oleh

Jalan Sasambo dan Filsafat Kehidupan Orang-orang Sangihe Talaud

Tak saja pada zaman Horace (Horatius) di Yunani ditemukan apa yang disebut sebagai dulce dan utile. Kecerdasan sastrawi dan kecerdasan musikal pun telah hidup dalam ribuan tahun Nusa Utara.

Keindahan dan kebergunaan sastra telah menjadi akar sejarah dan filsafat kehidupan mereka. Di negeri kepulauan itu, masyarakatnya memandang bahwa Sasambo (puisi) sama seriusnya dan sama pentingnya dengan filsafat atau ilmu pengetahuan kebijaksanaan dan memiliki persamaan dengan kebenaran atau jadi mirip kebenaran.

Pantun, mantera, tinggung-tinggung adalah sastra lisan tertua di Nusa Utara. Diajarkan secara turun temurun. Kegiatan berbalas syair disajikan dengan iringan musik tagonggong. Di sebuah altar tradisi, seorang pesambo dengan kecerdasan puitik akan melantunkan satu syair bernada penthatonik dan dibalas oleh orang lain dengan kekuatan syair yang sejajar baik dari segi instrinsik dan ekstrinsik. Tanpa kesejajaran, tak saja dunia nilai, namun kemajisannya akan terkacaukan.

Sambil melantunkan sambo, para jenius sastrawi ini harus juga memainkan tagonggong sesuai irama yang diinginkan. Ketika sastra menjadi sabda, maka music adalah perahu yang membawanya mengarungi kehidupan. Bingkai pandangan-pandang sejak masa lalu yang penuh symbol, petanda dan penanda ini, kata sejarawan dan antropolog Alex Ulaen, hanya dimengerti oleh mereka yang memiliki kecakapan puitik dan kecakapan estetik.

Dalam cerita lisan (folklore) Sangihe di era Raja Makaampo (1530-1575) di Kerajaan Tabukan, disebutkan para leluhur orang Sangihe sangat gemar dan mahir dalam berpuisi dan berpantun yang disebut Mesambo. Aktivitas berpuisi secara berbalas-balasan ini pun disebut Mebawalase.

Setiap lawan sambo harus mampu menjawab atau membalas syair yang disambokan. Kalau tidak maka akan dianggap kalah dan dalam tingkatan syair tertentu bisa terjadi malapetakan. Berdasarkan cerita rakyat dari kampung Dagho, Kalamadagho dan Pananaru, di mana pulau Sambo yang ada di pantai Kalamadago terlempar akibat permainan tagonggong dan sasambo para punggawa yang sakti. Sampai saat ini, pulau tersebut dinamakan pulau Sambo. Dimasa lalu, setiap sambo yang dilantunkan memiliki kekuatan magic yang dapat membunuh orang. Ini sebabnya sasambo juga disebut seni ritual magis.

Ada kata mematikan, ada kata menghidupkan. Demikian filosofi sastra Sasambo. Sebuah seni ritual etnik Sangihe. Sebagai seni ritual magi, Sasambo tak sekadar seni hiburan tapi ritual. Dalam Sasambo, kearifan dan heroisme tertinggi adalah penyatuan manusia, alam semesta, dan Ilahi.

Setiap jenis syair seperti juga irama ketukan Tagonggong (Gendang Sangihe) memiliki makna dan maksud tertentu yang ingin dicapai Pesambo (pelantun Sasambo). Alat musik tradisi Sangihe Tagonggong sebagai pengiring sasambo adalah sebuah gendang yang berbahan dasar kayu nangka, kayu hitam (batuline) dan kayu besi (siha/kaluwatu). Alat musik ini menyerupai “Gendang Batu Marawis” pada kesenian Islam. Menurut Alfian Walukow, seorang peneliti sejarah di Tahuna, sampai saat ini belum ada data ilmiah yang mengkaji kepastian lahirnya alat musik ini dalam aktifitas berkesenian di Sangihe. Mungkinkah Tagonggong adalah warisan kebudayaan Islam?

Aktivitas sasambo biasanya dilaksanakan untuk maksud meminta pengasihan, atau keterlibatan kekuatan mekanis dalam alam semesta untuk mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan umat manusia seperti kebahagiaan perkawinan, karunia cinta, mendatangkan maarifat bagi anak, panen yang berhasil, memenangkan perang, mendatangkan keperkasaan bagi seseorang, menghindarkan negeri dari bahaya atau menolak bala, serta penyucian kehidupan manusia dan alam semesta. Juga dapat digunakan untuk mendatangkan malapetaka bagi orang lain atau orang yang dimusuhi.

Sasambo berasal dari bahasa Sangihe yang dibentuk dari dua suku kata yakni : Pertama, Sasasa artinya pengajaran (Petuah, Penyucian). Kedua, Sambo artinya Syair (mantra, kalimat-kalimat petuah yang magi). “Dalam budaya magi etnik Sangihe diyakini jika huruf-huruf mematikan digambungkan akan menimbulkan petaka, huruf menghidupkan digabungkan mendatangkan berkah,” ungkap budayawan Syahrul Ponto.

Magisme Sasambo berada pada musikalitas bahasa yang dipengaruhi unsur bunyi (Lagung). Semua bermula dari bunyi, begitu falsafah Sasambo. Sementara Tagonggong adalah media roh bertemu pesan dalam syair. Efek bunyi adalah spirit pencapaian kulminasi trans (katarsis). Suatu periode puncak menyatunya kosmik manusia dengan kekuatan alam semesta dan Ilahi. Puncak trans dalam Sasambo khususnya berlaku pada jenis Lagung Sesonda (Sasambo heroisme).

Syair dan lagu (irama ketukan gendang) sasambo terdiri dari beberapa jenis diantaranya : a).Lagung Bawine: Berisi petua-petua berumah tangga, atau syair cinta. b).Lagung Kakumbaede atau Sasahola: berisikan syair maarifat pengantar tidur bagi anak-anak. c).Lagung Duluhang : Berisi syair kearifan pesisir. d).Lagung Balang : Berisi syair kearifam lautan. e). Lagung Sasonda: Berisi syair perang. f).Lagung Kafire: Berisi mantra yang ditujukan untuk mencelakakan orang.

Masyarakat Etnik Sangihe meyakini adanya tenaga mekanis yang sakti dan rahasia berada dalam seluruh alam, yang dipandang sebagai Ilahi sumber ke-asal-an. Sesuatu yang bisa mengerjakan atau menimbulkan kebahagiaan maupun pemusnahan. Karenanya, segala aspek pikiran dan tindakan didasarkan pada penyatuan kehendak manusia dengan tenaga sakti dalam alam ini. Jalan penyatuan kehendak inilah yang disebut jalan Sasambo

Kekuatan semesta itu berasal dari para Opo atau ampuang (roh orang suci atau orang perkasa yang telah mati), Ompung (roh dewa-dewi lautan) atau Taghaloang (Tagaroa), Ingang (peri-peri), Ghenggonalangi (Sang Maha Kekuatan pencipta semesta-Tuhan dalam pengertian agama-agama semitik), serta roh-roh penyebab petaka, diantaranya : Pehang, Mongang, Lahoe, Kabanasa, Setang, Ratoen Setang. Sedang roh-roh yang bersifat baik seperti : Saritana, Ading dan Ghenggona.

Dengan Sasambo, ungkap John Rahasia, manusia Sangihe menjalankan filsafat kehidupannya melalui lima (5) unsur penting: Pertama, Tembo (Kepala) Aspek kecerdasan dan kearifan. Kedua, Seba Kuaneng (Dada Kanan) atau Humanity. Ketiga, Seba Kuihi (Dada Kiri) Keyakinan. Keempat, Tiang (perut) kesejahteraan. Kelima, Manu Kadio (kelamin) regenerasi. Dengan demikian Sasambo sebagai ritual puncak dalam tradisi Sasahara dan Sasalili masyarakat Etnik Sangihe merupakan jalan menuju kearifan, humanitas, keimanan, kesejahteraan dan regenerasi.

Setelah masuknya bangsa Eropa, aktivitas kesenian berbalas syair ini melahirkan bentuk baru yaitu saling berbalas lagu atau kantari. Lagu-lagu yang dinyanyikan mendapat sentuhan music diatonis Eropa yaitu nada do, re, mi,fa ,sol ,la ,si. Proses mebawalase kantari mula-mula adalah seseorang berdiri sambil menyanyi lalu diikuti oleh peserta yang hadir sambil menunjuk satu demi satu orang yang hadir ketika lagu berhenti, dengan sendirinya orang yang tertunjuk bersamaan dengan akhir lagu harus berdiri menggantikan orang yang sedang berdiri. Kesenian ini kemudian disebut “tunjuke”.

Sejak masuknya Injil di tanah Sangihe. Pada saat itu lahir bentuk paduan suara gereja yang disebut Zangvereeninging yang diambil dari kata dasar zang (bahasa belanda) yang berarti nyanyian. Di Manganitu kelompok paduan suara ini berkembang sejak akhir tahun 1800 dengan sebutan sampregening. Diawal tahun 1900 Nn. C.W.S. Steller menawarkan diri menjadi pelatih sampregening jemaat kristen Paghulu. Lambat laun kesenian Eropa ini terinkulturasi dengan kesenian “tunjuke”, yang kemudian memunculkan kesenian masamper yang merupakan persilangan antara paduan suara gereja dan kesenian tradisional. Pengistilahan sampri sebagai paduan suara masih digunakan sampai tahun 1960-an. Bersamaan dengan itu sudah muncul istilah sampere yang menggantikan istilah tunjuke pada kegiatan mebawalase kantari.

Masamper terbentuk dari beberapa babakan berdasarkan jenis lagu yang dinyanyikan: Lagu pertemuan atau perjumpaan: Pada jenis lagu ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang bertemakan perjumpaan dalam suatu acara hayatan seperti perkawinan dan kematian. Jenis lagu ini mengalami perubahan dengan tema lagu perjumpaan secara umum.

Lagu rohani / pujian: Pada jenis lagu ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang bertemakan rohani. Termasuk aktifitas religius agama Sangihe maupun agam kristen.

Lagu-lagu bertemakan kepahlawanan: Pada jenis lagu ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang bertemakan kepahlawanan pahlawan Sangihe. Tetapi kemudian seiring dengan perkembangan muncul tema kepahlawanan nasional.

Lagu-lagu bertema sastra Sangihe: Pada jenis ini hanya dapat dinyanyikan lagu yang bermakna dan bernilai sastera tinggi, tidak boleh menggunakan kosa kata bahasa Sangihe sehari-hari.

Lagu percintaan: Pada jenis lagu ini mengambil tema cinta dan kasih sayang orang tua kepada anak, anak kepada orang tua, kepada sesama, kepada teman dan sahabat, kepada orang dewasa yang akan dan saling bercinta (pacaran), problema cinta muda-mudi, problem rumah tangga.

Lagu perpisahan: Babakan ini adalah babakan yang paling terakhir di mana acara masampere sudah selesai.

Editor : Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed