oleh

Malombo, Tradisi Menyambung Hidup yang Terancam Punah di Talaud

Tradisi Malombo atau menebar jala (jaring) merupakan satu aktivitas masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud dalam menangkap ikan dengan menggunakan jala atau jaring lempar.

Sudah sejak ratusan tahun silam masyarakat Kepulauan Talaud memanfaatkan sumber daya laut pesisir untuk menyambung hidup dengan menebar jala yang berbentuk lingkaran kecil dengan pemberat pada tepi–tepinya atau dikenal dengan Larombo oleh masyarakat pesisir Talaud.

Keberadaan populasi manusia yang banyak di dekat laut sangat erat kaitannya dengan berbagai jenis pemanfaatan sumberdaya yang terdapat di laut itu sendiri. Berbagai komunitas kehidupan yang terdapat di laut, atau yang dikenal dengan ekosistem, memberikan manfaat yang beragam bagi manusia. Manfaat yang diperoleh tersebut berkembang dari waktu ke waktu seiring berkembangnya pengetahuan manusia dan kemampuannya memanfaatkan potensi yang ada.

Dalam Malombo, para penebar jala sudah memperhitungkan cuaca serta kondisi medan. Untuk menebar jala pada medan berpasir, ada beberapa hal yang diperhatikan agar bisa mendapatkan hasil maksimal, diantaranya adalah tingkat kebeningan air.

Ketika air terlalu bening atau terang, ikan–ikan akan sulit untuk ditangkap. Oleh karena itu airnya harus agak keruh. Mengapa? Karena ikan–ikan biasanya akan lari atau berenang menjauh saat melihat bayangan jala dan penebar jala. Selain itu, untuk medan yang berkarang atau ‘nyare’ (bahasa lokal) harus memperhatikan beberapa hal termasuk besar kecilnya gelombang ombak agar jala tidak gampang tersangkut dikarang dan sobek. Hal ini diutarakan oleh beberapa orang tua yang dahulunya merupakan pelaku Malombo.

“Untuk ukuran jala tersebut bervariasi sampai empat (4) meter pada diameternya. Jaring tersebut dilempar sedemikian rupa hingga menyebar di permukaan air dan tenggelam. Ikan yang terkurung akan tertangkap pada saat jarring tersebut ditarik keluar air,” ungkap Apolos Lalesah, di kediamannya di Desa Dapalan, belum lama ini.

“Pada prinsipnya penangkapan dengan menebarkan jala ialah mengurung ikan atau udang dengan jalan menebarkan alat tersebut sedemikian rupa sehingga menelungkup atau menutup sasaran yang dikehendaki,” ujar Lalesah.

Disisi lain, Abdon Sarendaren salah seorang warga yang hingga saat ini masih menggeluti Malombo ini menerangkan, apa dan bagaimana nasib dari kegiatan yang merupakan warisan pendahulu dalam bertahan hidup dengan melakoni peran sebagai penebar jala saat ini.

“Untuk Malombo itu sendiri, sudah ada sejak dahulu. Saya sendiri, sudah sejak tahun 80-an menggeluti aktifitas ini. Untuk hasil yang didapatkan dari aktifitas malombo ini lebih dari cukup. Terkadang, hasilnya bisa dijual dan uangnya untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti beras, gula, garam dan kebutuhan pokok lainnya,” ujar pria yang akrab disapa Om Abdon.

Saat ditanyakan apa kesulitan dalam menebarkan jala di atas permukaan karang, ia mengatakan untuk medan berkarang, apabilah salah memperhitungkan lokasi penebaran jala, maka jala tersebut bisa saja tersangkut karang dan sobek. “Untuk kesulitan pasti ada. Semua tergantung medan. Apalagi saat ikan berada di balik karang, pasti membutuhkan kehati-hatian dalam menebarkan jala,” urai Sarendaren.

Lebih lanjut lagi, dirinya menerangkan, Kalau dilihat sepanjang tahun 2012 sampai saat ini, jumlah orang yang menggeluti aktifitas Malombo ini semakin berkurang. Untuk seputaran Melonguane, diperkirakan saat ini tinggal dua (2) orang yang masih menekuni aktifitas ini.

Tentang apa latar belakang penyebab merosotnya angka masyarakat yang masih membudidayakan tradisi ini, ia menjelaskan, ada beberapa penyebab sampai berkurangnya minat serta aktifitas masyarakat dalam hal ini. Diantaranya adalah factor gengsi, minat serta semakin sedikit masyarakat yang memiliki fasilitas penangkap ikan yaitu jala.

Peliput : Evan Taarae

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed