalam oplah 7000 eks.

Tahun 1890 ia menyerahkan pelayanannya kepada anaknya P. Kelling. Adapun hasil pekabaran Injilnya adalah di pulau Siau ada 29 jemaat dengan masing-masing 5000 orang percaya, dengan 1000-an anggota sidi. Ada 23 buah sekolah zending dengan 1000-an murid, 29 orang pribumi yang telah menjadi pengajar di dalamnya.

Untuk pulau Tagulandang ada 9 jemaat dengan masing-masing 3000-an anggota dan 9 buah sekolah zending dengan 681 murid. Ini hanyalah angka, dan belum termasuk pengaruh yang ia tinggalkan atas penduduk. Seluruh anggota jemaatnya hidup dalam kesaksian yang baik dan setia.

Dan siapa menyangka, benih yang ditabur F. Keling selama 16 tahun masa pelayanannya di Siau Barat dan Tagulandang, telah menjadi buah indah kekristenan di Manado Utara? Demikian akar berdirinya gereja Nazaret, tak bisa lepas dari upaya para pekerja penebangan kayu dan tenaga tukang pendatang dari Sangihe Talaud, terutama dari Siau dan Tagulandang. Mereka adalah keluarga-keluarga Kristen hasil misi pengginjilan Misionaris Tukang dari Jerman F Kelling.

Tuminting di pertengahan abad XIX adalah kawasan rimba dengan kali kecil yang dialiri mata air hidup yang berhulu di kaki-kaki bukit, dan bermuara di pantai Bitung Kecil (Karangria). Hingga 1960-an, pohon kayu Mas mendominasi pemandangan rawa yang menggenangi cekukan lembah. Di baliknya, hutan lebat dan areal perkebunan palawija, mengisi bukit-bukitnya, membentang hingga ke kawasan Mayondi. Kawasan ini menurut sejarahnya, merupakan tanah-tanah adat Suku Bantik yang subur di kawasan Manado bagian utara.

Marhaen Mulalinda, salah seorang tokoh jemaat tersebut mengatakan, saat Bandar Manado di bangun di atas tahun 1850, kebutuhan kayu dipasok dari areal hutan ini karena letaknya cukup dekat dengan Bandar. Para pekerja penebangan kayu dan tenaga tukang ketika itu, kata dia, adalah para pendatang dari Sangihe Talaud. Mereka diantaranya kemudian menjadi pemukim pertama di lembah yang banyak ditumbuhi kayu-kayu Mas ini, yang pada tahun 1916 sudah dihuni 20 kepala keluarga.

Orang-orang Nusa Utara (Sangihe Talaud) itu adalah keluarga-keluarga Kristen hasil misi pengginjilan para Misionaris Tukang dari Jerman di kepulauan Sangihe Talaud yang diutus gereja Protestan Belanda Indische Staats Kerk lewat organisasi misionaris Eropa (Nederlansche Zending Genoodschaap).

Pernyataan Mulalinda, jelas punya kaitan erat dengan kesaksian misionaris D. Brilman. Misi pelayanan para misionaris Eropa di Sangihe Talaud Brilman dalam buku “Onze Zendingsvelden, De Zending Op de Sangi- en Talaud- Eilanden”, tidak saja membawa kekristenan tapi juga mendidik masyarakat akan teknik pertukangan, arsitektur modern, cara bercocok tanam, serta memperkenalkan dunia pendidikan modern. Ini sebabnya, sejak pertengahan abad XIX, untuk kebutuhan pembangunan kawasan kewedanaan Manado banyak mendatangkan para pekerja pertukangan dari Sangihe Talaud.

Karena belum ada gereja resmi berdiri di kawasan ini, kata Mulalinda, para perantau itu mendirikan kerukunan Kristen bernama ‘Hosana Ambang Susah’ terbentuk sekitar pertengahan abad XIX, sebagai organisasi diakonis dan pelayanan ibadah saat orang mati. Organisasi ini tak saja melayani ibadat pemakaman masyarakat di tengah rimba Tuminting tapi juga orang-orang Nusa Utara yang mendiami kawasan Gunung Potong Singkil dan Sumompo.

Dari organisasi itulah ungkap Mulalinda, cikal bakal terbentuknya Gereja Nazaret Tuminting di kemudian waktu. Pada tahun 1903,–mengutuip buku “Nazaret, Tonggak Berdirinya Sebuah Jemaat– saat gereja Bethanie Singkil Sindulang berdiri sebagai salah satu pusat Paroki dari 3 Paroki di distrik Manado, maka peribadan hari Minggu masyarakat yang mendiami kawasan ini disatukan di gereja Bethanie Paroki Singkil.

Cikal bakal berdirinya sebuah jemaat Kristen di rimba Tuminting kian kongkrit pasca kedatangan Paulus Kawangung ke kawasan ini pada 1916. Kawangung adalah seorang murid dari Misionaris F Kelling, tenaga Zending Gossner, yang bertugas di Siau Barat. Dengan bekal pendidikan yang diterimanya dari pendeta F Kelling, Paulus Kawangung mengorganisir masyarakat Kristen di rimba Tuminting dalam kelompok pelayanan peribadatan yang dilakukan dari rumah ke rumah. Baru pada 17 Maret 1933, jemaat Protestan Tuminting akhirnya terbentuk dari buah kerja keras perintis jemaat Paulus Kawangung dan orang-orang tua lainnya di kampung Tuminting.

Pada saat sinode GMIM dibentuk pada tahun 1934, jemaat Protestan Tuminting mengirim utusan pada pembentukan Sinode GMIM dan menyatakan bergabung dengan GMIM. Baru pada tahun 1935, sebuah bangunan gereja dalam bentuk darurat yang dibuat dari ramuan kayu, bambu dan atap daun rumbia berdiri di Tuminting mengganti bangunan yang lama yang sangat sederhana.

Meski Jemaat Tuminting telah resmi berdiri sendiri dalam kepemimpinan perintis jemaat Paulus Kawangung pada 1933, sebagaimana ungkap Frederik Rongkonusa, salah seorang anggota Tim Penulis Buku Sejarah Jemaat Nazaret, namun dari tahun 1935 hingga tahun 1942, untuk pelaksanaan pelayanan peribadatan hari Minggu dan pelayanan sakramen Baptisan, Sidi dan Perjamuan Kudus di Gereja Tuminting, masih terintegrasi dengan pelayanan di gereja Pusat Paroki Singkil. Baru pada tahun 1942 sinode GMIM mulai mengatur kepemimpinan Jemaat Nazaret Tuminting dengan menempatkan ketua-ketua Jemaat secara periodik dengan Surat Keputusan (SK) Badan Pimpinan Sinode.

Berikut urutan kepemimpinan BPMJ di Nazaret Tuminting:

  1. Estefanus Takonselang (1942-1946)
  2. Paulus Kawangung (1946-1950)
  3. Victor Yacobus (1950-1954)
  4. Paulus Kawangung (1954-1958)
  5. Alfrets Semporna (1958-1962)
  6. Pdt. Manuel Lumowa Wangkai (1962-1974)
  7. Pnt. Jacob Himpong (Ketua Jemaat masa transisi 1973)
  8. Pnt. Drs. E. Lahope (1974-1986)
  9. Pnt. Bernhard Harikedua, smH (1985-1986)
  10. Pdt. I. S. Karundeng, STh (1986-1987)
  11. Pdt. Ny. Jenny Gretty Salem Kambey, STh (1987-1990)
  12. Pdt. Dina Montolalu-Pelleng (1990-1996)
  13. Pdt. Agustinus Antauw, STh (1996-2003)
  14. Pdt. Ny. Kewas- Pangemanan (2003-2008)
  15. Pdt. Julian Wokas, STh (2008- 2012)
  16. Pdt. Ny. Purnama- Salwyck, STh (2012- 2016)
  17. Pdt. J. Luntungan, MTh (2016)

Menjelang usia 86 tahun pada 17 Maret 2019, Jemaat Nazaret Tuminting tak saja mengalami perkembangan dan kemajuan yang manarik ditelisik, tapi juga menjadi tonggak bagi berdiri jemaat-jemaat lain di kawasan wilayah Pelayanan Manado Utara. Berikwal hanya dengan 20 kepala keluarga yang melakukan ibadah dari rumah ke rumah, kemudian berkembang dengan berdirinya suatu jemaat otonom dengan bangunan gereja darurat pertama di tahun 1935.

Pembangunan gedung gereja darurat pertama itu merupakan hasil kesepakatan dari rapat kampung Tuminting yang diadakan pada tahun 1932. Gedung gereja darurat pertama bertahan selama 21 tahun. Kemudian diganti selama dua kali periode pembangunan masih dalam bentuk darurat hingga masa berdirinya bangunan gedung gereja semi permanen di tahun 1961.

Pada tahun 1942 masa kepemimpinan Guru Jemaat Pertama Estefanus Takonselang, Jemaat Nazaret Tuminting di bagi menjadi 3 kolom (Jaga) pelayanan yakni; Kolom Tuminting, Kolom Tumumpa, Kolom Sumompo. Kemudian pada tahun 1946 Kolom yang ada di Tumumpa dimekarkan menjadi Jemaat Torsina Tumumpa yang otonom. Pada tahun 1962, saat kepemimpinan Pedenta M. L. Wangkai Jemaat Tuminting yang awalnya hanya bernama Jemaat GMIM Tuminting diberikan nama Nazaret sehingga menjadi Jemaat GMIM Nazaret Tuminting.

Dalam periode kepemimpinan Pendeta Wangkai Jemaat Nazaret yang sebelumnya telah berkembang menjadi 3 kolom kembali pasca pemisahan Jemaat Torsina Tumumpa menjadi otonom, dimekarkan menjadi 7 kolom yang beranggotakan 401 Kepala Keluarga yang terdiri dari 6 kolom di Tuminting dan 1 kolom di Sumompo.

Pada tahun 1984 pada masa kepemimpinan Ketua BPMJ Pnt. Drs. E. Lahope terjadi lagi pemekaran menjadi 14 kolom di Tuminting, sementara kolom di Sumompo dimekarkan menjadi jemaat otonom yakni Jemaat GMIM Getsemani Sumompo. Pada tahun yang sama, jemaat Nazaret Tuminting berhasil membangunan gedung Gereja permanen tahap 1 yang diresmikan Gubernur Sulut H. V. Worang.

Teritorial pelayan Jemaat Nazaret Tuminting hingga tahun 1986 masih meliputi anggota jemaat yang tinggal di kawasan Kilo Lima Sumompo. Pada 1990 jumlah kolom kembali berkembang menjadi 23 kolom, yakni 19 kolom di Tuminting dan 4 kolom di Kilo Lima. Pada 20 September 1995 kolom-kolom yang ada di Kilo Lima dimekarkan menjadi Jemaat GMIM Bukit Zaitun Sumompo.

Dikisaran bulan Juni 1996, 1 kolom dari Jemaat Nazaret dilepas menjadi Cikal Bakal berdirinya Jemaat GMIM Gunung Hermon Tuminting. Sementara pada tanggal 28 November 1998 anggota jemaat yang berada di Kolom 16,17, 18, 19 berhasil mendirikan Gereja Kecil dan diresmikan oleh Pendeta Prof. Dr. R. A. D. Siwu, STh, yang pada perkembangan selanjutnya menjadi Jemaat GMIM Tunggul Isai Tuminting. Dikisaran tahun 1999 kolom-kolom yang tersisa di jemaat Nazaret Tuminting kembali dimekarkan menjadi 24 kolom, dan hingga tahun 2012 jumlah kolom kembali berkembang menjadi 25 kolom, lalu dimekarkan lagi menjadi 29 kolom.

Pada tahun 2013, jemaat ini tengah menyelesaikan pembangunan Gedung gereja permanen yang baru kontruksi 2 lantai dengan desain arsitektur modern yang megah. Gedung Gereja Baru ini dibangun di samping gedung gereja Permanen pertama. Setelah melewati tahapan pembangunan selama 9 tahun, gedung gereja ini akhirnya diresmikan oleh mantan Presiden RI Megawati Soekornoputri.

Dalam kurun 86 tahun usia Jemaat GMIM Nazaret Tuminting juga telah berhasil membangun SD GMIM 3, TK Nazaret, SMP Nazaret, sebuah Lahan Pekuburan untuk mengganti lahan pekuburan lama yang telah penuh, 2 buah pastori jemaat. Ikut menopang pembangunan jemaat-jemaat mitra di beberapa tempat.

Sementara anak-anak jemaat ini seperti GMIM Torsina Tumumpa juga telah berhasil memekarkan kolom-kolomnya menjadi beberapa jemaat baru di antaranya Jemaat GMIM Firdaus Jati dan Jemaat GMIM Pangiang, Bailang. Bahkan dalam dinamika kehidupan berjemaat, GMIM Torsina Tumumpa, telah menjadi akar berdirinya jemaat GMPU Tumumpa, dan Jemaat KGPM Tumumpa.

Penulis/Editor : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed