oleh

Kuasa 6 Dotu Tanjung Merah: SP3 Bukan Berarti Bebas

Manado, Barta1.com — Efraim Lengkong selaku kuasa 6 Dotu Tanjung Merah merasa yakin, Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan atau SP3, yang diterbitkan Polda Sulawesi Utara, belum menjadi final guliran kasus dugaan keterangan palsu. Kasus tersebut melibatkan oknum FS alias Fien yang dilaporkan Efraim ke polisi.

Efraim menjelaskan SP3 yang dikeluarkan oleh Polda Sulut bernomor S.Tap/03/III/2020 Tentang Penghentian Penyidikan itu, berdasarkan gelar perkara khusus di Rowasidik Bareskrim Polri 12 Februari 2020. Surat merekomendasikan kasus ini “Tidak Cukup Bukti”.

Baca Juga: Ketua 6 Dotu Tanjung Merah Nilai Janggal SP3 Direskrim Umum

“Ini ibarat menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, SP3 bukan berarti sudah bebas” tutur Efraim, filosofis, pada wartawan Senin (13/04/2020), di kawasan Kampus Unsrat Manado.

Selaku perwakilan 6 Dotu Tanjung Merah, Efraim mengaku dirinya telah mengetahui pengembangan yang dilakukan pihak kepolisian lewat Surat Pemberitahuan Perkembangan Penyidikan (SP2HP) yang diterimanya dari penyidik. Sebelumnya juga dia selakun pelapor telah menerima Surat tanda terima laporan (STTLP). Berdasarkan dokumen SP2HP diketahui dengan jelas tentang adanya P19 dari jaksa penuntut umum yang memintakan Uji Labkrim sehingga mengisyaratkan penyidik sementara melengkapi.

“Apalagi sesuai informasi yang didapat dari kalangan penyidik sendiri yang mengatakan hasil uji Labfor ‘Non Identik’ alias palsu,” kata dia.

“Tidak mungkin anda mengantongi ijazah SMU kalau anda tidak mempunyai ijazah SMP dan SD kan,” tambahnya sambil tersenyum.

Diketahui laporan yang dialamatkan Efraim Lengkong dkk terhadap FS adalah dugaan FS telah melakukan atau memberi keterangan palsu pada beberapa dokumen tanah. Atas keterangan tersebut, para ahli waris tanah lainnya yaitu keturunan Dotu Tanjung Merah merasa dirugikan.

Untuk saat ini Efraim terus mengupayakan langkah hukum. Soal bentuknya seperti apa, dia tak mau banyak bicara.

“Masih suasana Paskah dan juga perhatian kita tersita pada tragedi kemanusiaan akibat pandemi Covid-19, jadi ditunggu saja yang pasti kasus ini belum berakhir,” katanya penuh arti. (*)

Peliput: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed