oleh

Sekilas Sejarah 8 Generasi Dinasti Jacobz di Kerajaan Tagulandang

Trah kekuasaan 8 raja dinasti Jacobz adalah hal menarik dari era Kerajaan Tagulandang (1570-1945). Bagaimana kisahnya? Berikut ulasan sekilas dari berbagai sumber.

Ketika trah Jacobz mulai memerintah di Tagulandang, kerajaan itu telah berusia 250 tahun sejak didirikan pada 1570 oleh Ratu Lohoraung. Dinasti ini diikwali raja ke-8 Musa Philips Jacobus (Jacobz). Berkuasa antara tahun 1820 hingga tahun 1835. Ia putra dari Raja Kiria dengan permaisuri Tinagari. Pada masa pemerintahannya, Pusat kerajaan Tagulandang di Tulusan dipindahkan ke Buhias.

Tagulandang berada sekitar 16 mil dari ibukota Manado. Kerajaan ini dicatat E.de Waal pada tahun 1825, terdiri atas tiga negeri besar. Tagulandang di sebelah barat, tempat kedudukan raja, lalu Haas di timur dan Minanga di bagian utara. Ibukota negeri Tagulandang terbagi atas tiga kampung, yakni: Tagulandang, Malio-mara (Balahumara) dan Bakula (Bakulaihi).

Wilayah jajahannya di kepulauan Talaud, dicatat hanya satu negeri, yakni Pulutan di pulau Karakelang. Itu pun, hanya setengah bagian Pulutan sebagaimana dicatat dalam raport 5 Januari 1826 dari Gecommitteerde Arnoldus Johannes van Delden ketika berkunjung ke Karakelang (van Delden kelak Sekretaris dan pejabat Residen Manado). Saat itu pulau Karakelang dominan dimiliki kerajaan Tabukan. Penduduk Tagulandang tahun 1825 itu sebanyak 1.132 orang, sekitar 300 laki-laki dan sisanya perempuan dan anak-anak.

Sejarawan Adrianus Kojongian menyebutkan, raja ini tercatat memiliki sejumlah dayang terdiri dari gadis-gadis muda, putri orang kaya. Mereka bertugas menjaga jenasah ketika seseorang dari keluarga kerajaan meninggal. Ia juga memiliki 30 pria dan wanita muda dari negeri yang bekerja untuknya setiap hari. Mereka berkewajiban memberi makan, dan dikenal sebagai budak negeri.

Ia digantikan Johanis Philips Jacobz Amberi yang berkuasa sejak tahun 1835 hingga 1845. Amberi, putra Raja Musa Philips Jacobz dengan permaisuri Ndiari. Pada 1845 Raja Frans Philips Jacobz Kumbea naik tahta mengantikan Amberi, dan berkuasa hingga tahun 1862. Raja Frans Philips Jacobz Kumbea adalah saudara dari Raja Johanis Philips Jacobz Amberi. Pada 1862-1870 Raja Lucas Philips Jacobz Tuwonbange berkuasa. Ia putra Raja Johanis Philips Jacobz Amberi.

Tanggal 2 September 1854, Raja Lucas Philips Jacobz Tuwonbange naik tahta di Kerajaan Tagulandang. Di Manado, bersama mantrinya ia meneken kontrak baru dengan Belanda diwakili Residen Casparus Bosscher 12 November 1860. Kontrak yang ditandatangani Raja Lucas Philips Jacobz Tuwonbange itu, catat Kojongian, terdiri 27 artikel (pasal) mengatur hubungan dan kewajiban raja serta mantrinya.

Klausal utama dari kontrak tersebut adalah Tagulandang sebagai milik Belanda dan dengan demikian mengakui Raja Belanda dan pemerintah Hindia-Belanda sebagai penguasa tertinggi. Karena itu, di era raja ini, pemerintah Hindia-Belanda berhak untuk memecat raja Tagulandang dan menunjuk penggantinya setelah berkonsultasi mantri (rijksgrooten) yang terdiri president raja, jogugu dan kapitein laut. Dalam hal kematian raja, Residen Manado harus segera diberitahu, dan pemerintahan sementara dipegang president raja menunggu penunjukan raja baru oleh gubernemen (pemerintah).

Mengutip sumber-sumber tertulis Eropa disebutkan, penduduk Tagulandang pun terhitung sejak Januari 1861 harus membayar pajak sebesar 1 gulden tiap rumah tangga per tahun, dapat dibayar tunai atau diganti minyak, tripang, karet, kakao, kopi dan lain-lain. Untuk sementara waktu, besaran pajak Tagulandang ditetapkan seratus gulden harus dibawa raja secara pribadi ke Manado. Sepersepuluh total pajak tersebut jadi insentif raja dan mantrinya.

Para mantri yang ikut bertanda catat Kojongian, President Raja Dirk Jacobsz, President Jogugu K.S. Matheous, Kapitein Laut Ernst Mongonto, Hukum Majoor J.S. Jadoding dan Kapitein Bicara S.L. Ohonanmeng. Dua pejabat tidak terbaca namanya yakni jogugu dan kapitein laut lain. Raja Lucas Jacobsz masih pula meneken kontrak pada 21 Juli 1864 dengan Residen Willem Christiaan Happe.

D. Brilman mengungkap, di masa pemerintahan Raja Lucas Philips Jacobz, tenaga Zendeling dari Gossnersch Zendingvereeniging (kemudian Sangi en Talauer-comite) Johann Friedrich Kelling, asal Brandenburg Jerman tiba di Siau 15 Juli 1856, lalu mulai bekerja di Tagulandang. Ia bertugas hingga meninggal dunia di Tagulandang 13 Agustus 1900.

Pada tahun 1856 di Tagulandang terdapat tiga sekolah. Sekolah Gubernemen di negeri Tagulandang dengan 42 murid (tahun 1854 77 murid) dipimpin guru A. Mattheus. Sekolah Negeri di Haas dengan 19 murid dipimpin guru F. Mattheus (tahun 1854 70 murid), dan Sekolah Negeri (tweede school) di Minanga dengan 24 murid, dipimpin guru J.M. Lalongkang (tahun 1854 60 murid).

Di tahun 1871, Sekolah Gubernemen di Tagulandang telah dipimpin guru J. Sondag (lalu J. Bawole). Sondag sendiri menggantikan S. Bawole. Sekolah Gubernemen Haas dengan guru J. Makasihi sejak 1866, dan Sekolah Gubernemen Minanga dipimpin guru S. Ponto sejak 1861. Residen Manado Albert Jacques Frederic Jansen dalam raport 12 Agustus 1857 mencatat wilayah Tagulandang di Pulau Karakelang, yakni Pulutan terdiri atas negeri Dahan, Kalumu dan Bohonbaru. Yang unik, para kepalanya memakai gelar raja. Negeri Pulutan bahkan dengan dua raja bernama Welembuntu dan Selehan, di bawah kuasa kerajaan Tagulandang. Sementara Siau juga mengangkat kepala di Pulutan dengan nama Raja Bohanbitu.

Negeri lain yang diklaim kerajaan Tagulandang, yakni Dahan dengan raja bernama Sengade, dan negeri Nunu dengan raja bernama Paleto atau Papalapu. Sementara negeri Kalumu dipimpin seorang bergelar Kassielieratu.

Raja Lucas Jacobsz meninggal 3 Maret 1871 dengan tubuh tidak ditemukan ketika terjadi bencana alam berupa letusan gunung api di Pulau Ruang, yang menimbulkan terpaan ombak dahsyat (tsunami setinggi 14 depa); menyapu dan menghanyutkan seisi ibukotanya yang berlangsung malam hari sekitar pukul delapan. Penduduk Tagulandang ketika kejadian sekitar 3.000 jiwa (tahun 1862 berjumlah 3.114), bermukim di tiga negeri besar Haas, Minanga dan Tagulandang, serta dua negeri kecil Mulingan dan Bulangan.

Selain raja dan beberapa kepala penting, total 416 orang meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Korban terbanyak terjadi di kampung Tagulandang. Dari sekitar 500 penduduk, 277 orang tewas akibat tersapu tsunami. Perkebunan dan tanaman penduduk pun rusak parah, termasuk banyak rumah penduduk.

Mengisi kekosongan pemerintahan, setelah musyawarah, pada tanggal 1 April 1871 Jogugu Christijan (Christiaan) Mattheosz yang selamat dari bencana, ditunjuk menjadi pemangku fungsi raja. Musyawarah tersebut dihadiri Kontrolir F.S.A.de Clercq yang dikirim khusus oleh Residen Manado untuk melakukan inspeksi akibat kerusakan letusan Gunung Ruang.

Christijan Mattheosz kemudian dipilih sebagai raja 23 Januari 1875, dan dilantik Residen Manado Mr.Samuel Corneille Jan Wilhelm van Musschenbroek di Manado sebagai Raja Tagulandang dengan meneken acte van verband dan bevestiging tanggal 6 Agustus 1875. Beslitnya dari Residen Manado 7 Oktober 1874 nomor 154, dan peneguhan dari Gubernur Jenderal J.W.van Lansberge 24 Oktober 1876 bernomor 54.

Pada tahun 1879 klan dinasti Jacobz yaitu Laurens Philips Jacobz Karangtang kembali menduduki istana raja dan berkuasa hingga tahun 1885. Pada masa raja ini pemerintah Belanda memberikan gaji sebesar 1.150 gulden setiap bulan. Raja ke-14 Nicodemus Jacobz Kalandang naik tahta pada 1885. Ia hanya memerintah selama 7 bulan.

Pada tahun 1885 hingga 1900 Tagulandang dipimpin Raja ke-15 Salmon Bawole Takaliuang yang berasal dari Manganitu. Pada 24 November 1885 di Tahuna, bersama mantrinya Salmon Bawole meneken kontrak politik. Kemudian pelantikannya di Tagulandang dengan acte van verband dan bevestiging 28 November 1885.

Raja Salmon Bawole kemudian minta berhenti. Permintaannya disetujui dengan beslit gubernemen Hindia-Belanda 28 April 1901 nomor 24, kemudian digantikan Raja Laurens Manuel Tamara (1900-1913). Laurens Manuel Tamara, terpilih bulan Agustus 190. Ia dilantik di Tagulandang oleh Kontrolir Afdeeling Sangi-en Talauereilanden Hendrik Frederik Nikolaas Roskott mewakili Residen Manado, sebagai raja dengan meneken akte van verband tanggal 24 Maret 1902, dan memperoleh pengukuhan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda W.Rooseboom dengan beslit 12 Juni 1902 nomor 39. Gelarannya adalah Paduka Raja. Ia telah duduk sebagai anggota Landraad Manado sejak 7 April 1889.

Seperti Raja Salmon, Raja Laurentius Manuel Tamara minta berhenti, dan disetujui gubernemen Hindia-Belanda 17 September 1912 dengan beslit nomor 23. Penggantinya adalah Cornelius Tamalero (Tamalere), yang sementara menjabat sebagai Jogugu Minanga. Raja Cornelis Tamalere yang berkuasa antara tahun 1913 hingga 1917. Raja Cornelis Tamalere berhenti pada tahun 1917 maka pemerintahan Kerajaan Tagulandang dijalankan oleh Jegugu Johannis Manesseh dibawah pengawasan Raja – Raja/ Presiden Raja Siau masing – masing adalah: Raja A. J. K. Bogar, Presiden Raja A. D. Laihad, Raja L. N. Kansil sampai tahun 1922. Cornelius Tamalero (namanya sering ditulis pula Tamarelo) mulai memerintah Tagulandang sejak tanggal 1 November 1912 setelah meneken korte verklaring model seragam. Ia memperoleh pengukuhan dari Gubernur Jenderal A.F.W.Idenburg dengan beslit 1 April 1913 nomor 23. Gelarannya adalah Paduka Raja.

Di masanya, tanggal 29 Mei 1914 Gunung Ruang kembali meletus. Selain lava, melemparkan material batu dan debu. Akibatnya merusak hampir semua rumah di Tagulandang. Lebih seratus rumah dilaporkan roboh. Raja Cornelius Tamalero mengikuti jejek dua raja yang digantikannya. Setelah 5 tahun memerintah, ia minta berhenti, dan disetujui bulan Februari 1917.

Raja Siau Anthonie Jafet Kansil Bogar ditunjuk Residen Manado sebagai pemangku sementara Raja Tagulandang. Meski yang resmi menjalankan pemerintahan sehari-hari di Tagulandang adalah Jogugu Johannis Manosoh. Ketika meninggal 12 November 1918, Raja Kansil Bogar digantikan saudaranya A.D.Laihad, Jogugu Ulu yang juga memangku sementara posisi Raja Tagulandang. Ia menjabat hingga 7 Februari 1921 ketika digantikan Lodewijk Nicolaas Kansil, juga untuk sementara bertanggungjawab menjalankan fungsi Raja Tagulandang.

Setelah lebih lima tahun tanpa raja, Hendrik Philips Jacobs, keturunan dinasti Jacobz, dilantik menjadi Raja Tagulandang 8 Desember 1922 dengan meneken korte verklaring model seragam. Seperti raja-raja lain ia memperoleh gelaran khas Paduka Raja. Ia memperoleh pengukuhan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda D.Fock 17 Juni 1923 nomor 12. Raja Hendrik Philips Jacobs kelak merangkap sebagai pemangku sementara Raja Siau April 1929 hingga 16 September 1930, setelah pengasingan Raja Lodewijk Nicolaas Kansil untuk masa empat tahun di Parigi Sulawesi Tengah. Raja Hendrik Philips Jacobs terkenal ketika itu karena menjadi salah satu dari 3 anggota Majelis Adat (Adat-rechtbank) yang tahun 1929 menyidangkan perkara Raja Kansil bersama Raja Kandhar-Taruna Christiaan Ponto dan Raja Tabukan Willem Alexander Sarapil.

Simbat adalah bagian dari dinasti Jacobz terakhir yang sempat memimpin Kerajaan Tagulandang. Enam tahun pemerintahannya, kerajaan Tagulandang boleh dikata dalam keadaan yang muram diterpa dampak perang dunia II yang pecah sejak tanggal 1 September 1939. Ketika harga kopra anjlok hingga tingkat terendah, ekonomi kerajaan Tagulandang benar-benar terpukul dan terpuruk. Apalagi, kerajaan kecil dengan penduduk 11.401 jiwa ini bergantung hidup pada sektor partanian terutama komoditas kelapa, tulis Adrianus Kojongian dalam artikelnya. Penduduk Landschap Tagulandang ketika itu, sebagaimana catat Ensiklopedia Hindia-Belanda 1939 sebanyak 10.967 pribumi, 433 Cina, 1 timur asing (vreemde oosterling).

Raja Willem Philips Jacobz Simbat naik tahta pada tahun 1936 dan berkuasa hingga tahun 1942 mengantikan ayahnya raja Hendrik Philips Jacobz yang berhenti atas permintaan sendiri awal bulan Maret 1936. Ia adalah raja ke 19 yang pelantikannya hanya diposisikan sebagai akting (waarnemend) raja atau regent atau wakil raja oleh pihak kolonial. Cakupan luas kerajaan Tagulandang di era Raja Simbat meliputi pulau-pulau: Tagulandang, Pasige (Pasigi), Ruang dan Biaro. Kemudian pulau-pulau kecil Selangka, Seha, Sehakadio, Batutombonang, Kauhagi dan Tandukuang. Kerajaan ini di utara berbatas kerajaan Siau, timur dengan Laut Maluku. Selatan Selat Bangka dan Talise; serta sebelah barat dengan Laut Sulawesi.

Di pulau Biaro, terdapat tiga kampung, yakni Biaro, Karungo dan Buang, sementara pulau vulkanik Ruang tidak berpenghuni. Begitu pun dengan Pulau Pasige, tapi sering didatangi nelayan yang mengambil tripang. Ruas jalan hanya dua di Pulau Tagulandang. Satu di sepanjang pantai, dan satunya di seberang, dari Minanga-Boweleu-Tagulandang. Jalan pesisir antara Tagulandang dan Haas lumayan untuk kendaraan ketika itu .

Ketika pada tahun 1942, sebagaimana ungkap situs Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia, tentara fasisme Jepang mulai mencengkramkan kukunya di bumi Sangihe Talaud , Wakil Raja Willem Philips J Jacobz Simbat ditahan Jepang bersama raja-raja Sangihe Talaud lainnya. Simbat dituduh pro-Belanda. Pada 19 Januari 1945 ia dipancung di Tahuna. Meski tulis Kojongian, ada versi lain yang menyatakan peristiwa itu terjadi pada 7 Juli 1942, atau 9 November 1944. Selain Raja Simbat, jogugunya B.L.P. Jacobz ikut dibunuh oleh Jepang. Tragedi itu mengakhiri riwayat Kerajaan Tagulandang atau Mandolokang. Selanjutnya beralih pemerintahan ke tangan fasisme Jepang yang mengangkat Paul Adriaan Tiendas, anak Penolong Injil Tiendas, diangkat Jepang menjadi Syutjo (raja) pada 1944. Kemudian pemerintahan Tagulandang dijalankan Jogugu Hermanus Obed Hamel sejak 1946.

Trah Kekuasaan Dinasti Jacobz
1)1820-1835: Raja Musa Philips JacobusPutra dari Raja Kiria dengan permaisuri Tinagari putra Raja Karula dari Tabukan dengan permaisuri Kelawulaeng. Pusat pemerintahan di Tulusan dipindahkan ke Buhias.
2) 1835-1845: Raja Johanis Philips Jacobz Amberi Putra Raja Musa Philips Jacobz dengan permaisuri Ndiari.
3) 1845-1862: Raja Frans Philips Jacobz Kumbea Saudara dari Raja Johanis Philips Jacobz Amberi.
4) 1862-1870: Raja Lucas Philips Jacobz Tuwonbange Putra Raja Johanis Philips Jacobz Amberi. Beliau wafat pada tahun 1870 sebagai korban bencana alam meletusnya Gunung Ruang pada tahun 1870 yang menelan korban sejumlah kurang lebih 450 orang.
5) 1879-1885: Raja Laurens Philips Jacobz Karangtang mulai dari beliau pemerintah Belanda memberikan gaji sebesar 1.150 gulden setiap bulan.
6) 1885 (7 bulan): Raja Nicodemus Jacobz Kalandang. Beliau hanya memerintah selama 7 bulan.
7) 1922-1936: Raja Hendrik Philips Jacobz
8) 1936-1945: Raja Willem Philips Jacobz Simbat

Editor: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed