oleh

Covid-19, Koordinasi RSUP Kandou dan Dinkes Sulut Diniliai Lemah

Manado, Barta1.com – Covid-19 ini belum diketahui kapan berakhir. Dan masyarakat harus diperbiasakan hidup di era yang baru.

“Sehingga perlu peran penting semua pihak, termasuk Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulut secara promotif dan preventif ke depannya,” ujar Anggota DPRD Sulut, Fransiskus Andi Silangen saat rapat dengan Komisi IV DPRD Sulut dengan Dinkes Sulut, beberapa waktu lalu.

Anggaran banyak terserap dalam penanganan Covid-19 ini. “Sekali lagi saya sampaikan kita belum ketahui kapan Covid-19 ini berakhir dan sewaktu-waktu masyarakat akan beraktivitas,” ucapnya.

Penyakit menular cara terbaik mengatasinya adalah pencegahan. “Strategi konkrit yang ingin saya diusulkan bagi Dinkes untuk masyarakat yaitu menyiapkan bahan-bahan guna melakukan pencegahan. Misalnya menyiapkan masker, sanitizer, menyiapkan fasilitas tempat cuci tangan. Karena tidak semua tempat memiliki fasilitas cuci tangan,” tegas Silangen.

Bisa belajar dari negara Prancis. Bagaimana cara mereka menjalani aktivitas dengan menggunakan bahan-bahan pencegahan. Sekolah-sekolah di sana sudah beraktivitas kembali. “Kiranya Dinkes Sulut bisa menyiapkan bahan-bahan bagi masyarakat,” katanya.

Meski begitu, dia kembali mempertanyakan terkait koordinasi antara pihak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Kandou Manado dengan Dinkes Sulut. “Saya mendapatkan satu kasus. Dimana tim dari RSUP Kandou membawa seorang bapak ke Dinsos. Kata mereka bapak ini sudah dirawat seminggu. Dia dibawa ke Dinsos dengan perlengkapan lengkap menggunakan APD, dan ditaruh saja begitu. Katanya bapak tidak punya rumah. Ini bagaimana koordinasinya,” tanya Silangen.

Ketika dilihat, bapak tersebut ada tanda-tanda gejala umum seperti batuk, panas dan sesak. Dan ditaruh saja ke Dinsos Sulut. “Kata perawat RSUP Kandou bapak sudah tidak ada rumah. Ketika diterlusuri lebih lanjut, ternyata sesuai hasil resume bapak ini tidak dilakukan pemeriksaan apapun, baik PCR maupun rapid test. Ini kan sangat membahayakan bagi kita semua,” bebernya.

Begitupun, yang ditanyakan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Melky Jakhin Pangemanan terkait sosialisasi yang kurang kepada masyarakat.

“Kenapa masyarakat sampai saat ini tidak tahu bahwa berjabat tangan sudah tidak boleh. Begitupun terkait social distancing mereka belum tahu. Bagaimana penyuluhan dari pihak Dinkes itu sendiri,” kata Melky.

“Saat saya menyalurkan bantuan kepada masyarakat. Mereka ingin sekali berjabat tangan. Saat saya sampaikan sudah tidak bisa. Ada masyarakat menyampaikan kenapa begitu pak. Dari hal ini, berarti belum adanya sosialisasi yang berjalan dengan baik selama ini,” tuturnya.

Mendengarkan tanggapan dua legislator Sulut, Kadis Kesehatan Sulut, Debby Kalalo yang didampingi langsung ketua Gugus Covid-19 Steven Dandel, langsung menanggapi. “Apa yang menjadi usulan bapak akan kami bahas,” ujar Debby.

Tekait kasus, pasien yang sudah diceritakan tadi. “Kami akan coba telusuri dan koordinasi di lapangan bagaimana terkait kejadianya. Untuk penyuluhan atau sosialisasi kepada masyarakat saat ini kami kekurangan sumber daya manusia (SDM). Untuk sosialisasi perlu kerja sama dengan setiap stakeholder yang ada. Saat ini, Dinkes melaksanakan program pemberdayaan desa. Di dalamnya saling mengedukasikan baik yang muda ke lansia hingga remaja terkait dampak Covid-19 ini sehingga terjadi penguatan dalam sebuah desa guna menjaga kesehatan bersama,” ujar Debby.

Peliput : Meikel Pontolondo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed