oleh

Jejak Tua Kekristenan di Sangihe Talaud, Benarkah PI Baru Berusia 163 Tahun?

Oleh: Jupiter Makasangkil

Ketika Baptisan pertama di Nusa Utara telah berlangsung pada 9 Oktober 1568 dan Bahasa Sangihe sudah dipakai salam khotbah di tahun 1676, Benarkah Pekabaran Injil (PI) di Sangihe Talaud Baru Berusia 163 Tahun?

Jemaat atau Gereja ada dan tumbuh di semua tempat di dunia karena ada Injil yang dibawa dan dikabarkan oleh orang lain yang telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia, kepada orang-orang yang sama sekali belum mengenal Injil di tempat itu.

Pekabaran Injil adalah pelaksanaan perintah Yesus kepada murid-muridNya sebelum naik ke surga (Mark. 16:15-16, Mat. 28:19-20). Hakekat Pekabaran Injil sesungguhnya adalah penyampaian panggilan untuk keluar dari kegelapan dosa dan masuk kepada terang keselamatan kekal di dalam Yesus Kristus.

Di kepulauan Sangihe Talaud, panggilan itu telah disampaikan oleh misionaris Katolik Pero Mascarenhas sejak 5 Oktober 1568 kepada raja Kolongan (Kalongan) di Sangihe bersama penduduk setempat. Dan panggilan itu telah mendapat jawaban dengan memberi diri dibaptis dalam nama Bapa, Putra, dan Rohkudus pada 9 Oktober 1568. Itulah Baptisan pertama di Nusa Utara, meski sejarah Pekabaran Injil mencatat tahun 1563 raja Siau telah menerima Injil di Menado dan dibaptis padri Diego Magelhaes dengan nama Jeronimo atau Hyronimus.
Pada tahu 1568 Hyronimus mendirikan rumah gereja di Paseng Kamanga dan ayahnya Lokongbanua dibaptis dengan nama Don Paolo.

Dalam keterbatasan pertumbuhannya, kecamba Injil itu tak layu dan terus menyeruak berkembang hingga Kalongan pd 1640-1665 menjadi pusat misi Katolik Fransiskan di Nusa Utara sejak raja Tahuna Buntuang dan raja Tabukan Gamangbanua di baptis padri Juan Iranzo tahun 1640 (Lihat: A. Meersman, Muskens, Sejarah Gereja Katolik di Indonesia, dll).

Keadaan itu berubah awal Agustus 1666 manakala VOC merebut , menduduki dan menguasai Tahuna, serentak dengan penguasaan itu telah menempatkan seorang pendeta tetap yang bertugas memimpin kebaktian kristiani Protetan Calvinis. Raja Tahuna beralih keyakinan ke protestan.

Sementara itu Injil mulai dikhotbahkan dlm bahasa Sangihe tahun 1676 oleh pdt Cornelius de Leuw di gereja protestan Tahuna (lihat: J. C. L. Abineno, Sejarah Apostolat di Indonesia I).

Sejak raja Martin Tatendangnusa (1674) hingga Frederik I. Adriaan raja terakhir di kerajaan gabungan Kendahe Tahuna (1949) semuanya beragama Kristen Protestan. Walau ada waktu yang cukup lama (1790-1825) sedikit sekali kunjungan pendeta ke Sangihe Talaud , namun tidak berarti Injil lenyap dari persada Nusa Utara.

Injil mulai menggeliat tumbuh meluas setelah Pdt. Josep Kam pada Mei 1825 berkunjung ke pulau-pulau ini. Sekembalinya ke Ambon, ia mengirim guru-guru muda yang hingga akhir hayat mereka menetap di Nusa Utara (Maruanaya David, Lopulalan, Pareira, Zachawerus, Picauly, Hamel, dll).

Laporan supervisi Van der Velde van Capellen 1855 menguatkan temuan eksplorasi Valentijn 1817 bahwa Injil sudah tersebar di Sangihe Talaud, tetapi cara hidup kekristenan orang Sangihe perlu diluruskan melalui sebuah upaya pencerahan teologi Injil yang humanis konstruktif, edukatif dan berkelanjutan.

Heldring melihat materi laporan Van Capellen patut disikapi sebagai sebuah tanggungjawab moral meneruskan pemeliharaan jiwa-jiwa yang tetap memegang Injil walau kurang diberi asupan tenaga pembimbing rohani. Dari lembaga Gossner di Jerman ditemukan beberapa pemuda yang menjadi Utusan Komisi Pekerja Pengajar Injil atau lebih dikenal dgn sebutan Pendeta Zending.

Rombongan pertama pendeta zending yang diutus ke Sangihe Talaud sebanyak empat orang, yaitu F. Kelling dan J. A. Grohe ditempatkan di Siau Tagulandang, E. T. Steller dan Carl. W. L. M. Schroder di Sangihe Besar. Bersama raja yang menjemput mereka di Menado, dengan perahu korakora mereka berangkat ke Siau dan ke Sangihe Besar.

Di Manganitu Steller dan Grohe disambut sejumlah murid sekolah dan guru serta pemuka setempat dengan kidung pujian rohani bahasa Melayu “Sama rusa berdahaga” ( ragam: Bagai Rusa Berteriak. NKB 147) dan doa sambut oleh guru /penghentar jemaat. Tanggal kedatangan mereka 25 Mei 1857 pada 163 tahun lalu oleh GMIST ditetapkan sebagai Hari Pekabaran Injil GMIST, sementara GMIST baru dibentuk pada 73 tahun lalu melalui Sidang Pembentukan Sinode tahun 1947.

Pdt. E. T. Steller cs. menitikberatkan kerja pelayanan mereka pada pencerahan cara hidup kristiani yang Injili. Kerja pelayanan ini menjadi makin paripurna dengan pembentukan Komite Sangihe Talaud di Belanda dengan tugas utama memanifestasikan pencerahan Injil melalui pemberdayaan pendidikan, penanganan kesehatan, pengajaran teologi dan keguruan. Karya rasuli mereka membekas pada pertumbuhan gereja dan kekristenan di Sangihe Talaud hingga sekarang ini.

Kembali pada pertanyaan yang menjadi topik tulisan ini, sesungguhnya perlu disimak bahwa Pekabaran Injil di Sangihe Talaud telah dilakukan 462 tahun yang lalu dan diaktakan dengan baptisan kepada raja Kalongan serta para pengikutnya. Pencerahan kehidupan kristiani yang Injili kepada orang kristen di Sangihe Talaud sejak dikerjakan Pdt Steller Cs hingga sekarang telah berusia 163 tahun, artinya Hari Pencerahan Injil (HPI) di lingkup GMIST seperti itulah usianya. Karena ketika “para pembimbing iman dan bapak gereja” itu tiba di kepulauan ini, Alkitab meski terbatas jumlahnya telah dimiliki orang Sangihe Talaud. dibaca, diberitakan, dan di percaya sebagai sumber berita Injil. Hanya cara hidup dan perilakunya yang belum sesuai karena: 1. Pengorganisasian pekerja gereja belum tertata baik. 2. Belum ada penyelenggaraan pendidikan kristen yang teratur dengan baik. 3. Belum tegaknya disiplin gerejawi bagi pekerja dan anggota gereja. 4. Perilaku pemimpin pemerintahan lokal yang tidak menjadi teladan hidup kristiani.

Penulis adalah seorang Magister Theologi, Budayawan dan Mantan Birokrat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed