oleh

Mengingat Kehebatan Skuad Lokal Persma Manado 1994/95 Menembus Divisi Utama

Persma Manado punya sejarah panjang diblantika sepakbola Indonesia. Tim berjuluk Badai Biru ini berdiri pada 28 November 1960 dengan nama VIM (Voetbalbond Indonesische Manado). Klub yang akhirnya dicoret dari keanggotaan PSSI akibat permasalahan gaji pemain asingnya yang melapor ke FIFA.

Lalu pada 4 Juni 2013, Persma resmi kembali menjadi anggota PSSI, namun telah berganti nama menjadi Persma Manado 1960 dipimpin Harley Mangindaan.

Mungkin banyak penggemar bola hanya mengenal dan mengetahui kehebatan Persma Manado dengan legiun asingnya seperti Rodrigo Araya, Onana Jules dan lain-lain (akan ditulis dalam artikel yang lain) pada Divisi Utama. Namun perlu juga mengingat skuad Persma Manado yang mayoritas dihuni talenta lokal terbaik hingga lolos dari Divisi Satu ke Divisi Utama tahun 1994/95.

Mereka ditempa melalui seleksi ketat kompetisi klub-klub lokal di Manado semisal PS Unoson, PS Bhayangkara, PS Panther Bahu, PS Bina Utara.

“Pemain dari klub-klub itulah yang berjuang meloloskan Persma ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tahun 1994/1995 adalah musim kedua Persma Manado berada di kasta kedua sepak bola Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Divisi I Liga Indonesia,” kenang Johan Heydemans, gelandang serang Persma Manado yang turut menyumbang 1 gol di babak semi final kala itu, Minggu (3/5/2020).

Setelah pada musim sebelumnya gagal lolos ke Divisi Utama karena kalah koin dengan Persipura pada babak 8 besar Divisi I di Kudus, Jawa Tengah. Pada klasemen grup, Persma dan Persipura memiliki poin dan selisih gol yang sama sehingga harus diundi untuk mencari pendamping Persiku Kudus ke babak semi final. Akan tapi akhirnya Persipura yang menjadi runner up dinaungi Dewi Fortuna yang menang dalam pencabutan undian koin.

“Pertandingan antara Persma vs Persipura berakhir seri 2-2. Kita mampu menahan Persipura yang bermaterikan generasi emas yang setahun sebelumya membawa Irian Jaya juara PON XIII seperti Ronny Wabia, Chris Yarangga, Aples Tecuari, Robert Lestuni, David Sadui, Haji Mayor, Ritham Mandubun, Ferdinand Fairyo dan lain-lain,” ujarnya.

Persma gagal pada waktu itu. Nah, setahun sesudahnya mulai membangun kekuatan untuk menatap musim berikutnya. Kompetisi lokal di Manado diputar memantau pemain yang akan dipersiapkan di Kompetisi Divisi Utama 1994/95 yang dimulai dari babak penyisihan wilayah.

Adalah pelatih lokal asal klub PS Maesa Sulut, Hentje Poluakan meracik kekuatan para pemain dibantu Asisten Pelatih Mahmud Thalib (alm) dan Marten Wauran (PS Pesra Ranotana). Gabungan pemain senior seperti Alfrits Tindi (kiper), Abner Makatindu, Rizal Mahmud, John Makasenggehe, Ruddy Manumpil, Maxi Waroka, Jacky Yunus (alm) Hamid Buang (alm) yang kala itu baru saja mengakhiri masa kontraknya dengan Perkesa Mataram, dipadukan dengan skuad muda seperti Hengky Kawalo, Jacky Sumampouw, Johan Heydemans dan Alen Mandey.

Disamping itu juga Persma memiliki pemain yang berada pada puncak permainannya yaitu Francis Reynald Wewengkang dan Jan Kaunang yang diminati banyak klub-klub besar Indonesia.

Persma tergabung di Wilayah Timur bersama PSA Ambon, Persidafon Dafonsoro, Persis Sorong, Perseman Manokwari.

Sejatinya kompetisi harus dilaksanakan menggunakan sistim home and away. Tapi khusus Wilayah Timur, guna meringankan biaya operasional klub, PSSI Pusat menunjuk Stadion Klabat Manado sebagai tuan rumah dan setiap tim nantinya akan dua kali berhadapan.

Pada babak ini Persma keluar sebagai juara Wilayah Timur. Dan akan melanjutkan ke babak delapan besar untuk menentukan tiga tim yang akan promosi ke Divisi Utama. Sebelum melanjutkan babak 8 besar pada tahun itu Sulawesi Utara tepat pada pergantian kepemimpinan, dimana saat itu menjadi momen penting kebangkitan Persma Manado.

Tanda-tanda Persma akan menuju pentas nasional mulai terlihat, ketika mantan Gubernur Lemhanas, Letjen Pur EE Mangindaan terpilih sebagai Gubernur Sulut pada periode 5 tahun tersebut. Reputasi dan nama besar Lape sapaan akrabnya, sebagai mantan pemain dan pembina bola di Indonesia sudah tidak diragukan lagi.

Berkat lobi Lape ke PSSI Pusat maka Stadion Klabat Manado ditunjuk kembali menjadi tuan rumah babak 8 besar. Stadion Klabat berbenah menyambut babak penentuan promosi ke Divisi Utama waktu itu.

Disamping itu, juga skuad Persma mengadakan beberapa perombakan kecil. Pemain yang tidak maksimal selama babak penyisihan wilayah dicoret dan diganti dengan pemain baru. Antara lain dipanggilnya kembali pemain berpengalaman Alva Walean.

Tim mengadakan Training Centre (TC) di Kabupaten Subang, Jawa Barat dan melakukan uji coba dengan beberapa klub di Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya termasuk dengan Timnas PSSI ABRI.

Sekembalinya dari Subang, atau tepat seminggu sebelum babak 8 besar, pasukan Heintje Poluakan langsung pasang target promosi ke level tertinggi sepak bola Indonesia. Dan memang rasanya tinggal menunggu waktu saja.

Dan benar, saat pelaksanaan babak 8 besar Persma sulit dibendung. Mereka mengungguli Persikab Bandung, Persedikab Kediri, dan PSSB Bireun yang menjadi pesaing di Grup B Divisi I 1994/95.

Persma kembali menjadi tuan rumah untuk fase semifinal dan final. Mereka menggilas Persis Solo enam gol tanpa balas di babak 4 besar, sayangnya memasuki final justru ditekuk Persikab di hadapan publik sendiri dengan skor 1-2.

Meski demikian, Persma berhak promosi ke Divisi Utama yang merupakan kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Mereka lolos dengan predikat sebagai runner-up Divisi I 1994/95 di bawah Persikab Bandung yang tampil sebagai juara.

Setelah musim itu Persma menjadi kekuatan baru sepak bola Indonesia. Sedangkan pemain-pemain yang berjasa pada meloloskan Persma waktu itu sebagian masih bermain di musim kompetisi selanjutnya dan yang lain banyak memilih pensiun sebagai pemain.

Ada juga yang mengambil lisence kepelatihan. Saat ini para mantan-mantan pemain Persma tetap bermain bola seminggu sekali. Disamping menjaga kebugaran juga untuk tetap menjaga kebersamaan yang terbina dari masa lalu.

Skuat Persma Divisi I PSSI 94/95:

Penjaga Gawang: Alfrits Tindi (PS Unoson), I Wayan (PS Bhayangkara)

Belakang: Abner Makatindu, John Makasenggehe, Alfa Walean, Arianto Lashari (PS Unoson) Rizal Mahmud, Otniel Ohee (PS Bayangkhara) Jacky Yunus (PS Bina Utara), Jacky Sumampouw (PS Panther Bahu)

Tengah: Francis Mewengkang (PS Panther Bahu), Edy Musriza, Hamid Buang, Maxi Waroka, Johan Heydemans, Alen Mandey (PS Unoson), Inyo By Van Dium (PS Bhayangkara)

Depan: Jan Kaunang, Hengky Kawalo (PS Unoson), Ruddy Manumpil, Abdon Pongoh (PS Bayangkhara)

Pelatih : Hentje Poluakan
Asisten Pelatih: Mahmud Thalib (alm), Marten Wauran

Penulis : Agustinus Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed