oleh

Kisah Shella Rumambi Relawan Covid-19: Ini Panggilan Kemanusiaan

Bitung, Barta1.com – Solidaritas masyarakat memutus mata rantai Covid-19 atau virus Corona terus bermunculan. Berbagai relawan bergandengan tangan bersama ‘melawan’ virus yang terus merenggut nyawa manusia.

Di Kota Bitung, ada Shella Maniku Rumambi (22) yang menjadi relawan sejak 5 April 2020 lalu, yang terus bekerja hingga saat ini.

Tenaga Harian Lepas (THL) di Dinas Pariwisata Kota Bitung ini mengaku mau memberi diri setiap malam berjaga di pintu masuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dengan rekan-rekan Palang Merah Indonesia (PMI).

“Saya sangat senang, bersemangat dan bersyukur karena bisa membantu menjadi bagian dari aksi kemanusiaan melawan pandemi Corona. Karena tugas ini berguna bagi orang lain,” ujar Shella kepada Barta1.com, belum lama ini.

Perempuan kelahiran Ternate, 7 September 1997 ini mengatakan, kerja menjadi seorang relawan merupakan keterpanggilan untuk membantu sesama manusia.

Ia pun menceritakan kesulitan di lapangan ketika mengunakan alat pelindung diri (APD) hazmat yang begitu panas hingga membuat pakaian yang digunakan sering basah. “Sebenarnya tidak biasa tetapi kondisi seperti ini diperbiasakan demi kepentingan banyak orang,” tuturnya.

Dalam tugas-tugas relawan ia dan teman-temanya lebih banyak mengarahkan masyarakat menjalankan protokol penanganan Covid-19. Misalnya rajin cuci tangan dan pakai masker. “Ada cerita ketika warga kami suruh masuk chamber sterilisasi mereka tidak terima, malah mengeluarkan kata-kata kotor. Demi tugas dan tanggung jawab saya terima suka dan duka menjadi relawan. Ya mau bagaimana lagi,” ujar Shella.

Anak kedua dari Nova Rumambi dan Nobel Maniku ini, tak lupa menyampaikan salut dengan warga yang sering memberikan makanan saat mereka bertugas di lokasi, KEK Sagrat Bitung.

“Saat ini kita seperti berperang akan tetapi musuh tidak terlihat dengan mata dan bisa menyerang dan mengakibatkan kematian. Bagi masyarakat Kota Bitung kiranya bisa mematuhi peraturan pemerintah agar selalu mengunakan masker, rajin cuci tangan, jaga jarak dan jangan keluar rumah jika itu tidak penting,” tambah dia.

Ditanya apakah relawan Covid-19 digaji ketika bekerja 24 jam? “Ya, baru namanya relawan, tentu tidak digaji. Kami tim relawan terbagi tiga tim dengan durasi 12 jam setiap harinya. Kami hanya diberikan vitamin, APD, buah segar dan insentif. Sekali lagi dalam menjadi relawan tujuan utama adalah kemanusiaan untuk keselamatan orang banyak,” pungkas Shella.

Peliput : Meikel Pontolondo

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed