oleh

Siapkah Manado Melawan Corona? Beberapa Data Statistik dan Sejarah (Bagian 2/habis)

-Opini-1.396 views

Oleh: Haryanto, Nono SA Sumampouw, Alex John Ulaen, Rd. Donny Kuncoro Lelono (Shaad Research and Development)

Bagaimana Dengan Manado?

Dalam menghadapi Covid-19, kita tentu tidak berharap akan menghadapi situasi darurat seperti halnya Jakarta. Tetapi jika melihat data statistik perkembangan kasus, bisa jadi kita akan menghadapi skema penyebaran virus yang lebih dahsyat dari yang kita bayangkan selama ini. Pada bagian ini kami akan menyajikan suatu data demografis yang memiliki hubungan dengan bidang kesehatan di Kota Manado, terutama dengan penekanan-penekanan populasi yang terhubung langsung dengan situasi epidemi-pandemi atau penyakit menular (terutama kepadatan penduduk), fasilitas kesehatan dan penyakit yang diderita. Basis yang kami gunakan adalah data BPS tahun 2019.

Jika kita mengandaikan bahwa Covid-19, merupakan virus yang potensial berjangkit melalui ‘kontak’ atau ‘sentuhan’ baik langsung maupun tidak langsung, maka kepadatan penduduk menjadi relevan di sini. Jumlah penduduk Manado ada pada angka sekitar 530 ribu dan dengan luas wilayah sekitar 157 km2, maka kepadatan penduduk kota ini mencapai 3.412 jiwa/km2.

Sementara Jakarta, sebagai wilayah terpapar paling parah ada pada angka sekitar hampir mencapai 16.000 jiwa/km2. Jika kita membuat rasio dalam skala kota dibandingkan dengan Jakarta, maka akan timbul angka sekitar 1:4,68, sederhananya kita bulatkan menjadi 1 berbanding 5.

Artinya, dalam satu luas ruang yang sama, katakanlah ruang itu sebentuk kamar, maka dalam kamar tersebut akan diisi oleh 1 orang di Manado dan 5 orang di Jakarta. Dalam artian kebijakan social atau physical distancing, Manado memiliki keuntungan dibandingkan Jakarta, terutama pada arti ‘kontak’ dengan sesama manusia ataupun secara tidak langsung terutama melalui barang atau properti tertentu dimana virus itu menempel.

Tetapi, pada satuan administratif lebih kecil atau spesifik, misalnya kecamatan, rasio kepadatan penduduk ini tidak selalu sama. Luas wilayah menunjukkan, Mapanget merupakan kecamatan terbesar (49,75 km2), kemudian berturut-turut disusul: Bunaken (36,19 km2), Malalayang (17,12 km2), Bunaken Kepulauan (16,85 km2), Paal Dua (8,02 km2), Wanea (7,85 km2), Tikala (7,10 km2), Singkil (4,68 km2), Tuminting (4,31 km2), Wenang (3,64 km2), dan Sario (1,75 km2).

Data tersebut berkorelasi secara langsung dengan kepadatan penduduk, yang berturut-turut terdiri dari: Sario (17.009 jiwa/km2), Tuminting (14.660 jiwa/km2), Singkil (12.793 jiwa/km2), Wenang (11.517 jiwa/km2), Wanea (9.713 jiwa/km2), Paal Dua (7.207 jiwa/km2), Tikala (5.082 jiwa/km2), Malalayang (4.535 jiwa/km2), Mapanget (1.210 jiwa/km2), Bunaken (732 jiwa/km2), dan terakhir Bunaken Kepulauan (435 jiwa/km2).

Melalui data di atas, dengan asumsi situasi infeksius dalam kondisi pandemi atau epidemi adalah lewat kontak dari penderita baik langsung maupun tidak langsung, maka wilayah paling padat merupakan ruang paling potensial untuk terjadi kontak antar manusia. Situasi ini terjadi karena ruang hidup antar manusia memungkinkan mereka lebih berdekatan satu sama lain.

Sementara, kepadatan penduduk yang lebih longgar memiliki potensi infeksius kontak antar manusia lebih kecil. Lewat sudut pandang tersebut, dapat diketahui bahwa Sario adalah kecamatan dengan potensi infeksius tertinggi antar manusia, dimana kepadatan penduduk di wilayah ini bahkan lebih padat dari rata-rata kepadatan penduduk DKI Jakarta. Begitu seterusnya hingga yang paling kecil. Sementara, lewat asumsi ini, suatu ruang hidup yang lebih longgar tingkat kepadatannya memiliki potensi terpapar lebih ringan, dimana Kecamatan Bunaken Kepulauan adalah yang paling kecil potensinya dari sudut pandang ini.

Pada sudut pandang lain, jika kita memperhatikan pernyataan medik bahwa Covid-19 dapat diperparah karena adanya penyakit penyerta, terutama yang berhubungan dengan paru-paru atau pernafasan, maka kita dapat melihat kecenderungan 10 besar penyakit yang diderita oleh warga kota Manado berdasarkan data statistik tahun 2018.

Tercatat ada 97.544 kasus penyakit dengan 10 besar keluhan sebagai berikut: (1) ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) sebesar 35,33% atau setara 34.460 kasus. (2) Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) 16,61%; (3) Gastritis (Peradangan Dinding lambung) 10,08 %; (4) Penyakit lain pada saluran pernapasan atas sebesar 8.04%; (5) Penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat, 7,01%; (6) Dermatitis (Peradangan pada kulit) sebesar 6,81%; (7) Penyakit Kulit Alergi 6,44%; (8) Diabetes Melitus, 4,02%; (9) Tonsilitis (Radang Amandel), 3,02 %; (10) Diare sebanyak 2,66%.

Dengan memperhatikan data tersebut, dapat diketahui bahwa faktor resiko penyakit yang langsung berhubungan dengan sistem pernapasan menempati posisi tertinggi yaitu sejumlah kurang lebih 43%, sebagai hasil penjumlahan antara ISPA dan penyakit lain pada saluran pernapasan atas. Dari sini dapat kita ketahui bahwa faktor resiko penyakit pernapasan berada di angka hampir setengah dari keseluruhan keluhan.

Selanjutnya, kita akan melihat sumberdaya medis dan kesiapan infrastruktur bidang kesehatan Kota Manado. Berdasar data tahun 2018, pekerja medis yang tercatat di Kota Manado berjumlah 1.289 orang dan terdiri dalam berbagai profesi dari dokter umum hingga ahli gizi. Dari proporsi umum ini, jika diambil rasio dengan penduduk kota Manado, maka setiap satu tenaga medis melayani setidaknya 411 orang. Ini rasio umum semata dan belum dibagi lagi secara khusus. Lebih terperinci, kita akan menemukan: 879 dokter, terdiri dari: dokter spesialis berjumlah 472; dokter umum 365; dokter gigi 42, kemudian tenaga kesehatan non-dokter terdiri dari perawat 246 orang; Bidan 101 orang; tenaga farmasi 29 orang dan Ahli Gizi 34. Rasio 1:411 sebelumnya, akan semakin timpang jika kita memisahkan tenaga dokter baik umum dan spesialis kemudian dibagi dengan jumlah penduduk kota, dimana setiap satu dokter akan melayani setidaknya 633 orang.

Sementara itu, ketersediaan infrastruktur kesehatan (Rumah Sakit dan Puskesmas) dapat kita lihat jumlahnya berdasarkan kecamatan. Untuk rumah sakit, di Malalayang terdapat setidaknya 3 Rumah Sakit (Prof. Kandouw, Kasih Ibu dan Ratumbuysang) total kapasitas tempat tidur ketiganya berjumlah 1.053. Kemudian kecamatan Wanea terdapat 3 rumah sakit (Bhayangkara, Advent, Wolter Mongisidi) ketiganya memiliki kapasitas 429 tempat tidur. Wenang terdapat 3 rumah sakit (Siloam, Kirana dan Pancaran Kasih) total kapasitas tempat tidur berjumlah 441. Tikala memiliki 1 rumah sakit (Permata Bunda) dan memiliki kapasitas 64 tempat tidur. Paal Dua memiliki 1 RS (Manado Medical Center) yang memiliki kapasitas 95 tempat tidur. Mapanget mempunyai 1 rumah sakit (TNI AU) berkapasitas 32 tempat tidur. Kemudian Tuminting memiliki 1 rumah sakit (Siti Maryam) berkapasitas 76 tempat tidur. Dimana kecamatan Sario, Singkil, Bunaken dan Bunaken Kepulauan tidak memiliki rumah sakit.

Secara keseluruhan, rumah sakit yang ada di Kota Manado menyediakan 2.190 tempat tidur untuk fasilitas rawat inap. Untuk fasilitas medis non Rumah Sakit: Malalayang (2 Puskesmas, 1 Rumah Bersalin dan 1 klinik kesehatan); Sario (1 Puskesmas); Wanea (2 Puskesmas); Wenang (1 Puskesmas dan 1 Rumah Bersalin); Tikala (1 Puskesmas dan 2 Klinik Kesehatan); Paal Dua (1 Puskesmas dan 1 klinik kesehatan); Mapanget (1 Puskesmas) Tuminting (1 Puskesmas dan 1 klinik kesehatan); Bunaken (2 Puskesmas), dan; Bunaken Kepulauan (1 Puskesmas).

Data-data di atas dapat kita sandingkan sebenarnya dengan keterangan resmi dari BNPB yang menyatakan dalam penanganan kasus Covid-19, Indonesia masih kekurangan dan membutuhkan setidaknya 1.500 dokter spesialis, terutama paru, anestesi dan dokter umum pranata laboratorium serta sekitar 2.500 perawat. Keterangan ini diberikan tanggal 26 Maret, dimana angka positif belum mencapai 1.000 orang. Atau misalnya, RS. Darurat Kemayoran tersedia 3.000 tempat tidur khusus untuk pasien Covid-19. Dalam rasionalisasi angka-angka tersebut, kita melihat bahwa Manado akan mengalami situasi yang jauh lebih sulit jika jumlah pasien positif bertambah dan skalanya semakin meluas, ini dikarenakan rasio tenaga medis yang timpang termasuk fasilitas kesehatan yang dimiliki.

Suatu kesimpulan sederhana yang dapat kita ambil dari data-data yang disajikan barusan adalah: kondisi demografis, tenaga dan fasilitas medis yang ada di Kota Manado benar-benar riskan jika kita menghadapi situasi Covid-19 yang lebih meluas dan tinggi. Sehingga pendekatan atau katakanlah penanganan medis dalam situasi positif Covid-19 baiknya dihindari, bukan hanya karena obat ataupun vaksin yang belum ditemukan. Dalam logika ini, justru penanganan non-medical atau preventif jauh lebih masuk akal dilakukan. Sehingga social atau physical distancing dan higienitas menjadi semakin penting dilaksanakan dengan baik, benar dan disiplin. Dalam kondisi semacam barusan, suatu kerjasama yang baik dari tenaga medis, pemerintah dan semua unsur masyarakat jauh lebih penting dari penanganan ketika telah ada kasus.

Pengalaman Pandemi, Epidemi dan Endemi

Secara historis, manusia tak pernah memiliki pengalaman tanpa berhadapan dengan wabah. Tahukah bahwa Manado, kota tempat kita bergerak saat ini merupakan suatu wilayah pemukiman baru yang penduduk awalnya ‘mengungsi’ dari pulau yang sekarang disebut Manado Tua karena diakibatkan wabah kemudian lambat laun berkembang menjadi pemukiman kota seperti sekarang ini. Begitulah catatan dalam artikel berjudul ‘De Manadoreezen’, yang keterangannya diambil dari sumber-sumber vernakuler atau oral. Dahulu, hingga masa kolonial ada pula desa bernama Talawatoe di Langowan. Akibat wabah, sekarang desa ini sudah tidak ada. Penduduk desa ini berpindah ke wilayah baru dan mengganti nama desanya menjadi Temboan.

Dalam skala Manado, katakanlah Sulawesi Utara, jangan pernah sekalipun berpikir bahwa ini adalah pengalaman pertama dan terbesar kita dalam menghadapi situasi wabah, dalam hal ini dapat diinterpretasikan sebagai epidemi, pandemi dan endemi. Kita pernah mengalaminya ratusan dan puluhan tahun lalu, beberapa dalam situasi lebih parah. Bahkan, pada abad 19, krisis epidemi yang parah terutama Malaria dan Kolera telah menyababkan penurunan populasi signifikan. Tetapi, dalam berbagai data historis, kita tidak membaca suatu pandemi, epidemi atau endemi terjadi terjadi dalam satu waktu di satu tempat dan satu komunitas tertentu. Pada abad ke-19, wilayah-wilayah ini menghadapi lebih dari sekedar pandemi, tetapi di waktu bersamaan juga menghadapi epidemi dan endemi.

Dari lintasan sejarah ini, tentu banyak yang berubah seperti situasi ekonomi, teknologi dan teknik pengobatan, kondisi sanitasi serta kondisi lingkungan semacam tutupan hutan misalnya, serta pula kondisi-kondisi politik yang mempengaruhi kebijakan. Selain tentu ada juga beberapa kesamaan dengan masa-masa itu, misalnya arsip-arsip juga memberi penjelasan mengenai adanya kebijakan karantina individual, komunitas ataupula wilayah yang juga mengerahkan tenaga-tenaga dokter militer dan dokter djawa (dokter-dokter pribumi).

Pada awal abad ke-19, populasi wilayah Minahasa (termasuk Manado ketika itu) mencapai kira-kira 100 ribu jiwa. Cacar atau dalam bahasa lokal disebut luti membunuh setidaknya lebih 15 ribu jiwa pada tahun 1817, dan kemungkinan suatu kombinasi dari kolera, disentri dan malaria sekitar 10 ribu jiwa pada awal 1830an. Berpuluh tahun setelahnya populasi Minahasa tidak pernah mencapai 100.000 jiwa hingga awal 1850an. Pada tahun 1854 kombinasi epidemi: disentri, kolera, campak yang dalam bahasa lokal disebut sarampa dan malaria menyebabkan kematian 10 ribu jiwa lebih. Populasi kemudian mulai mencapai angka 100 ribu jiwa kembali pada tahun 1860an. Laporan tahun 1819 (yang terhubung dengan hitungan tahun 1817) menyatakan ada 15.857 warga mengalami kematian diakibatkan oleh cacar. Ketika itu setidaknya 1 dari 6 orang mengalami kematian akibat wabah ini. Sekalipun angka kematian di tahun-tahun berikutnya masih tinggi, namun 1819 adalah tahun terakhir dari cacar sebagai epidemi di Minahasa sebelum diperkenalkannya vaksin.

Kita juga dapat melihat cholera morbus, sebuah pandemi yang muncul pertama kali pada tahun 1817 di Bengal. Penyakit ini disebabkan bakteri vibrio cholerae yang berjangkit diakibatkan oleh air yang terpolusi feces atau lewat transmisi indvidual. Wabah ini mencapai Minahasa Juni 1830 kemudian secara cepat menyebar dan menyebabkan kematian lebih dari 480 orang di berbagai wilayah berbeda. Setelah beberapa tahun mereda, wabah ini berubah menjadi epidemi regional pada 1867 dengan mencapai Kema dan Kampung China Manado, sekalipun umumnya wilayah-wilayah Minahasa relatif terhindar. Pada Agustus tahun yang sama, epidemi ini sampai di wilayah Sangihe-Talaud kemudian mendorong kematian yang diestimasi mencapai 1.500 jiwa.

Setelah tahun 1854, terjadi penurunan angka pasien kolera dan epidemi ‘non-cacar’ secara dramatis dari penduduk Minahasa yang tidak dapat dijelaskan dalam kerangka penanganan medis, yang akhirnya mendorong kesimpulan berbagai laporan bahwa perubahan perilaku masyarakat terhadap penyakit melalui peningkatan higienitas pastilah memainkan peranan kunci terhadap berita baik ini.

Selain wabah-wabah di atas, TBC atau tuberkolosis pada abad ke-19 dikenal sebagai ‘pembunuh yang signifikan’ di wilayah Minahasa, yang kemudian nantinya dikategorikan sebagai penyakit endemik. Suatu studi sejak paruh pertama abad ke-20 di akhir masa kolonial mencatat bahwa sekitar 16 % kematian orang dewasa di Minahasa diakibatkan penyakit ini. Karena itulah pada masa yang sama dibangun suatu sanatorium atau rumah sakit khusus pasien TBC yang saat ini kita kenal sebagai RS. Noongan di Langowan kabupaten Minahasa.

Berpindah pada penyakit yang kita hadapi sebagai epidemi dan endemi secara sekaligus selama ratusan tahun: Malaria. Pada abad ke-19 hingga ke-20 di masa orde baru, Manado dan sekitarnya seperti Minahasa, Kepulauan Sangihe-Talaud dan Bolmong dikenal sebagi wilayah endemi Malaria. Catatan-catatan perjalanan abad ke-19 menyatakan bahwa setiap pengunjung yang datang ke Manado (wilayah keresidenan Manado mencakup Sulawesi Utara dan Tengah di masa itu) pastilah mempertaruhkan hidupnya karena amat sangat mungkin terjangkit Malaria. Dalam periode 1930an, endemi malaria bahkan menurunkan populasi manusia di wilayah Bintauna dan Dumoga. Dumoga kehilangan lebih dari 5.000 penduduknya dalam dekade yang sama diakibatkan malaria.

Banyak hal yang menyebabkan malaria bertahan sebagai endemi selama ratusan tahun dan dengan didukung kondisi berbeda-beda. Malaria di wilayah dataran rendah dan pedalaman merupakan suatu tipe yang berbeda karena disebabkan oleh nyamuk anopheles berbeda sebagai pembawa parasit plasmodium falsiparum. Selain karena sifatnya yang ‘menjangkit’, angka malaria juga menjadi tinggi termasuk karena perubahan lingkungan atau dalam hal ini tepatnya deforestasi, yaitu menurunnya secara besar-besaran wilayah tutupan hutan alami mulai dari periode 1830an yang menyebabkan semakin banyak dan beragamnya spesies nyamuk anopheles di Sulut.

Dalam masa ratusan tahun tersebut, di Sulawesi Utara, malaria benar-benar nanti bisa ‘dikendalikan’ ketika sudah memasuki masa orde baru. Sebagai penanganan, pemerintah Hindia-Belanda pernah mendistribusikan quinine sulphat atau obat anti-malaria secara gratis lewat depot-depot yang diproduksi oleh pabrik obat-obatan di Bandung di paruh pertama abad ke-20. Laporan penggunaan quinine yang efektif pada abad sebelumnya datang juga dari Tonsea yang menyatakan adanya epidemi demam yang menjangkiti 500an orang, dimana terjadi kemajuan yang cepat setelah pasien mengkonsumsi quinine.

Beralih pada masa pemerintahan Indonesia, malaria di Sulawesi Utara masih saja jadi endemi. Penanganannya bahkan mendorong dibentuk badan khusus pada tahun 1962 yang disebut Komando Operasi Pembasmian Malaria, disingkat KOPEM. Diisi oleh 20 orang staf dan didukung 4 kendaraan dinas, jumlah yang relatif banyak ketika itu jika dibandingkan terbatasnya staf yang dimiliki. Lembaga ini berdiri hingga tahun 1968 dan setelahnya kebanyakan dari staf direkrut oleh kantor urusan kesehatan tingkat provinsi. Selama masa ini hingga orde baru, pendekatan yang digunakan adalah edukasi, penyemprotan insektisida, termasuk distribusi obat chloroquine dan fansidar secara gratis. Hingga kemudian ada laporan pada tahun 1980an dimana penyemprotan insektisida dan obat-obatan dalam kandungannya yang standar saat itu menjadi menurun efektifitasnya karena serangga dan parasit malaria telah resisten walaupun tetap ditemukan laporan-laporan kemajuan di banyak wilayah dan memulai membuat obat baru yang dapat mengatasi masalah resisten tersebut. Dalam tahun-tahun penanganan di masa orde baru tersebut bahkan pernah dilaksanakan suatu penelitian mengenai malaria yang melibatkan angkatan laut Amerika Serikat. Akhirnya, malaria kemudian dapat dikendalikan pada dekade 1990an.

Hal menarik dari penanganan malaria, juga demam secara umum, adalah pada berbagai laporan, ditemukan bahwa masyarakat setempat juga menghadapinya dan mengembangkan suatu pengetahuan farmakologi lokal atau ethno-farmakologi, yaitu pengetahuan mengenai obat-obatan yang diambil dari lingkungan sekitar, dan biasanya berupa tumbuh-tumbuhan, dalam laporan oleh seorang dokter pemerintah di masa itu bahkan mengomentarinya sebagai sebuah ‘keajaiban’, sekalipun pengujian terhadap efektifitasnya adalah persoalan lain. Laporan dari kepulauan Sangihe menunjukkan adanya 5 tumbuhan yang digunakan sebagai obat demam, termasuk jenis jamur Pachima (Lentinus) Tuber-regium dan daun dari pohon jenis crataeva magna. Masyarakat Bolmong menggunakan biji dari pohon yang berasal dari genus xylocarpus, tetumbuhan di hutan rawa yang diidentifikasi tahun 1933 sebagai penanganan lokal untuk malaria. Masyarakat Minahasa menunjukkan rotan-rotan liar yang digunakan untuk menghadapi demam dan tercatat ada 16 jenis yang terdiri dari genus Korthalsia dan Calamus.

Selanjutnya adalah catatan mengenai salah satu pandemi paling menyesakkan dunia dan kakek buyut Covid-19: flu Spanyol yang memiliki nama ilmiah H1N1. Kejadian ini melebar di seluruh dunia hampir bersamaan dengan berakhirnya The Great War atau Perang Dunia I. Pandemi ini menjangkiti setidaknya 500 juta populasi atau sekitar seperempat jumlah penduduk bumi saat itu. Estimasi angka kematian mencapai 17-50 juta, bahkan dapat mencapai 100 juta karena data yang ‘dihaluskan’ akibat perang dunia. Indonesia yang ketika itu masih bernama Hindia-Belanda juga menghadapinya. Laporan menyebutkan, pandemi ini menyebabkan setidaknya 1,5 juta kematian.

Di Sulawesi Utara, Bolmong adalah wilayah paling terdampak dari pandemi ini yang dilaporkan mengambil beberapa ratus nyawa dan mengakibatkan kematian 112 orang dewasa di sebuah desa. Dalam kaitan dengan ini, wilayah yang paling berdekatan dengan Bolmong dan mendapat dampak terbesar ketika itu adalah juga Gorontalo yang menghadapi tingkat kematian mencapai 10 sampai 11 persen dari populasi. Wilayah-wilayah Minahasa juga menghadapi pandemi ini, bahkan dikategorikan sebagai kejadian luar biasa, status yang sama seperti masa sekarang ini. Tetapi, keterangan mengenai angka kematian yang diakibatkan olehnya nampak kecil karena ada berbagai jenis demam dan penyakit-penyakit endemik yang juga mengakibatkan kematian.

Pelajaran-pelajaran dari Data dan Sejarah

Sebagai suatu komunitas bersama, kita dapat mengambil beberapa simpulan serta belajar dari data-data statistik dan sejarah seperti yang dipaparkan. Dalam skala nasional, data-data statistik sebenarnya menunjukkan angka, (potensi) sebaran yang kritis dan tidak menggembirakan. Untungnya, sejauh ini, statistik di Sulawesi Utara cukup baik dalam arti ‘masih tertahan’ dalam hal jumlah pasien dan angka kematian. Tetapi, dengan asumsi kondisi (dan dengan begitu datanya secara otomatis) begitu cepat berubah diimana Manado ditempatkan sebagai ‘pusat penanganan’ pada skala provinsi, maka data kondisi kecenderungan penyakit masyarakat, fasilitas kesehatan serta sumberdaya medis secara umum sebenarnya cukup rentan. Karena itu, pendekatan-pendekatan non-medikal sebenarnya justru jauh lebih diperlukan untuk tetap ‘menahan’ angka-angka statistik dan membuat fasilitas serta sumberdaya medis untuk kebutuhan pandemi ini tidak sampai digunakan secara maksimal, apalagi overload.

Pengalaman historis setidaknya telah menunjukkan hal tersebut dalam menghadapi wabah di daerah ini. Dimana ‘perubahan perilaku’ lebih efektif daripada penangangan-penanganan medis. Pada perspektif ini, sumberdaya-sumberdaya medis tentu saja mendapat peran teramat penting, namun dari sudut masyarakat secara umum, bijaksana bagi komunitas-komunitas untuk menempatkan penanganan medis sebagai jangkar atau alternatif terakhir ketika kita telah terpapar. Sehingga, penerapan jarak fisik dan kepedulian terhadap higienitas serta daya tahan tubuh teramat penting. Melalui sudut yang sama pula, diketahui bahwa membangun solidaritas bersama sebagai komunitas menjadi penting dan justru semakin terdorong di masa-masa sekarang ini, dalam bahasa Manado baku mangarti juga baku bantu. Misalnya yang kita lihat dari para relawan serta dermawan yang peduli dari hal-hal membuat serta membagikan masker kain hingga mengumpulkan bahan kebutuhan pokok yang dibagikan kepada kelompok paling rentan. Sehingga, simpul komunitasnya bukan hanya terbatas pada petugas medis dan pemerintah semata, ada para pekerja dalam berbagai bidang, pewarta media, akademisi, pembuat makanan, supir gojek, pengambil kebijakan, pengusaha, pekerja bidang informal, serta semua kelompok umum yang memberi perhatian pada pembatasan-pembatasan perilaku yang mana patut dilakukan dan mana yang memiliki resiko tinggi terpapar.

Dari sudut pandang berbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama antropologi, sejarah, ilmu lingkungan dan biomedik itu sendiri, manusia telah membuktikan diri sebagai makhluk paling adaptif dalam artian menghadapi kondisi genting untuk bertahan, melewatinya dan melanjutkan eksistensinya. Dalam kondisi semacam ini, memang ada pula sudut pandang bahwa bumi sedang ‘memperbaiki serta memperbaharui diri’, tetapi, manusia juga merupakan bagian dari ekosistem bumi tersebut, dan dengan demikian manusia dalam menghadapi situasi pandemi ini juga ‘memperbaiki serta memperbaharui diri’. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed