oleh

Siapkah Manado Melawan Corona? Beberapa Data Statistik dan Sejarah (Bagian 1)

Oleh: Haryanto, Nono SA Sumampouw, Alex John Ulaen, Rd Donny Kuncoro Lelono (Shaad Research and Development)

Kami menulis artikel ini bukan dalam artian sumbang saran dari perspektif medis, tetapi lebih menempatkannya dalam kerangka non-medical analysis. Sehingga tentu saja ada banyak aspek yang terlewat dan tidak spesifik seperti ekonomi, sosial-budaya (misalnya kebijakan jarak fisik/sosial), kebijakan, politik, infrastruktur dan ketersediaan sumberdaya (misalnya APD dan fasilitas medis spesifik), sistem perawatan kesehatan dan aspek lain yang mau tidak mau sudah menjadi bagian dari kondisi multi-layer Covid-19.

Penekanan kami ada pada aspek statistika demografis untuk melihat kasus Covid-19 dalam berbagai skala, dari global hingga ke tingkat Kota Manado. Tujuannya sederhana, sebagai sumbangsih untuk lebih mawas diri, melihat kasus ini dengan lebih jernih dalam skala eagle-eye, serta memikirkan dengan benar serta cepat dan tepat untuk mengambil keputusan baik dalam arti kebijakan atau malahan bisa keputusan personal, misalnya yang berhubungan dengan mobilitas antar manusia atau tepatnya bepergian ke daerah tertentu atau bahkan keluar rumah.

Kondisi Global, Nasional, Sulut dan Prediksi Lockdown

Sejak Desember tahun lalu, Covid-19 yang telah ditetapkan sebagai Pandemi telah berkembang menjadi keresahan dan isu paling penting di dunia. Baik dalam arti kebijakan, kondisi ekonomi dan situasi sosial, tiap negara memiliki pendekatan masing-masing untuk menyikapi persoalan ini.

Dari beragam data yang ditampilkan berbagai lembaga dunia seperti John Hopkins University, Harvard University, Florida niversity, situs Worldometer dan WHO. Kami sendiri menggunakan data resmi WHO dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) serta lembaga-lembaga resmi pemerintah untuk menyajikan data serta analisa mengenai kondisi Covid-19, terutama hingga mengerucut ke kondisi di Kota Manado.

Berdasar data WHO per tanggal 31 Maret pukul 05.47 GMT+8 atau WIB, telah dikonfirmasi 697.244 pasien positif, dengan tingkat kematian mencapai 33.257 pasien atau 4,77% secara global. Angka tersebut, lebih rendah sekitar 5% dibandingkan wabah SARS November 2002-July 2003 (berlangsung selama 9 bulan) yang memiliki rerata tingkat kematian mencapai 9,6% secara global, dengan rentang terendah di tiap negara ada di angka 7% dan tertinggi 17%. Ini bisa disandingkan dengan tingkat kematian dalam kasus Covid-19 –perlu disadari bahwa kasus ini masih berlangsung, sehingga kondisi data masih berubah-ubah-. Di banyak negara angka kematian masih di bawah 1% (seperti Singapore, Arab Saudi, Israel, Vietnam, Selandia Baru, dll.), beberapa negara atau wilayah terpapar masih belum ada angka kematian, dan tingkat kematian tertinggi bermain antara angka 10 dan 11 persen (terutama Italia). Sementara, pandemi ini telah menghantam 204 negara dan/atau kawasan, berarti telah melewati jumlah negara yang tercatat di PBB yaitu 195 (193 negara dan 2 negara pengamat).

Setelah sejak awal kasus ini kita melihat China sebagai pusat Pandemi, dimana kasus bermain di angka sekitar 81 ribu, sekarang peta global Covid-19 telah berubah dan pusatnya bergeser ke USA sejak hampir seminggu teakhir, dengan angka positif telah melewati 155 ribu kasus. Sehingga berturut-turut di urutan lima besar setelah negara adidaya tersebut adalah: Italia, Spanyol, China kemudian Jerman.

Indonesia sendiri menjadi negara dengan tingkat kematian tertinggi (sekali lagi tingkat, bukan angka, penekanan ini untuk menghindari penafsiran yang menakutkan) akibat Covid-19 di Asia Tenggara, Indonesia pernah juga menjadi tertinggi di Dunia lewat nilai 8,33% melewati Italia pada beberapa hari lalu.

Tentu memberikan penilaian terhadap kondisi Indonesia berbeda dengan melihat negara-negara yang memiliki dampak terbesar seperti China, Italia dan sekarang Amerika Serikat. Ini termasuk dalam semua aspek, bukan semata-mata aspek-aspek kuantitatif dalam bidang medis. Ada aspek geografis, demografis, struktur ekonomi, sistem pengambilan kebijakan, teknologi yang digunakan, sistem perawatan kesehatan, transportasi dan mobilitas penduduk antar negara serta di dalam daerahnya (ini termasuk jasa dan pariwisata), serta berbagai aspek lain.

Secara nasional, lewat saluran data resmi yang disediakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 30 Maret hingga pukul 15.32 WIB, dapat diketahui ada 1.414 kasus terkonfirmasi, 1.217 dalam perawatan (86,06 %), 75 kasus dinyatakan sembuh (5,30%) dan 122 meninggal (8,62%). Sejauh ini telah 31 provinsi terpapar atau 91,17% dari keseluruhan 34 provinsi yang ada di Indonesia dan hanya menyisakan 3 provinsi (8,83%) yang belum terpapar yaitu Bengkulu, Gorontalo dan NTT. Di ujung barat dan timur, Aceh serta Papua telah memiliki catatan mengenai pasien positif.

Dari jumlah tersebut, angka tertinggi ada di wilayah DKI yaitu 698 kasus atau mengambil porsi sekitar 49,36% dari keseluruhan kasus di Indonesia, atau benar-benar hampir setengah keseluruhan kasus. Angka tersebut kemudian diikuti berturut-turut Jawa Barat (180 atau 12,72%), Banten (128 atau 9,05 %) kemudian Jawa Timur (91 atau 6,43%), Jawa Tengah (81 atau 5,72%), Sulawesi Selatan (50 atau 3,53%), Bali (19 atau 1,34%) kemudian DIY (18 atau 1,27 %). Jika kita membentuk perimeter atau radius berdasarkan geografi kepulauan, berarti 84,55% keseluruhan kasus yang terkonfirmasi ada di Pulau Jawa dan dengan begitu selisihnya berada di luar pulau Jawa. Sementara, jika membuat perimeter berdasar geo-administratif, maka sekitar 71,13% kasus ada pulau Jawa bagian Barat yang meliputi provinsi DKI, Jawa Barat dan Banten. Dengan angka ini, jika kasus mengarah pada keadaan lebih genting, maka mengandaikan dilakukannya suatu kebijakan lockdown atau karantina wilayah administratif, sangat mungkin diterapkan di wilayah Jawa bagian barat atau jika diperluas akan melingkupi suatu Pulau Jawa. Kecuali kebijakan semacam ini dilokalisir pada suatu wilayah tersentralisasi (bisa jadi lebih dari satu sentral) dan pada satuan lebih kecil, misalnya Provinsi, Kabupaten, Kecamatan atau bahkan kelurahan/desa dengan potensi penularan dan kasus tertinggi. Tetapi, tentu saja kita berharap kondisi ini tidak sampai terjadi, karena itu berarti keadaan semakin memburuk.

Namun begitu, jika kita membandingkan persentase-persentase ini berdasar data sejenis per tanggal 26 Maret dari sumber yang sama (selisih 4 hari). Maka kita akan memperoleh adanya ‘migrasi kasus’ yang tergambar dari perbandingan persentase. Misalnya jika pada tanggal 26 maret ada 27 provinsi (79%) maka sekarang menjadi 31 provinsi terpapar (91,17%) atau naik 4 provinsi yaitu penambahan sekitar 12% provinsi terpapar. Selain itu, jika saat ini ada pada angka 84,55% (atau di angka sekitar 1.195 kasus) terkonsentrasi di pulau Jawa dan pada 26 Maret kasus di Pulau Jawa ada di angka 86,78%, maka ada ‘migrasi kasus’ sekitar 2% ke luar Pulau Jawa, artinya: jika mengambil asumsi kasus ini, ada sekitar hampir 24 kasus yang berpindah ke luar Pulau Jawa (hanya kasus di pulau Jawa saja yang dihitung). Jakarta pada tanggal 26 Maret persentasenya sekitar 57%, sekarang sekitar 49%, sehingga ada ‘migrasi kasus’ ke luar Jakarta di angka sekitar 8%. Jawa bagian Barat pada tanggal 26 Maret memiliki tingkat kasus 73,90%, saat ini per 30 Maret ada di angka 71,13%, sehingga selang 4 hari ada ‘migrasi kasus’ setidaknya lebih dari 2% keluar wilayah Jawa bagian barat. Dari sudut pandang ini, dapat diambil kesimpulan sederhana: secara nasional dan lewat isolasi sebaran statistikal berdasar geografis, kondisi semakin genting dan luasan Covid-19 semakin lebar.

Sementara itu, jika kita melihat data Covid-19 wilayah Sulawesi Utara, kita masih memiliki persentase yang relatif kecil dibandingkan kasus nasional. Data yang ada menunjukkan, bahwa sejak pertama kali diumumkan pada 14 Maret, angka pasien positif belum beranjak dari 2 dan/atau 3 pasien positif, dengan konfirmasi sembuh atau negatif setelahnya. Per tanggal 30 Maret, dapat diketahui ada 2 pasien yang dinyatakan positif atau sekitar 0,14% dari keseluruhan kasus nasional dan 1 pasien telah dinyatakan sembuh serta belum ada konfirmasi kasus kematian diakibatkan Covid-19. Ini data yang cukup baik sejauh ini, sekali lagi sejauh ini, tetapi bukan berarti kita harus jumawa. Telah baik rasanya menetapkan orang-orang yang datang dari wilayah-wilayah terpapar ODP dan dalam kasus kesehatan tertentu yang memiliki gejala-gejala (symptom-symptom yang sesuai dengan Covid-19) ditetapkan sebagai PDP, dimana jumlahnya sejauh ini mencapai ratusan dan terbagi ke tiap daerah kabupaten/kota. Namun begitu, prinsip kehati-hatian tetap harus diterapkan disini.

Pada sisi lain, jika kita merujuk data statistik secara nasional seperti yang telah di kluster per provinsi atau region pada bagian sebelumnya, maka dapat diketahui adanya kecenderungan ‘migrasi kasus’ atau pelebaran penyebaran. Sehingga perlu memperhatikan faktor lain yang mendasari yaitu mobilitas penduduk, dalam kasus ini karena jalur transportasi, terutama udara dan laut. Jika kita mengasumsikan bahwa suatu provinsi ‘zona merah’ di Indonesia adalah yang memiliki kasus di atas 1% (atau sekitar 14 kasus positif) dari kasus nasional, maka Sulut setidaknya memiliki 4 jalur penerbangan langsung dari wilayah-wilayah tersebut yaitu (didasarkan pada data dari situs travel terpopuler): DKI Jakarta (9 penerbangan langsung ke Manado/hari), Jawa Timur (Surabaya 1 penerbangan langsung ke Manado/hari), Sulawesi Selatan (4 Penerbangan langsung ke Manado/hari), Kalimantan Timur yang sejauh ini memiliki 17 kasus atau 1,20% kasus dari proporsi nasional (Balikpapan 1 penerbangan langsung ke Manado/hari) dan Bali (Denpasar 1 penerbangan langsung ke Manado/hari). Selain itu, provinsi-provinsi yang telah terpapar dan memiliki jalur penerbangan langung ke Manado adalah Maluku Utara (1 atau 2 Penerbangan langsung ke Manado tergantung hari) dan Papua Barat (Sorong, 1 penerbangan per hari), dimana propinsi Papua telah melakukan local lockdown dan meniadakan jalur transportasi udara dan laut ke Papua.

Jalur tranportasi yang perlu diperhatikan adalah pelabuhan Bitung dan juga Amurang yang sebelum berlabuh akan menyinggahi wilayah-wilayah dalam provinsi yang terpapar. Sementara itu, memperhatikan jalur darat yang dapat juga diasumsikan memberi sumbangsih terhadap penyebaran Covid-19 adalah jalur Bus dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah yang memiliki terminal di Malalayang, termasuk juga jalur-jalur darat lewat ‘taxi-taxi gelap’.

Sementara itu, dalam simulasi kondisi genting ini di Sulawesi Utara, ada kekhawatiran mengenai akan terpukulnya terutama kondisi ekonomi dan ketersediaan pangan yang memadai. Jawaban dari hal ini tentu pasti, karena seluruh dunia mengalami keterpukulan kondisi ekonomi, tak terkecuali provinsi ini. Dalam sudut pandang ini, dapat juga berarti suatu cara bagi Sulut untuk memperhitungkan kekuatan ekonomi hingga melewati masa sulit ini, yaitu setidaknya lewat menghitung kekuatan dalam kondisi subsisten (konsumsi kebutuhan primer semata) secara umum. Dengan memperhatikan laporan terakhir dari BI, yaitu dalam angka tahun 2019 mengenai Kajian Ekonomi Regional, maka diketahui jika merujuk data struktur ekonomi Sulut dari sisi pengeluaran, melalui sudut pandang ini, jika mengasumsikan terganggu atau macetnya gerak Impor dan Net-ekspor antar daerah, serta produksi ekspor ‘tertahan’ dan akhirnya menjadi komoditi konsumsi internal, maka Sulut mengkonsumsi lebih dari 80% kebutuhannya sebagai akibat produksi internal. Jika pula kita melihat dari Struktur Perekonomian Sulut dari sektor Lapangan Usaha, maka yang paling mungkin mengalami pukulan terdalam adalah sektor transportasi (11,20%), Industri (9,6%) dan Perdagangan (12,15%), artinya Sulut masih ditopang hampir 70% sektor lapangan usaha yang lain dimana topangan terbesar berasal dari sektor Pertanian (20,95%); serta 9 sektor lainnya (17,86%) serta Administrasi Pemerintah (7,99%). Artinya, secara umum kekuatan ekonomi kita cukup dapat bertahan dalam kondisi subsisten –bahkan pada dasarnya lebih dari arti ini- jika terjadi lockdown atau katakanlah karantina wilayah sendiri ataupun tertutupnya suatu hubungan dengan wilayah-wilayah lainnya. (bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed