oleh

Jejak Starting Eleven PON Sulut 96: Duo Mungil dan Sinarnya Alen Mandey (2)

GANJARAN medali perunggu pantas disematkan kepada tim sepakbola Sulawesi Utara pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XIV di Jakarta. Seabrek pemain berkualitas milik Nyiur Melambai itu akhirnya meroket bak meteor di pentas nasional.

Tim Redaksi Barta1.com menelusuri 11 pemain utama (starting line up) ketika mengalahkan Sulsel 2-0. Setelah sebelumnya kiper, dan pemain belakang.

Johan Heydemans (gelandang bertahan)

Mungil tapi cekatan. Begitu kira-kira gambaran talenta yang dimiliki Johan. Dia mempunyai keistimewaan dalam menyerang maupun bertahan yang sama baiknya. Mencetak gol tunggal kemenangan 1-0 Sulut atas Jatim sewaktu babak penyisihan grup. Sebelum dibalas pada semi final oleh Eri Irianto Cs dengan skor 2-1.

Sebelum PON, Johan dan juga rekannya Alen Mandey termasuk anggota skuad yang meloloskan Persma Manado ke Liga Utama PSSI (Divisi I ke Divisi Utama).

Selepas PON Johan kembali bergabung dengan Persma dan menghabiskan karirnya di Persmin Minahasa. Saat ini dirinya sehari-hari aktif sebagai PNS di Biro Sosial Setda Sulut.

Michael Tuuk (gelandang serang)

Satu lagi pemain mungil yang sangat diistimewakan Coach Arie Kussoy adalah Michael Tuuk. Pemain lincah yang memiliki kecepatan lari serta visi bermain yang baik ini tampil sebagai starter pada saat perebutan medali perunggu.

Awalnya Michael hanya sebagai pemain pengganti. Tapi karena Johny Patras absen di posisi full back kanan maka Stevy Ateng Kussoy yang biasa bermain di lini tengah digeser menggantikan posisi Patras. Posisi Ateng digantikan Johan Heydemans sebagai gelandang bertahan dan Michael mengisi posisi Heydemans sebagai gelandang serang.

Michael yang sejak Pra PON sebagai pilar lini tengah tetapi kemampuannya sempat menurun setelah lama menderita cidera parah dihantam Gusnedi Adang pemain Pelita Jaya pada Piala Opa Mangindaan. Begitu juga pada awal pelaksanaan PON XIV, Michael belum dapat tampil maksimal seperti sebelumnya. Tapi pada perebutan medali perunggu dia menemukan permainan terbaiknya. Setelah PON dirinya berlabuh di Persmin Minahasa setelah sebelumnya sempat bergabung dengan Persma Manado pada kompetisi Divisi Utama PSSI ke 2 tahun 95/96. Saat ini tercatat sebagai PNS Dispora Sulut yang diperbantukan di KONI Sulut.

Alen Mandey (gelandang serang/second striker)

Nah, ini pemain paling bersinar selama perhelatan PON XIV 96 di Jakarta. Satu golnya ke gawang Sulsel pada laga perebutan tempat ketiga menjadikannya sebagai pencetak gol terbanyak pada iven empat tahunan tersebut dengan 6 gol.

Dia unggul 1 gol atas striker Irian Jaya Ortizan Salossa yang hanya mencetak 5 gol. Pada babak semi final lawan jatim alen mencetak gol spektakuler dari jarak jauh yang membuat sulut unggul sementara 1-0 sebelum jatim berbalik unggul 2-1 d akhir babak kedua.

Bahkan seorang Hendro Kartiko, kiper Jatim saat itu yang juga kiper andalan Timnas PSSI sampai saat ini tak pernah melupakan golnya. Prestasi itu, Alen menjadi satu-satunya pemain yang tampil pada PON lalu dipanggil mengikuti seleksi Timnas Senior PSSI yang dipersiapkan mengikuti Piala Asia 96 di Abu Dhabi, Emirat Arab, yang dipimpin pelatih Danurwindo.

Setelah dinyatakan lolos seleksi dan mengikuti Training Center (TC) di Italia kurang lebih sebulan. Namun tiba-tiba publik sepak bola Sulut dibuat geger dengan pengunduran diri dari TC di Itali. Padahal Piala Asia hanya kurang dari dua pekan lagi.

Sekembali dari Timnas dirinya sempat ditawar PSM Makassar dan PKT Bontang tetapi tetap memilih main di Persma Manado, klub yang membesarkanya mulai dari Divisi I. Sampai akhir karirnya Alen hanya main disatu klub saja yaitu Persma Manado. Kendati saat ini dirinya sehari-hari bekerja sebagai PNS Dispora Sulut tapi tidak pernah meninggalakan dunia sepak bola. Dimana dia mengambil lisence kepelatihan usia muda serta menjadi pengurus di Asprov PSSi Sulut dan Askot PSSI Manado.

Fortunatus Kalendesang (striker)

Striker asal Tahuna, Sangihe, ini sejatinya hanya penghangat bangku cadangan saja selama perhelatan PON XIV 96. Selain karena cidera engkel kaki pada saat akan dimulainya PON, juga hanya sebagai pelapis almarhum Isack Fatary dan Stenly ‘Ungke’ Mamuaja. Pertandingan perebutan tempat ketiga lawan Sulsel menjadikan debut Natu, sapaan akrabnya, pada iven tersebut.

Coach Arie Kussoy berani mencadangkan Isack Fatary yang tampil kurang maksimal pada partai semi final lawan Jatim. Penampilannya pada laga itu tidak mengecewakan sebelum digantikan Isack pada babak kedua. Selepas PON, dia bergabung dengan Persma Manado dan melanjutkan ke Persmin Minahasa sampai akhir karir. Tidak seperti rekan lainnya yang tidak pernah meninggalkan sepak bola, Natu benar-benar pensiun dari sepak bola dan fokus pada pekerjaan sebagai PNS di Damkar Pemkot Manado.

Stenly ‘Ungke’ Mamuaja (striker)

Satu lagi pemain Sulut yang tampil mengkilap selama perhelatan PON XIV 96 di Jakarta. Menjadi pencetak gol kedua terbanyak setelah Alen Mandey. Banyak pengamat mengatakan bahwa Stenly bakal menjadi pemain besar dikemudian hari. Dan itu menjadi kenyataan.

Usai PON, Stenly bergabung bersama sebagian besar rekan-rekan setimnya di Persma Manado. Stenly juga sempat meniti karir dibeberapa klub yang ada di Indonesia seperti Arema Malang, Persijatim, Persmin Minahasa, Perseden Denpasar dan PSIR Rembang. Dia juga sempat dipanggil Tim Nasional Pra Olimpiade U-23 dibawa pelatih Bernard Schum. Setelah pensiun sebagai putra Tomohon ini mengambil lisence kepelatihan.

Juga pernah menjadi Asisten Pelatih tim Pra PON Sulut tahun 2015 tapi gagal. Saat ini beliau aktif membina pemain muda di kampung halamanya, Kota Tomohon, dan sempat bertarik di pentas politik namun masih belum membawanya sebagai anggota DPRD.

Pemain cadangan tim sepakbola PON Sulut Eliza Anderi (kiper), Johny Patras, Bambang Salim, Frangky Mananohas, Erwin Sunge, M Alam, Isack Fatary (alm), Jufry Rumondor, Donald Tamon, Roy Jacob, dan Jefry Sinadia. (selesai)

Penulis : Agustinus Hari

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed