oleh

Mengenal Tarian Perawan Hingga Tarian Istana Orang-orang Sangihe Talaud

Gunde dalam sejarahnya, hanya ditarikan secara perorangan di kampung-kampung oleh para wanita yang masih perawan pada upacara perkawinan yang menggambarkan kesucian seorang wanita Sangihe.

Nico Somboadile, sedikit dari para penggali akar seni tari tradisi ke panggung seni tari modern Indonesia. Ia jenial mengeksplorasi seni tradisi dari beragam budaya Sulawesi Utara menjadi pertunjukan seni modern yang berkelas. Mantan Penilik Kebudayaan di Kecamatan Manganitu, Sangihe itu, kini mengasuh Sanggar Seni Senggighilang di Manado. Berkali-kali karya koreografinya menjuarai festival tari Indonesia.

Apa sesungguhnya yang khas dari grup seni asal Sulawesi Utara ini? “Kekuatan akar tradisi,” ungkap salah seorang maestro seni yang dimiliki Sulawesi Utara itu saat diwawancarai penulis pada 2018, di Manado.

Di Sanggar Seni Senggighilang, kata dia, musik tradisional juga dieksplorasi menjadi musik kreatif modern dengan citra keunikan tradisi yang tetap saja kental. “Seperti juga musik, tari telah hidup dalam kurun ribuan tahun di Nusa Utara dan telah menjadi bagian dari sejarah kebudayaan bangsa bahari itu. Ada nilai filosofi dalam setiap gerak dan komposisinya yang menggambarkan citra kepribadian masyarakatnya,” ungkapnya.

Di Nusa Utara, khazanah tari-tarian boleh dikata berakar pada tarian Lide, sebuah tarian dalam kepentingan ritual. Tarian era pra sejarah itu kemudian berubah karakternya menjadi mesalai. Salai dalam bahasa Sangihe artinya menari. Di era mesalai, tarian itu dipentaskan secara spontan dalam acara-acara keramaian rakyat. Konsep utama mesalai adalah gerakan bebas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Kemudian waktu, lewat masalai, muncul ide-ide penggarapan tari Gunde.

Menurut keterangan A. Takaonselang , seorang budayawan Sangihe, pada 2006, pada sejarah awalnya, tarian gunde ditarikan secara perorangan di kampung-kampung oleh para wanita yang masih perawan pada upacara perkawinan yang menggambarkan kesucian seorang wanita Sangihe. Di sini terlihat perbedaan Lide yang dalam sejarahnya ditarikan oleh para wanita dewasa, sementara Gunde adalah tari yang dikhususkan untuk para gadis belia yang masih perawan. Ketidaktahuan akan sejarah dan esensi Gunde nampak terlihat pada sejumlah upacara adat Tulude yang digelar masa kini yang menghadirkan penari Gunde dari kalangan perempuan dewasa yang telah menikah bahkan sudah tua dan lansia.

Gunde yang pada awalnya berakar pada mesalai sebagai tarian rakyat, pada suatu masa diambil menjadi tarian istana di Kerajaan Manganitu. Sejak itu gunde menjadi bagian kesenian istana. Berdasarkan fungsi dan perannya dalam kehidupan sosial, khazana tari-tarian di Sangihe-Talaud dikelompokan dalam dua bagian yaitu, Tarian Istana dan Tarian Rakyat. Gunde dalam status sebagai kesenian istana, penari dipilih dari penari-penari terbaik di tiap kampung. Gerak dasar tari gunde versi istana tetap dipertahankan berakan lide. Mulanya tarian ini dipentaskan sebagai tarian hiburan untuk raja, kemudian berubah fungsinya menjadi tarian penjemput tamu penting kerajaan yang dilakukan di depan istana. Seiring perkembangan waktu, ada beberapa penari gunde istana lalu menjadi selir raja.

Tarian istana lainnya adalah Tari Rangsang Sahabe dan Tari Alabadiri. Tari Ransa atau Rangsang Sahabe juga disebut Dangsang Sahabe menurut sejumlah sumber, adalah tari yang tercipta dari sebuah sayembara. Tarian ini lahir dari lingkungan istana kerajaan tabukan tahun 1700. Disebutkan, pada saat itu terjadi kefakuman jabatan raja setelah Raja Don Fransiskus Yuda – I mengakhiri jabatannya. Untuk mengisi kekosongan jabatan maka di persiapkanlah satu lomba khusus kepada dua orang calon pengganti raja. Dua orang tersebut adalah Dalero dan Pandialang. Lomba yang disiapkan adalah lomba dayung (dorehe). Jalur yang ditempuh mulai dari Salimahe sampai ke Punge ( pulau Beng Laut).
Kompetisi itu terjadi kira-kira tahun 1720 dan dimenangkan oleh Dalero.

Dari kemenangan itu Dalero berhak menduduki tahta kerajaan Tabukan. Nama lain dari dalero adalah Markus Jakobus Dalero. Untuk memperingati kemenangan tersebut, Dalero menciptakan tari yang dinamakan tari Alabadiri.

Pandialang menduduki jabatan Jogugu di Sahabe menciptakan tarian tandingan yang disebut Rangsang Sahabe. Secara umum tari Alabadiri dan Ransang Sahabe memiliki kesamaan. Tari Alabadiri, dapat dikelompokam sebagai bentuk tarian teatrikal. Penari membawakan peran dari sebuah cerita dalam bentuk gerak tari. Tari Alabadiri terbentuk dari 10 tahapan dengan konsep tari dan cerita yang berbeda. Tari Alabadiri menggunakan beberapa properti pendukung tari seperti, kulubalang, kaliau, tokoting, sinsing, sondang. Tarian ini khusus dimainkan oleh laki-laki diiringi “tambor” (bukan tagonggong) dan dipimpin oleh seorang pangataseng dan dua kapita. Filosofi utama tarian ini bermakna “tunduk dan patuh pada penguasa”.

Tari istana lainnya adalah Upase. Tarian Upase menggambarkan kesiapan pengawalan raja dalam setiap peperangan. Tarian ini disebut juga Opase. Juga tari Bangko (Bengko), diadaptasi dari peran prajurit kerajaan Tabukan dalam mengawal raja. Tari ini menggambarkan kesiapan pasukan perang dalam menghadapi musuh. Dalam bahasa Sangihe, bengko berarti tombak.

Sementara tarian rakyat diantara Salo. Salo berarti mengamuk. Tari salo sudah ada sebelum adanya kerajaan-kerajaan di Sangihe. Tarian ini berasal dari era ritual Sundeng. Prosesi salo dilakukan dengan cara mengelilingi korban persembahan dalam upacara Sundeng. Diiringi bunyi-bunyian musik etnik Sangihe sambil menikam babi yang tergantung di pohon. “Tari salo lahir sebagai ekspresi perang antara kebaikan dan kejahatan dalam kepercayaan sundeng,” ungkap G, Makamea.

Tarian rakyat lainnya yaitu Tari Ampa Wayer. Dalam kisahnya, di era tahun 1940 – an, lahir sebuah kesenian rakyat baru yang disebut “Ampa Wayer”. Kesenian ini adalah kesenian rakyat yang muncul dari kepulauan Siau. Kesenian ini merupakan adaptasi dan perpaduan dari kesenian Eropa dengan kesenian setempat. Tarian ini sudah berkembang sejak masa penguasaan Spanyol di kerajaan Siau dan menemukan identitasnya menjelang berakhirnya perang dunia ke – II. Ampa wayer adalah gerak tari kelompok yang dipimpin oleh seorang kapel. Gerakan tari terbentuk berdasarkan irama musik pengiring. Pada dasarnya, inti dari kesenian ini adalah tarian muda-mudi yang ditarikan secara spontan dalam kumpulan keramaian sebagai bentuk ekspresi kebebasan dan kemerdekaan.

Editor: Iverdixon Tinungki

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed