oleh

Mewujudkan Sulut Bebas DBD

Oleh: Christi Rumengan

Di tengah pandemi Corona-19 yang tengah melanda masyarakat Indonesia termasuk Sulawesi Utara (Sulut), kita juga harus memperhatikan penyakit tular yang tidak kalah penting yaitu Deman Berdarah Dengue atau biasa di sebut DBD.

Deman berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit tular yang mengalami lonjakan drastis pada awal tahun 2020 di Indonesia. Kementerian kesehatan mencatat jumlah kasus DBD di Indonesia sudah menembus angka 16 ribu pada periode januari sampai awal maret 2020 tersebut. Dari jumlah tersebut, 100 jiwa meninggal dunia. Salah satu provinsi yang memiliki kasus DBD tertinggi yaitu berada di Sulut.

Demam Berdarah Dengue (DBD) selang 5 tahun terakhir terus menyerang Sulut. Sesuai data Dinas Kesehatan Sulut, total sudah terjadi 6.130 kasus, dengan jumlah kematian mencapai 74 orang. Kasus DBD di 5 tahun terakhir paling tinggi terjadi tahun 2016, yaitu terjadi 2.217 kasus. Sempat menurun di tahun 2017 hingga 587 kasus, DBD kembali meningkat kasusnya di 2018, total 1.713 kasus terjadi. Di 2018 juga mencatatkan jumlah kematian paling tinggi yakni 24 orang.

Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini Sulawesi Utara menetapkan status KLB karena ada 980 kasus DBD dengan jumlah kematian sebanyak 13 kasus periode 1-29 Januari 2019.

Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini tidak saja ditemukan di daerah perkotaan, namun juga terdapat di daerah pedesaan. Sejak tahun 1985 DBD telah menyebar ke seluruh propinsi di Indonesia.

Cara penularan penyakit DBD yang terjadi secara propagatif (virus penyebabnya berkembang biak dalam badan vektor), berkaitan dengan gigitan nyamuk Aedes , yaitu Ae. aegypti dan Ae. albopictus yang merupakan vektor utama dan sekunder DBD di Indonesia (Dekpes RI, 1996).

Siklus dan penyebaran penyakit demam berdarah dapat disebabkan oleh lingkungan yang kurang terjaga kebersihannya, mulai dari lingkungan sekitar maupun di dalam rumah. Contoh dari lingkungan yaitu masih adanya masyarakat yang sering buang sampah sembarangan sehingga dapat mengakibatkan sampah mulai tertumpuk dan jika musim penghujan akan mengalami banjir atau banyak tempat yang tergenang airnya.

Sehingga mengakibatkan banyak nyamuk mulai berkembang biak. Sedangkan faktor penyebaran di dalam rumah seperti, sering menumpuk barang-barang yang sudah tidak di pakai, menggantung baju dibelakang pintu dan masih banyak lagi. Salah satu yang merupakan faktor penyebab penyebaran penyakit yaitu tingginya pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali.

Penyakit demam karena virus yang ditularkan oleh nyamuk. Sindrom demam yang akut, umunya terjadi di daerah tropis, dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah yang mengarah ke diatesis perdarahan atau koagulasi intravascular diseminata (DIC), Kondisi ini kemudian kita kenal dengan sebutan demam berdarah dengue (DBD).

Ada cukup banyak kasus DBD di mana pasien mengalami shock yang bisa membahayakan nyawa, yang dikenal sebagai dengue shock syndrome (DSS). Di seluruh dunia, DBD lebih banyak menyerang anak usia 15 tahun ke bawah. Demam berdarah tidak menular melalui kontak orang-ke-orang, melainkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Virus DBD biasanya menginfeksi nyamuk Aedes aegypti betina ketika menghisap darah seseorang yang tengah dalam fase demam akut (viraemia). Fase ini terjadi dua hari sebelum panas sampai lima hari setelah demam timbul. Nyamuk menjadi infektif dalam waktu 8-12 hari (periode inkubasi ekstrinsik) setelah mengisap darah penderita yang sedang viremia dan tetap infektif selama hidupnya.

Setelah periode inkubasi ekstrinsik terlalui, kelenjar ludah nyamuk tersebut akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain.

Masa inkubasi penyakit DBD 3-14 hari, tetapi pada umumnya 4-7 hari. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 34 hari (rata-rata selama 4-6 hari) akan timbul gejala awal penyakit, seperti demam tinggi mendadak yang berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakkan bola mata, nyeri punggung, terkadang disertai adanya tanda-tanda pendarahan. Pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, pendarahan saluran cerna, syok hingga kematian.

Adapun upaya yang harus dilakukan baik pemerintah maupun masyarakat untuk menghindari dari penyakit tular DBD yaitu pemerintah dalam hal ini Gubernur Sulut bersama Ketua Tim Penggerak PKK Sulut melalui surat edaran, mengimbau kepada seluruh perangkat daerah untuk menggerakan masyarakat melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan dalam upaya Pemberantasan Sarang Naymuk (PSN). Program PNS yaitu : 1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain 2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; dan 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah. Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti 1) Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan; 2) Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk; 3) Menggunakan kelambu saat tidur; 4) Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; 5) Menanam tanaman pengusir nyamuk, 6) Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah; 7) Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Berdasarkan data yang diperoleh kasus DBD yang ada di Sulawesi Utara dari data tahun terakhir masih meningkat. Maka diperlukan suatu tindakan yang komprehensif dan perlu dilakukan kerjasama lintas sektor antara pemerintah, swasta, organisasi profesi bidang kesehatan dan perguruan tinggi dalam rangka mengendalikan bahkan memberantas penyakit DBD di Sulawesi Utara. Mari kita bersama ciptakan Sulawesi Utara bebas DBD.

Penulis, mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed