oleh

Perang Liwua Daha Dalam Kantari Orang-Orang Siau

Peninggalan paling spektakuler dari monarki di kepulauan ini sejati susastra dan kantari. Sebuah dunia mentafak yang tak kalah pentingnya dibanding artefak. Dan bukan kebetulan bila “Bongkong Bunu”, sebuah bukit di Salili, disebutkan dalam beberapa syair lagu masa lampau, negeri Siau.

“Pia bongkone rarua// bongkong Awu-Tamata// nakasara sire dua// bongkong bunu nihaka”. Pertama-tama, bebukit Bongkong Bunu adalah petanda batas antara Ondong (Siau Barat) dan Ulu (Siau Timur). Kedua, sebuah perang saudara pernah berkecamuk di tapal batas ini sehingga disebut “Liwua Daha”, bermakna kolam darah. Ketiga, sebagaimana susastra, kantari adalah karya para arifin (kaum arif bijaksana) sekaligus petanda kebangsawan sebuah masyarakat yang cerdas.

Sekiranya Mpu Prapanca dipandang sebagai sejarawan Majapahit yang menjahit kata-kata dalam syair-syair kitab Negarakertagama, maka penyair dan komponis Nusa Utara masa lampau adalah “Ampuang”, kaum penyuluh daya hidup pada suku bangsanya. Pada karya-karya mereka, dalam jarak paling jauh sekalipun, para sejarawan modern akan tampak seperti semut yang membaun bau kisah negeri itu. Dan Betribe Sasongke, generasi tua di Timur Siau yang masih mewarisi kisah sejarah dalam syair “kantari” (lagu).

Hari itu di Deahe, sebuah kampung di lerang Gunung Karangetang bagian utara, Betribe mencoba kembali ke masa yang jauh. Dengan susah payah ia menenun ingatan agar bait demi bait syair kisah Perang saudara Angkumang – Posuma bisa tersampaikan. Dan beruntung Jolly Horonis, penyair asal Siau, berhasil merekam serpihan ingatan perempuan tua itu, yaitu:

Bila ingat masa dulu
Bersetru Ondong dan Ulu
Tidak barang perdamaian
Ketika buat pilihan
Karena Lokongbanua dirajakan utama
Telah mangkat, putranya Angkumang Posuma
Jadi pangkal peperangan
Ulu lantikan Angkumang
Tak senang Ondong terima
Ondonglah mau Posuma
Karena pertempuran tent’ra bersaudara
Sampai skarang dinamakan orang Luwua Daha
Ketika p’rang Ulu banyak dibunuh
Berhenti p’rang Angkumang pulang malu
Agar senang dijadikan Jogugu
Posuma menang sambil pulang dengan gagah
Di Ondong dinobat jadi raja
Baru hilang peperangan
Perdamaian berkesenangan.

Betribe, sebagaimana generasi yang setidaknya lahir di bawah tahun 1970 boleh dikata masih akrab dengan tradisi “mebio” (tradisi bercerita). Lewat mebio, para tetua mewariskan sejarah secara regeratif. Selain mebio, generasi seusia Betribe, punya keakraban dengan dunia susastra termasuk syair-syair kantari. Ingatan bagi mereka adalah halaman-halaman kitab sejarah manusia kepulauan itu. Dan Jolly Horonis, salah satu dari generasi yang lahir di atas tahun 1970, merupakan bagian dari generasi yang berjarak dengan tradisi yang jejak-jejaknya mulai punah ini.

“Menelusuri sejarah leluhur masyarakat Nusa Utara saat ini memang agak sulit. Maka mencatat serpihan-serpihan sejarah masa lampau nenek moyang suku Sangihe – Talaud menjadi penting dilakukan. Catatan-catatan ini mempermudah generasi saat ini untuk lebih mengenal jati diri mereka,” ungkap salah seorang pegiat budaya dan sastra itu.

Benni M. Matindas, barangkali sedikit dari sastrawan, budayawan dan penulis filsafat terkini yang dibuat takjub oleh tradisi kantari. Dalam beberapa kali pertemuan baik di Jakarta dan di Manado dengan penulis, ia tak henti-henti mengungkapkan keterpesonaannya pada kearifinan para pencipta kantari di Nusa Utara. “Sungguh negeri itu tak kurang, bila disebut sebagai ladang daya cipta. Sebagaimana luas bentang laut mereka, demikan luas khazanah susastra dan kantari terwariskan,” ungkap pengarang buku berhalaman tebal “Negara Sebenarnya” ini.

Pertengahan tahun 2013, Benni menjadi juri pemecahan rekor MURI lewat atraksi bernyanyi lagu-lagu daerah (Masamper) di Tahuna. Di sana ia menghidu sepuasnya kesemarakan tradisi bernyanyi yang berlangsung berhari-hari tanpa henti. Setelah ribuan lagu yang disuguhkan oleh ribuan penyanyi masamper telah mencapai titik pecahnya rekor MURI, bisa jadi, Benni pulang ke rumahnya bukan dengan membawa sebuah kesimpulan, namun sebuah pertanyaan besar, bagaimana mungkin di kepulauan yang disebut primitif oleh para penulis Eropa itu, terdapat sinar adiluhung yang terpancar dalam karya-karya peradaban mereka.

Mari kembali ke duani para leluhur! Leluhur masyarakat Nusa Utara sangatlah kurang minat dalam menulis. Hal ini bisa dibuktikan dengan tak ditemukannya tulisan-tulisan leluhur masyarakat Sangihe. Tulisan sejarah baru dicatat di antaranya oleh para zending yang datang di Nusa Utara. Leluhur suku Sangihe lebih dikenal gemar bercerita dan bernyanyi. Lewat bercerita dan bernyanyi itulah mereka mentransfer kehidupan dan sejarah. Kedua tradisi ini sama-sama memiliki nilai penting dalam pemertahanan budaya, meski saat ini mebio mulai hilang dari panggung hajatan. Hal ini karena muncul jenis pentas yang lebih modern juga karena semakin berkurang orang yang mahir dalam mebio (penghikayat).

Namun, soal bercerita tentang legenda, fabel, mite dan sage, di Sangihe terlebih di daerah Siau hal ini tidak hanya didominasi oleh ahli mebio. Mereka yang suka dengan kantari, yang tidak ada kemampuan dalam bertutur cerita di panggung, juga terlibat dalam menceritakan kisah-kisah daerah yang ia cintai ini. Mereka meramu cerita-cerita itu menjadi satu lirik lagu utuh yang sarat kisah. “Dengan nyanyian bisa jadi pendahulu suku Sangihe ini beranggapan bahwa media bernyanyi merupakan media mentransfer ilmu dan sejarah yang baik, maka tidak sedikit lagu yang mereka ciptakan yang menuliskan syair kepahlawanan,” kata Jolly. Dan Betribe Sasongke adalah bagian dari generasi tua yang masih mewarisi kisah sejarah dalam kantari.

Syair lagu “Angkumang dan Posuma” yang dinyanyikan Betribe Sasongke, sejatinya mengisahkan peristiwa perang saudara antara kedua anak lelaki raja Lokongbanua II dalam perebutan tahta kedatuan/kerajaan Siau. HB Elias, seorang sejarawan lokal, lewat bukunya yang terbit di tahun 1973, bercerita panjang lebar tentang sejarah Lokongbanua, juga tentang kisah perang Angkuman dan Posuma seperti lirik dinyanyikan Betribe.

Pada tahun 1549 Raja Longkongbanua II meninggal dunia, dan tak meninggalkan pesan siapa di antara kedua putranya yang harus menggantinya di tahkta kerajaan Siau. Begitu raja mangkat, timbul pertengkaran yang hebat antara kakak beradik memperebutkan singgasana kerajaan itu. Pasuma tidak mau mengalah kepada kakaknya Angkumang, sebagaimana ajaran tradisi “Yakang ganting Gaghurang” (Kakak tertua penganti orang tua).

Kakaknya sudah lama berdiam di Ulu Siau, tidak lagi berada di istana ayahnya, maka pengaruhnya kepada pengawal dan semua menteri kerajaan sudah sangat tipis, sehingga ia lari dengan segera meluputkan diri ke Ulu Siau dengan membawa dendam kesumat terhadap peri tinkah laku adiknya, yang tidak mau menyerah kepada dia yang tua.

Saat Angkumang berangkat meninggalkan istana baginda, Posuma mengatur siasat peperangan, karena Angkumang sudah mengancam dia dengan satu perkelahian yang seru untuk mendapatkan kedudukan yang kini mau terlepas dari tangannya. Posuma mendatangi komandan benteng gurita di Ondong, meminta prajurit Spanyol, mengikuti dia dari belakang, manakala ia dan pasukannya sudah berangkat ke gunung Bongkong Bunu untuk berhadapan dalam medan pertempuran menghadapi pasukan kakaknya.

Pada keesokan hari Posuma berangkat dengan satu pasukan pilihan ke arah timur dan benar-benar lewat Bongkong Bunu ia bertemu pasukan kakaknya dari Ulu Siau. Terjadilah peperangan yang seru antara pasukan kakak beradik ini. Pada saat prajurit Spanyol Portugis tiba di medan perang, sebenarnya Posuma sudah berada dipihak yang menang dan tentara dari Ulu semangkin terdesak. Dengan beradanya tentara Spanyol di medan pertempuran, dan pastilah hasil peperangan itu. Angkumang lari ke Ulu meninggalkan ratusan mayat bergelimpangan di medan peperangan. Dari pihak Posuma pun tewas beberapa ratus laskar, sehingga terjadi semacam telaga darah atau kolam darah, Tempat berlangsungnya peperangan itu pun dinamakan Liwua Daha (Kolam darah).

Micojan Bawuna, budayawan asal Siau saat diwawancarai pada April 2020, mengatakan, lokasi pertempuran itu saat ini berada di wilayah kampung Salili. “Lokasi yang disebut sebagai Liwua Daha itu tepatnya di seputaran Balai Kampung Salili dan sekitarnya,” ungkapnya. Dijelaskannya penyebutan Liwua Daha karena pertempuran kedua pasukan kakak beradik itu berlangsung saat hari lagi hujan. Sehingga darah beratus-ratus korban yang tewas bercampur dengan air hujan hingga membentuk kolam darah yang cukup besar.

Sudirno Kaghoo dalam Jejak Leluhur, menyebutkan latar belakang peperangan itu karena Angkumang teguh pada pendirian sebagai pengganti orang tua (ganting gaghurang) namun Posuma tidak mengindahkan kebiasaan tradisi itu. Kaghoo juga menyentil sikap Angkumang yang tidak suka dengan Spanyol (Katolik) karena fanatiknya terhadap Sundeng (kepercayaan lokal). Sementara Posuma sangat dekat dengan khatolik Spanyol, yang di kemudian waktu, tepatnya tahun 1563, Posuma menjadi salah satu dari raja yang dibaptis Peter Jesuit Diego De Magelhaes di tepi pantai Singkil- Sindulang sebagaimana catat sejarawan Sem Narande dalam “Vadu La Paskah”.

Penulis : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed